"Selamat tinggal (We love you my brother you'll always in my heart)
Tidur yang lelap (Even now and forever we'll always one blood)
Mimpi yang indah (Hope God give you heaven, may God be with you)
Slamat jalan"
---------------------------------
Mereka pulang.
Empat yang tersisa pulang ke kampung halaman membawa duka. Membawa apa yang tersisa, dari semua yang telah tiada. Tempat yang selama ini mereka anggap rumah kini luluh lantak rata dengan tanah.
Tak ada apa-apa lagi bagi mereka di Tokyo.
Harta milik kelompok hanya beberapa yang bisa diselamatkan. Itupun dalam bentuk yang sudah tak karuan.
Harta milik para senpai tak bisa mereka gunakan. Karena tak tahu password atmnya. Kalaupun ada, sudah diambil alih oleh keluarga atau kerabat dekat.
Semua rekan bisnis yang bekerja sama dengan Karasuno memutuskan hubungan sepihak.
Mereka protes.
Namun apa yang bisa mereka perbuat? Mereka sedang dalam kondisi lemah dan kritis. Berontakpun tak ada gunanya.
Dengan berat hati, menyerah ialah keputusan yang diambil.
Mereka pulang.
Meninggalkan semua kenangan yang mengikat mereka sebagai keluarga. Membuang semua memori yang terlalu indah untuk dilupakan.
Menapakkan kaki di kampung halaman. Tempat mereka tumbuh besar dan bertemu satu sama lain.
SMA Karasuno.
Tempat yang ditakdirkan menjadi saksi bisu pertemuan mereka. Pertemuan pertama yang mengawali karir mereka sebagai mafia besar Jepang.
Tempat yang masih sama seperti beberapa tahun lalu. Tak lekang dimakan waktu.
Hanya susunan kepengurusan dan organisasinya yang saja yang berubah. Masih terbesit di benak Hinata dan Kageyama akan wig milik kepala sekolah mereka yang kini sudah purna tugas.
Bicara mengenai Hinata, sesosok berambut oranye itu kini sedang berada di depan gerbang SMA Karasuno untuk menjemput adik perempuannya.
Jangan bayangkan Hinata yang sekarang sama dengan yang dulu. Hinata yang sekarang jauh lebih dewasa dan tampan. Badannya gagah dan tegap. Tingginya pun sudah di atas 170 cm. Sifatnya makin kalem dan tenang. Walaupun sifatnya yang bersemangat dan periang masih kerap ia tunjukkan.
Waktu masih menunjukkan pukul tiga sore. Masih ada sekitar satu jam untuk menunggu berakhirnya pelajaran.
Dengan seizin petugas keamanan, Hinata masuk ke area sekolah. Sesekali bertemu dengan mantan guru dan beberapa petugas sekolahnya yang masih bertugas. Berbincang sejenak melepas rindu dan saling tukar kabar.
Setelah puas berjalan-jalan di lantai bawah, Hinata memutuskan untuk berjalan ke atap. Tempatnya menenangkan diri saat ia duduk di bangku kelas 2 dan 3.
Sesampainya di atap, Hinata melihat beberapa murid tidur dengan lelapnya untuk bolos pelajaran. Hinata terkekeh kecil melihat kelakuan murid Karasuno yang sudah turun temurun dari dulu.
Manik oranye mengedar mencari spot yang bagus untuk menikmati cahaya matahari sore dan hembusan angin. Berjalan pelan sembari celingak-celinguk mencari spot yang dimaksud.
Saat berjalan, netranya tak sengaja menangkap sesosok perempuan berdiri di tepi atap dekat tralis. Tangan mungilnya bersidekap di depan badan. Dagunya terangkat sedikit. Matanya menatap lurus ke arah horizon tempat matahari akan beristirahat. Hembusan angin meniup rambut (hair color)nya hingga berkibar.
Hinata mengrenyitkan dahi. Seakan familiar akan sosok beberapa meter didepannya.
Merasa ada yang memperhatikan, perempuan itu menoleh. Netra (eye color) bertemu netra oranye. Keduanya sama-sama melebar saking terkejutnya.
Di antara keduanya, ekspresi terkejut sangat ditunjukkan oleh Hinata. Sedangkan si perempuan hanya melebarkan netranya sebentar lalu kembali tenang.
Bahkan kalau diperhatikan lebih detail, ada seringai tipis di bibir ranum perempuan tersebut. Mereka berdua pun saling memanggil nama satu sama lain di saat bersamaan.
"(NAME)?/Hinata..."
---------------------------
"Sampai bertemu Brother, di alam sana nanti
"Rhyme In Peace"
----------------------------
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma
Hayran KurguMafia AU! Sekian lama kita bersama Ternyata kau juga sama saja Kau kira ku percaya semua Segala tipu daya Oh percuma Kau buat sempurna, awalnya Berakhir bencana Selamat tinggal sayang Bila umurku panjang Kelak ku kan datang tuk buktikan Satu balas y...
