"Menurut kalian, nanti Yamaguchi yang di atas atau yang di bawah?"
"Kalo dia malu-malu sih pasti di bawah."
"Justru yang malu-malu itu lebih bahaya. Kalo dia udah mulai terangsang, ganasnya gak ketulungan."
"Atau si Yamaguchi pura-pura malu, ngebiarin si cewek ambil kendali. Terus pas si ceweknya capek, langsung deh si Yamaguchi beraksi."
Cekakak dan cekikik para perempuan yang jahil membayangkan malam pertama Yamaguchi memenuhi ruangan rias pengantin wanita.
Tak lengkap rasanya jika kita tidak mengetahui nama dari wanita yang sedang deg-degan saat ini. Tak enak pula jika kita terus memanggilnya dengan "si cewek", "pengantin wanita", atau "teman sekelas (Name)".
Akiyama Kaiyoshi. Perempuan dengan rambut warna coklat sebahu dan warna mata yang khas seperti orang asia tenggara. Tinggi badanya 159 cm. Sifatnya sangat mudah bergaul, percaya diri, dan pemberani.
Hubungan mereka bisa dikatakan unik karena sifat Yamaguchi dan Akiyama yang berbanding terbalik. Namun karena keunikan itulah, Yamaguchi berubah menjadi sosok yang lebih percaya diri.
Bisa dibilang, Akiyama adalah salah satu influencer bagi Yamaguchi.
Tok tok tok...
Pintu ruang rias terbuka, menampakkan sosok pria paruh baya dengan setelan jas formal. Semua perempuan yang ada menunduk hormat lalu beres-beres kecuali Akiyama.
Perempuan itu berdiri dari kursi rias dan menghampiri pria tersebut dengan senyum gugup. Berjalan hati-hati supaya gaun pernikahannya tidak kenapa-napa
Pria itu mengamit lengan Akiyama seraya tersenyum balik dan mengatakan, "Gak usah gugup. Semua akan baik-baik saja."
Akiyama menolehkan kepalanya ke arah para perempuan yang sudah membantunya berdandan. Ia menundukkan kepala tanda terima kasih yang disertai dengan senyuman tulus.
(Name), Natsumi, Hoshino, dan dua perempuan lain yang ada di ruangan itu membalasnya dengan cara yang beragam. Membuat Akiyama terkekeh kecil melihat kelakuan antik teman-teman sekelasnya.
Pria paruh baya tadi juga melakukan hal yang sama seperti wanita disampingnya sebelum pamit untuk mengantar putrinya ke altar.
Setelah sepasang ayah dan anak tadi keluar kamar, mereka berlima kembali mengecek ulang barang-barang bawaan mereka sebelum keluar kamar menuju ke ballroom hotel.
Skip Time
"Aku bersedia."
Sorak sorai memenuhi ballroom hotel berukuran kecil setelah janji suci selesai diucapkan.
Seperti yang sudah dikabarkan, bahwa tamu yang datang jumlahnya terbatas bahkan sangat sedikit kalau bisa dibilang.
Dari pihak keluarga, hanya keluarga inti Akiyama dan Yamaguchi yang datang. Keluarga inti yang dimaksud yaitu bapak, ibu, saudara kandung, ditambah seorang kakek dari keluarga Akiyama.
Dari pihak nonkeluarga kedua mempelai, hanya teman yang benar-benar dekat yang datang. Teman sekelas mempelai wanita ditambah teman satu tim voli dari mempelai pria.
Saat teman-teman yang lain memilih duduk di barisan tengah di belakang barisan keluarga, (Name) memilih untuk duduk di barisan paling belakang. Bukan karena apa, tapi ada tujuannya.
(Name) pandangi wajah-wajah bahagia didepannya. Senyum bangga dari para ayah. Tangis bahagia dari para ibu. Seorang kakek yang tertawa sumringah dengan gigi ompongnya. Cewek-cewek yang masih bersorak menggoda kedua mempelai.
Pandangannya beralih kearah sosok yang paling menonjol dari yang lain. Paling menonjol karena ia yang paling tinggi di antara yang lain.
Berambut pirang dan berkacamata. Siapa lagi kalau bukan sang mantan.
(Name) memandang nanar sosok Tsukishima yang membelakanginya. Meskipun terbalut pakaian formal, (Name) bisa melihat kalau punggung sang mantan makin kokoh dan lebar. Tidak sekurus saat mereka berpacaran.
Di samping Tsukishima ada seorang wanita yang rambutnya disanggul. Tingginya sebahu Tsukishima. Dibalut dengan dress sederhana dengan warna senada dengan tuxedo yang dikenakan pria pirang jangkung disebelahnya. Tanpa ditanya, (Name) sudah tahu siapa wanita itu.
Kilas masa lalu terbayang. Masa lalu yang membuat (Name) berubah menjadi sosok sadis seperti sekarang. Masa lalu yang (Name) harap tidak pernah terjadi.
Lamunan (Name) buyar ketika tangannya ditarik oleh seseorang. Ia melihat Natsumi yang tersenyum sembari menariknya ke depan.
Ciwi-ciwi yang tadi membantu di ruang rias sedang berbaris menghadap ke altar. Yamaguchi dan Akiyama membelakangi mereka. Keduanya bersamaan memegang sebuah buket bunga.
(Name) antusias begitu mengetahui apa yang akan terjadi. Ia pun ikut-ikutan heboh dengan empat temannya yang lain.
Ketika bunga dilempar, kehebohan pun terjadi. Mereka yang tidak ikut di depan altar tertawa melihat lima orang perempuan saling berebut ambil posisi strategis agar bunga tersebut jatuh ke tangan mereka.
Bunga jatuh ke tangan Natsumi. Perempuan yang lain makin heboh dengan menggoda perempuan berambut pirang tersebut. Hinata juga tak luput dari sorak godaan para perempuan ketika pacarnya mendapat bunga.
Bahkan salah satu dari mereka berteriak, "ditunggu ena-enanya!!". Otomatis suasana makin pecah.
Di tengah kegembiraan hari itu, (Name) tak sengaja beradu pandang dengan Tsukishima dan pacarnya. Bukan, lebih tepatnya tunangannya.
Sepasang kekasih itu tersenyum kecil seraya menatap (Name) dengan rasa bersalah yang amat sangat. (Name) yang ditatap seperti itu hanya balas tersenyum. Mengangguk kecil memberi isyarat bahwa semua sudah beres dan baik-baik saja.
(Name) memalingkan wajahnya dari Tsukishima dan tunangannya. Raut bahagia masih terlukis diwajahnya. Memilih tak ambil hati atas kejadian barusan.
Toh pada akhirnya mereka akan merasakan batunya.
------------------------
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma
FanfictionMafia AU! Sekian lama kita bersama Ternyata kau juga sama saja Kau kira ku percaya semua Segala tipu daya Oh percuma Kau buat sempurna, awalnya Berakhir bencana Selamat tinggal sayang Bila umurku panjang Kelak ku kan datang tuk buktikan Satu balas y...
