"Cutimu selesai kapan?"
(Name) dan (B/f/n) tengah tiduran santai di kasur milik (Name) sambil menatap layar smartphone masing-masing. Selama di Miyagi, (B/f/n) menginap di rumah (Name).
(B/f/n) akan menetap di rumah (Name) selama beberapa waktu. Perusahaan anggurnya akan membuka cabang di Miyagi. Sebagai CEO, ia memiliki tanggung jawab untuk turun langsung memeriksa dan mengatur proses pembukaan cabang perusahaan di setiap daerah.
"Masih lama, sekitar sepuluh hari lagi. Kenapa?"
"Cuma mikir aja. Nanti aku bakal tidur dimana kalo kamu udah pulang ke Tokyo."
"Kamu kan CEO, modal dikit lah. Duit juga dateng terus tiap waktu. Masa masih nebeng orang. Malu sama rekening", ledek (Name) bercanda namun dengan kata-kata yang nyelekit.
"Astojim, itu mulut apa pisau tajem amat."
Setahun pacaran dengan Tsukishima, rupanya virus sarkas si megane sudah menular ke (Name).
"Aku jadi inget, pas kita harus bolak-balik Miyagi-Tokyo cuma buat ngangkut anggur dari rumahmu."
(Name) berhenti memainkan smartphonenya. Menolehkan kepala ke arah temannya yang ternyata sedang menerawang menatap langit-langit kamar.
"Anggurnya masih ada gak? Kalo masih, mau aku beli."
"Habis."
"Oke."
Keduanya diam. Tak ada yang bicara. Dan kembali berkutat dengan smartphone masing-masing.
Sedang sibuk scrolling feed instagram, ia melihat sebuah post yang berisi berita tentang ledakan besar di Tokyo beberapa bulan lalu. Membuat (B/f/n) teringat akan sesuatu.
"(Name).. aku penasaran sama sesuatu nih."
"Hm", balas (Name) singkat sambil scrolling sebuah thread di twitter. Cukup memberi isyarat bagi (B/f/n) untuk melanjutkan ucapannya dan tanda kalau (Name) mendengarkan.
"Soal ledakan di hotel waktu itu, menurutmu ada yang janggal gak sih?"
"Janggal gimana?"
"Ya janggal aja gitu. Polisi bilang ledakannya dari bawah tanah, tapi pas diselidiki tidak ada satu pun benda yang diduga sebagai peledak. Kalau itu nuklir, kan harusnya ada radiasi. Nah ini gak ada radiasi sama sekali. Terus bukti rekaman kamera keamanan juga semuanya rusak. Kalau pun ada, itu cuma dari cctv di lantai atas yang gak kena ledakan."
(B/f/n) menjeda perkataannya untuk bernafas lalu melanjutkan.
"terakhir, punden berundaknya itukan sekarang udah dibongkar buat proses penyelidikan. Dan kamu tahu apa, gak ada satu pun jejak walaupun hanya sekedar sidik jari yang ditemukan. Jadi bener-bener hangus dan gosong. Temenku yang polisi bilang ini kecelakaan akibat ledakan tabung gas. Memang waktu itu tabung gas di hotel banyak, tapi menurutku gak mungkin tabung gas meledak sekuat itu. Kalo aku bilang, ini pembunuhan terencana."
(Name) shock sejenak. Nafasnya sedikit tercekat. Manik (eye color)nya melebar sedikit. Kegiatan scrolling twitter pun berhenti. Untungnya, ia cepat mengendalikan diri sebelum (B/f/n) sadar.
Terkadang (Name) lupa betapa encer otak temannya yang satu ini.
"Ngomong apa sih? Masa iya itu pembunuhan?", tanya (Name) dengan nada senatural mungkin.
(B/f/n) mengendikkan bahu, "ya kan aku cuma ngomong, belum tentu bener kan."
"Lagipula, kalo ini bener pembunuhan, si pelaku pasti orangnya sangat sangat sangat cerdik sampai bisa tidak meninggalkan jejak", lanjut (B/f/n).
(Name) diam saja. Memilih tutup mulut dan pura-pura tak peduli daripada nanti mengatakan hal-hal yang akan membahayakan dirinya.
(Name) tahu alasan temannya sampai seperti ini. Ledakan itu terjadi setelah ia dan anak buahnya mengirim tong anggur ke lantai underground hotel itu. Persis di area tempat ledakan disinyalir berasal.
Ada rasa tak nyaman di benak (B/f/n). Entah khawatir, takut, cemas, ataupun bersalah yang jelas membuat batin (B/f/n) gundah.
Takut kalau ia secara tak langsung terlibat dalam kejadian itu.
"Oh iya aku jadi ingat sesuatu, aku dapet pesanan nih buat lusa."
"Detail", respon (Name) singkat padat jelas.
"Jadi yang pesen itu atas nama Nametsu Mai, minta tong sebanyak---"
Begitu mendengar nama yang baru saja terucap, otak (Name) mulai berpikir. Rasanya ia tak asing dengan nama itu tapi dimana ia pernah mendengarnya.
Ucapan (B/f/n) menjadi samar-samar di telinga (Name) karena saking sibuknya berpikir. Begitu ia ingat, saat itulah pendengarannya mulai kembali fokus ke ocehan (B/f/n).
(B/f/n) itu anak Tokyo asli. Tidak mungkin ia kenal dengan anak Miyagi selain (Name). Sudah pasti (B/f/n) tak tahu siapa itu Nametsu Mai.
"---lalu minta diantar ke-"
Oh, seperti itu rupanya. Setelah mendengar alamat yang dimaksud, (Name) sedikit paham apa yang akan terjadi.
(Name) tersenyum menanggapi celotehan temannya. Tak sadar kalau ia lagi-lagi secara tak langsung akan terlibat dalam suatu upaya pembunuhan.
(B/f/n) yang malang.. ini bukan salahmu, kok.
---------------------------------------
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma
FanfictionMafia AU! Sekian lama kita bersama Ternyata kau juga sama saja Kau kira ku percaya semua Segala tipu daya Oh percuma Kau buat sempurna, awalnya Berakhir bencana Selamat tinggal sayang Bila umurku panjang Kelak ku kan datang tuk buktikan Satu balas y...
