21.30
Hari itu Rose pulang cukup malam. Bukan karena pekerjaan, hanya sekadar ngopi-ngopi dengan geng gosipnya di kantor. Namanya juga cewek (anggap aja Daehwi dan Seonho, si anak magang yang sama rumpinya, juga cewek), kalo gosip suka nggak inget waktu. Jadilah dia baru menginjak rumahnya pukul segini.
Saat masuk pekarangan rumahnya, dari jauh dia sudah melihat kalau ada sesuatu tergeletak didepan pintu rumahnya. Sambil mengernyitkan dahi, dia berjalan menghampiri sesuatu yang ternyata kotak tersebut.
'Coklat? Dari siapa? Mahal lagi nih coklat matcha favorit gue.' batinnya setelah membuka isi kotak tersebut.
Sebuah amplop kecil terselip ditengah kotak tersebut. Rose mengambil kemudian membuka dan mebaca isinya.
'I love you so much like you love matcha so much. Please forgive me. I miss you. I miss us.'
Tanpa ditanya pun Rose sudah tau siapa pengirim coklat itu. Dengan langkah cepat dia berjalan ke arah tong sampah dan membuangnya disana. Lalu dengan berlari dia segera masuk ke dalam rumahnya.
"Anjir, itu cowok udah balik ke Seoul? Kok jadi gue ngerasa diterror gini sih?!"
***
Sehabis mandi, Rose berbaring di kasurnya sambil menonton TV dengan santai. Tadinya ingin menonton channel drama favoritnya, tapi ke distract sama infotaimen yang ada di channel lain. Cowok gila yang mengiriminya coklat tadi ada di sana.
Goo Junhoe, nama cowok tampan yang pernah singgah di hatinya itu. Cinta pertama Rose jaman SMA. Cowok yang menjadi segala 'pertama' bagi Rose. Pacar, ciuman, bahkan 'itu' juga. Segalanya dia berikan pada cowok itu. Yah cinta monyet anak SMA masih masa jahiliyah kalau dipikir olehnya sekarang.
Cowok itu dulu begitu romantis. Begitu penyayang sampai Rose tidak pernah berpikir bahwa dia akan di tinggalkan. Cowok itu punya mimpi, dia ingin debut di sebuah manajemen artis sejak dulu. Memang sejak sekolah dia sudah menjadi trainee di sana, tapi hanya sebatas model. Lulus SMA pun dia tak melanjutkan ke jenjang universitas seperti Rose. Dia fokus meraih mimpinya sampai sekarang hingga dia debut di sebuah boys group yang sedang naik daun, iKON.
Rose semasa kuliah sudah cukup bersabar ketika Junhoe tidak menghubunginya sama sekali. Namun dia juga lelah dengan sikap cowok itu yang akhirnya seperti tak mempedulikannya. Sakit memang bila diingat, makanya dia sangat membenci cowok itu hingga sekarang. Trauma yang ditinggalkan juga membuatnya malas berurusan dengan cowok untuk sekarang ini.
Balik lagi ke infotaimen, ternyata berita yang disajikan adalah kepulangan para anggota grup tersebut ke Korea lagi setelah lama melakukan world tour.
"Nggak heran gue ada coklat depan rumah tadi. Lagian kok gue bego banget sih bisa gak tau kalo mereka udah balik?" Rose mengumpati kebodohannya sendiri.
Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk ketika dia sedang mengumpat tadi. Sebelum membuka pintu, dia mengintip sedikit dari jendela. Cowok dengan perawakan tinggi dengan rambut hitam ombre yang ditutup dengan topi sedang berdiri disana. Walaupun wajahnya tersembunyi di balik masker, Rose bisa mengenali sosok itu.
"MAMPUS GUE MAMPUS!!" Rose mengumpat sambil berbisik.
***
"Dan..." seorang cewek sedang menjambak halus rambut cowok yang sedang mencumbunya itu.
Daniel masih betah berada di ceruk leher perempuan itu. Cewek yang ditemuinya di after party beberapa minggu lalu. Dia bahkan tidak ingat namanya, hanya nomer telponnya saja yang disimpannya saat itu. Rejeki cowok ganteng kali ya, jadilah dia nyasar ke apartemen cewek yang diketahui salah satu model di acara kemarin itu. Kerdus emang, tapi pamali kalo nolak rejeki kan?
Daniel baru hendak berpindah dari ceruk leher itu ketika ponselnya berdering menyebalkan tanpa henti. Awalnya pesan beruntun, kemudian disusul dengan telpon.
"Fuck!" umpatnya karena tak tahan mendengar bunyi berisik itu. Daniel bangun dari sofa lalu meraih ponselnya yang ada di atas meja.
Rose is calling...
'Ngapain sih itu cewek berisik ganggu gue jam segini?' tanyanya dalam hati lalu menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.
"Gila ya, gue gak tau lo berisik di luar jam kantor juga. Kenapa sayang? Kangen lo sama gue?" potong Daniel menyindir sebelum Rose sempat mengucapkan 'Halo'.
"Euh...gue ganggu ya? Sorry deh, abis gue nggak tau harus minta tolong siapa?" jawab Rose sedikit berbisik.
Daniel mengernyit, nggak biasa ini cewek ngomong kayak gini.
"Buruan ngomong mau minta tolong apa? Kalo nggak penting, gue nggak mau tau lo harus jajanin gue di kafetaria seminggu penuh."
"Lo...bisa ke rumah gue nggak? Depan pintu rumah gue ada orang psycho ngetok-ngetok pintu. Gue takut diapa-apain. Sekali ini aja gue ngerepotin lo, gue janji."
"Mesti gue banget? Sekarang? Lagian masa orang psycho takut sama orang psycho?" Daniel berkata sambil melirik cewek yang sedang berbaring di sofa ruangan itu yang menatapnya ingin tahu.
"Terus gue minta tolong siapa? Daehwi? Yang ada mati di depan pintu itu bocah." Rose memutar bola matanya, mulai kesal.
"Ck, yaudah 15 menit lagi gue sampe rumah lo. Share location aja."
Daniel memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celana jeans nya. Dia meraih kaos hitam miliknya yang sudah terkapar di lantai sejak tadi sampai, lalu memakainya. Dia mengambil jaket dan sling bag serta kunci motornya.
"Kamu mau pulang?" tanya cewek itu dengan sedikiti nada sebal terdengar darinya.
"Maaf ya sayang, kapan-kapan kita lanjut. Aku ada urusan penting. Jangan ngambek dong." ucap Daniel sambil menunduk memberikan kecupan singkat di bibirnya.
"Janji ya kapan-kapan kesini lagi." kata cewek itu dengan nada, ewh, sok manja. Daniel hanya mengangguk lalu berpamitan dari sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Flirty Photographer
Fanfiction"Jadi, apakah jatuh cinta sama rekan kerja yang notabene fotografer yang ganjen bakal jadi kesalahan kedua terbodoh gue?" - Roseanne Park "Ngomel mulu sih lo, stylist bawel!" - Kang Daniel
