Rhyme In Peace - Aoba Johsai

646 70 0
                                        


"Masih tergambar jelas alunan takdir
Kita lewati malam dengan sebotol beer
Bicara, tertawa, bertingkah semaunya
Sudah saatnya kau tenang di alam sana"

"Sekarang kita harus bagaimana, Kunimi?"

Pria yang ditanya hanya bisa menggeleng lemah. Diam seribu bahasa. Karena ia pun juga tak tahu jawabannya.

Kindaichi menghela nafas panjang. Menundukkan kepala menahan air mata yang siap jatuh kapan ia mau.

Semua terjadi begitu cepat. Pagi hari mereka masih bersama. Siang hari masih sempat bercanda tawa. Sore hari mulai bersiap-siap seperti biasa. Lalu malamnya hilang begitu saja.

Masih terekam jelas di kepala. Olahraga pagi bersama. Membuat sarapan bersama. Membersihkan rumah bersama.

Rumah yang juga sebagai headquarter kelompok mafia Seijoh letaknya di perbatasan antara region Kanto dengan region Tohoku.

Dipilih agar tidak jauh dari pusat kehidupan Jepang, Tokyo, dan dekat dengan kampung halaman, Miyagi.

Teringat pula bagaimana leader mereka, Oikawa Tooru, menjadi bulan-bulanan empuk bagi mantan ace, Iwaizumi Hajime, karena suka tebar pesona disana dan disini.

Kedua senpai mereka yang suka jahil kepada anggota lain, Matsukawa dan Hanamaki.

Mad dog-chan yang sukanya bikin rusuh tapi selalu bisa ditahan oleh soon-to-be leader, Yahaba.

Keseharian mereka dengan orang yang itu-itu aja. Tapi dengan jalan cerita yang berbeda-beda. Benar-benar seperti sebuah keluarga.

Tapi semua berubah. Ketika malam itu, takdir memutuskan untuk memotong ikatan lahiriah mereka.

Berdua, yang nantinya akan menjadi penerus bisnis gelap ini, tak menyangka harus kehilangan dan memikul beban berat secepat ini.

Mereka masih bisa dikatakan belum siap. Walaupun sudah ikut senpai mereka sejak lama.

Mereka berdua bimbang. Masih belum begitu paham kehidupan mafia, tapi dipaksa harus paham dalam waktu singkat.

Itupun kalau mereka mau melanjutkan.

Kunimi beranjak dari duduknya. Menyalakan lampu lalu mematikan lilin-lilin kecil di sekitar mereka.

Berjalan menuju jejeran foto senpai mereka. Menatap sendu satu persatu kenangan yang telah mereka rajut.

"Sekarang kita harus bagaimana, Kindaichi?"

"Mungkin batu nisan pisahkan dunia kita
Namun ambisimu kan kujaga slalu membara"


--------------------------------------

TBC

KarmaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang