------------------------------------
Lebih dari seminggu telah berlalu, semenjak tragedi malam itu.
Lokasi yang dulu menjadi saksi bisu megahnya bangunan hotel bintang tujuh, kini menjadi puing-puing sisa kejayaan yang tak utuh.
Lokasi yang dulu tempat berdiri gedung-gedung prestis, kini rata dengan tanah, dan hanya menyisakan tangis.
Korban yang masih ada bentuk jasadnya, diangkat badannya dari timbunan beton dan baja, yang saling menindih dan menimpa satu sama lain.
Korban yang bentuk jasadnya telah hangus menjadi abu, terbaur lebur dengan pasir dan debu.
Lokasi yang dulu hanya bisa memandang langit dari celah gedung, kini terbentang lebar.
Seolah langit menertawakan mereka, menertawakan pencakar langit yang dulu telah merebut hak kebebasannya.
Foto-foto dari para korban, baik mereka yang ada di hotel, mereka yang ada di bangunan sekitar hotel, sampai mereka yang hanya sekedar lalu lalang di sekitar hotel.
Dari undak paling dasar sampai undak paling puncak, sanak keluarga memasang foto anggota keluarga mereka yang menjadi korban.
Tak mau luput, mawar merah, mawar hitam, dan mawar putih turut hadir.
Menjadi perhiasan, menjadi permadani, menjadi wujud perasaan.
Untuk yang tersayang, untuk yang terkasih, untuk yang tercintai, untuk semua kenangan yang telah dilalui.
Sebagai penghormatan terakhir.
Tragedi yang membuat duka banyak orang.
Tragedi yang membuat banyak orang menderita.
Tragedi yang membuat kacau hiruk pikuk riuh semua orang.
Lima kepala daerah dan lima menteri terenggut nyawanya. Membuat geger seantero negeri. Kepala negara bingung, kepala pemerintahan bingung, sampai parlemennya pun ikut bingung.
Bagai menuang setetes racun dalam ember, air satu ember beracun semua.
Lantas, apakah ada penyesalan dalam benak ini?
Setelah melihat, setelah mendengar, dan setelah mengetahui apa-apa saja akibat yang terjadi?
Bisa iya, bisa juga tidak. Namun benak ini lebih memilih tidak.
Mengapa?
Benak ini memang telah menorehkan sebuah dosa besar. Tapi di saat yang bersamaan, benak ini tak patut dipersalahkan.
Memang, banyak manusia-manusia tak berdosa yang menjadi korban. Tapi, banyak pula manusia kotor berlumur dosa yang gugur.
Setidaknya, harga yang dibayar setimpal dengan hasil yang diterima.
Benak ini melakukan hal yang benar, dengan cara yang salah.
Benak ini tak patut dipersalahkan, karena tak sepenuhnya bersalah.
Tragedi malam itu membekas luka yang sangat dalam.
Di saat bersamaan, menghibah kepuasan batin yang menyenangkan hati.
Dua sisi, pada tragedi malam itu.
---------------------------------------
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma
FanfictionMafia AU! Sekian lama kita bersama Ternyata kau juga sama saja Kau kira ku percaya semua Segala tipu daya Oh percuma Kau buat sempurna, awalnya Berakhir bencana Selamat tinggal sayang Bila umurku panjang Kelak ku kan datang tuk buktikan Satu balas y...
