Trap HH

17K 1.2K 117
                                        

***

Hari berikutnya, Vincena kembali terjaga ditengah malam.
Namun kali ini dia bangkit dari ranjangnya dengan gerakan pelan, kemudian berjalan menuju pintu.

Dibukanya pintu kamar dengan sangat pelan dan hati-hati, nyaris tanpa suara.

Kemudian gadis itu berjalan mengendap dan mendekati Darren yang tertidur dengan pulas di sofa ruang tengah, seperti biasa.

*

Mata pria itu terpejam dengan nafas teratur.

Vincena melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Darren, dan tak ada reaksi apapun dari pria itu.

Gadis itu mengangguk puas.

Setelah dirasa cukup aman, Vincena masuk kembali kekamar dengan mengendap, dan mengunci pintu kamarnya dengan pelan tanpa ada suara sedikitpun.

Vincena bergegas mengambil ponselnya dan mencari-cari nomor Henry, kemudian menelfonnya.

Dengan sabar Vincena menunggu, namun Henry tak kunjung mengangkat telfonnya.

Tentu saja, karena ini sudah tengah malam. Henry pasti sedang tidur.

Namun gadis itu tetap bersikeras dan mencoba lagi untuk menelfon Henry.

Akhirnya Henry mengangkat telfonnya setelah empat kali ponselnya berbunyi.

"Yah... ada apa Vincena..?" Suara Henry terdengar sedikit serak seperti baru bangun tidur.

"Maaf aku mengganggumu" Vincena berucap dengan pelan.

"Iya, tidak apa-apa... memangnya ada apa tengah malam begini menelfonku...?"

"Aku... ingin menanyakan sesuatu padamu"

"Katakan saja..."

"Apa kau tahu Salvatorez?" Vincena berpikir mungkin saja Henry tahu, karena dia sepertinya pintar dan bersekolah dengan rajin.

"Apa?"

"Salvatorez." Vincena mengulanginya. "Kau tahu itu apa?"

Sejenak tidak ada sahutan dari Henry, kemudian dia menjawab, "Aku tidak tahu, Vincena. Mungkin itu nama suatu.... tempat?"

"Yah, kau tidak tahu ya..." Vincena mendesah kecewa.

"Iya, aku tidak tahu. Memangnya kenapa?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja. Ya sudah kalau begitu. Maaf mengganggumu malam-malam. Terimakasih, Henry"

"Ya, ya... tidak apa-apa..."

Vincena mematikan ponselnya. Henry sama sekali tidak tahu, tapi apakah benar itu nama suatu tempat?

Tiba-tiba Vincena ingat Aiden Trevor, teman sekelasnya sekaligus siswa terpintar di sekolahnya. Ya, mungkin saja dia tahu. Vincena bergegas mencari nomor Aiden kemudian menelfonnya.

Lama menunggu dan akhirnya Aiden mengangkat ponselnya pada panggilan kedua.

"Vincena???" Suara terkejut dari Aiden terdengar. Dia juga sepertinya baru terbangun.

"Iya ini aku" Bisik Vincena.

"Kau kemana saja selama ini??? Teman-teman dan semua guru menanyakanmu!"

"Iya, aku sedang ada urusan yang sangat penting. Jangan katakan pada siapapun kalau aku menelfonmu" Ucap Vincena masih dengan berbisik.

"Memangnya kau ada dimana sekarang??"

"Aku... berada di suatu tempat, tapi tidak bisa kukatakan sekarang. Nanti-nanti saja kujelaskan. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu"

"Menanyakan apa?"

"Kau tahu apa itu Salvatorez?"

"Salvatorez?"

"Iya, Salvatorez"

"Salvatorez...?" . Sejenak tak ada suara, sepertinya Aiden tengah berpikir. "Salvatorez.... Ah.. ya... ya... aku tahu..."

***

♡♡♡


TRAP...! ✔ [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang