Enjoy! Semoga suka.
Jangan lupa vote dan komentar.
Kamar tempat dirawatnya Adrian selama dua minggu terakhir terasa sepi dan menakutkan. Bahkan lebih menakutkan daripada rumah sakit dalam bayangannya selama ini. Kamar ini terlalu sepi. Setelah mengetahui kenyataannya, bahwa Emilia telah meninggal dunia, Adrian tak lagi menemukan sosok Emilia yang menghantuinya. Tidak dalam masa koma, tidak dalam keadaan sepi senyap, tidak ada lagi suara-suara yang menggema di dalam kepalanya.
Suasana menyedihkan ini justru diperkuat dengan keberadaan Ryan. Anak itu memang menunggui Adrian. Terkadang Ryan akan pergi jika William yang menggantikan. Namun Ryan tak pernah benar-benar di sini, ia terus mengabaikan Adrian. Meski begitu, Adrian mengerti jika Ryan butuh waktu sekedar untuk bicara dengannya.
Adrian pikir ini hanya bentuk tanggung jawab Ryan karena telah menyebabkannya berakhir di ranjang rumah sakit dengan dada yang dibebat. Adrian telah berusaha membuka pembicaraan, namun sepertinya Ryan enggan menanggapi.
"Apakah kau sudah punya pacar?" tanya Adrian pada Ryan yang sedang bermain video game. Ia melontarkan banyak pertanyaan pada Ryan supaya lebih mengenal putranya.
Seperti biasanya, Ryan hanya diam seolah Adrian tak pernah bicara dan ia tak punya kewajiban untuk menjawab.
"Apakah kau akan mendiamkanku terus?" tanya Adrian lagi. Ia telah melontarkan pertanyaan itu ribuan kali. "Kenapa tidak kau bunuh aku saja? Tidak akan ada pengaruhnya untukmu, aku sama-sama tak ada bagimu."
Ryan mendengus. Selama berminggu-minggu yang mereka habiskan bersama dalam suatu atmosfer yang sama sekali tak nyaman, baru kali ini Ryan menanggapinya meski hanya sebuah dengusan.
Bolehkah Adrian berharap?
"Aku bertemu Dave. Apakah kau kenal dia?" tanya Adrian.
Ryan menghentikan jarinya yang sedari tadi sibuk pada benda elektronik itu. Jadi Adrian mengasumsikan bahwa Ryan mengenalnya.
Adrian melanjutkan. "Dia akan membunuhku segera, kau tahu. Aku harus membawamu ke Indonesia karena itu adalah syarat yang ia ajukan ketika aku menanyakan keberadaanmu."
Ryan hanya diam.
Adrian tak mau menyerah. "Dia akan mengejarku hingga ia mendapatkan nyawaku. Di tanganmu atau di tangan Dave, aku sudah menerima takdirku berakhir di tangan orang lain. Tetap saja akhirnya aku hanya akan mati konyol. Aku memang salah, Ryan. Aku memang ayah yang buruk. Aku—"
"Cukup!" bentak Ryan. "Kau pikir aku akan tersentuh dengan kata-kata dramatis yang sama setiap harinya dari mulutmu? Cukup, Adrian. Sudahi saja. Aku muak mendengarnya!"
Adrian justru menarik senyuman. Air matanya bahkan turun dan Adrian tak mau menghapusnya. "Kau bicara padaku."
Wajah Ryan berubah cemberut. "Sial."
"Aku senang, kau tahu."
"Behentilah berpikiran cengeng. Aku tak mau punya ayah sepertimu."
Adrian mengusap air matanya dan melontarkan tawa. "Aku sudah tidak cengeng."
Ryan mengernyit. "Aku berubah pikiran, aku tetap tak mau punya ayah sepertimu. Ayahku hanya William Archer. Nama belakangku Archer. Kau hanya... kau..." Ryan mendengus lagi. "Kau hanya Adrian dan kau bukan siapa-siapa."
Dalam hati Adrian terenyuh. Putranya kini berbicara dengannya. Ini suatu kemajuan yang Adrian syukuri. Ia baik saja jika Ryan memakinya, ia tak kan mengapa Ryan memanggil hanya dengan namanya. Setidaknya Ryan menganggap Adrian ada, itu lebih dari segalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrender of Fault
RomanceSURRENDER SERIES #2 √ Completed √ ~ Bertahun-tahun sudah Adrian dihantui kesalahannya di masa lalu. Ia tak lagi bisa menjalin hubungan dengan wanita manapun ketika wanita di masa lalunya terus berada di pikirannya. Adrian butuh bantuan. Ia memutuska...
