He Didn't Come

8.4K 494 3
                                    

Veronna's Point of View

Aku membuka celemekku dan meletakkannya di rak penyimpanan celemek milik karyawan sebelum akhirnya mengenakan mantelku dan bersiap pulang.

"Jeremy, aku pamit ya." Bisikku menepuk bahunya membuat Ia mengangguk, "Hati-hati Veronna. Kau sudah bekerja keras hari ini.

Sebelum melangkahkan kakiku kearah pintu belakang cafe, aku sejenak menoleh kembali ke arah meja pelanggan nomor 16. Meja itu diisi oleh seorang perempuan dan seorang laki-laki yang nampaknya seperti sepasang kekasih.

Hariku ini berjalan dengan baik tanpa sesuatu hal pun yang membuatku jengkel. Dan tebaklah? Ini sudah hari ketiga Julian tidak datang ke cafe setelah kejadian aku memaki-makinya di dalam cafe waktu itu.

Aku merasa puas karena pada akhirnya Julian berhenti menggangguku. Tapi entah mengapa... Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku penasaran dengan alasan yang menyebabkan pria itu untuk pertama kalinya absen datang ke cafe.

Apa sesuatu yang buruk telah menimpanya?

Ah, aku tidak peduli. Lagipula itu bukan urusanku, kan?

Tanpa berpikir panjang, aku langsung tersadar dari lamunanku dan berjalan pulang melalui jalanan yang setiap pagi dan sore kulewati.

Sepanjang perjalanan aku sama sekali tak mendengar suara sol dari sepatu yang biasanya setiap hari selalu kudengar karena seseorang terus mengikutiku dari belakang. Yang dapat kudengar hanya derap langkah kakiku sendiri.

Aku menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Julian benar-benar sedang tak mengekoriku. Tapi benar, aku tak melihat sedikitpun tanda-tanda kehadiran seorang pun di jalan yang sedang ku lalui ini.

Persetan. Kenapa aku jadi memikirkannya terus menerus? Kurasa pria itu sudah terlalu terbiasa ada di dekatku sehingga saat dirinya tak ada, aku merasa aneh.

Aku segera membuka pintu gerbang rumah kecilku ketika sampai disana, dan aku mengernyitkan dahiku ketika melihat ada sebuah kotak kecil yang terikat pita cantik di pekarangan rumahku, tak terlalu jauh dari tempatku berdiri.

Kurasa seseorang telah meloloskan kotak hadiah itu melalui kolong gerbang rumahku. Tapi siapa yang memberikanku paket seperti itu?

Aku mengernyitkan dahiku ketika pertanyaan di kepalaku terjawab sudah. Aku samar-samar dapat melihat tulisan "Julian Rost" di permukaan kotak itu.

Aku segera membuka pintu gerbangku dan cepat-cepat mengambil kotak itu. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka pita yang membungkus kotak itu dan kini membukanya.

Sempat menautkan kedua alisku bingung, kini aku mengambil sebuah surat kecil yang paling pertama terpampang saat kubuka kotak berwarna merah tua ini.

"Veronna, maafkan aku atas kejadian waktu itu. Aku tahu bossmu membuatmu menangis, dan semua itu karena kesalahanku. Aku memang bodoh. Tapi aku belum menyerah, aku masih bertekad untuk bisa berbincang denganmu, Ve. Dan kau tak perlu menghindariku agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan lagi seperti kemarin, kumohon. Bisakah kau beri aku kesempatan? -Julian B. Rost."

Ia tidak menjelaskan mengapa Ia tak datang ke cafe hari ini. Tapi lagipula untuk apa? Bukankah seharusnya memang aku tidak mencari keberadaannya? Karena selama ini memang aku yang ingin Ia tak muncul di hadapanku.

Pandanganku kini teralih pada sebuah sapu tangan putih bermotif bunga-bunga kecil berwarna kuning dari dalam kotak itu, dan aku dapat melihat di sudut kain sapu tangan itu ada insial namaku, VC--Veronna Carl.

**

Sudah seminggu aku benar-benar tak melihat pria psycho itu. Kurasa dia benar-benar sudah bertobat, aku pun tak mengerti. Tapi aku bersyukur, kini sudah tak ada yang mengganggu hidupku lagi.

My Mysterious CustomerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang