Author's Point of View
Veronna menatap Julian datar yang kini tengah sibuk bersiap-siap sambil menyisir rambutnya. Entah mengapa wanita itu tak pernah memiliki mood yang bagus setiap Julian ingin berangkat bekerja.
Julian memutar tubuhnya dan kini menatap Veronna yang tengah setengah berbaring di ranjang tidur mereka. Pria itu merenggangkan tubuhnya sambil menguap.
"Huaaah, aku rasanya masih ingin tidur." Ujar pria yang pagi ini wajahnya tampak sangat lelah. Kantung mata Julian mulai terlihat menghitam. Tentu saja, Ia sangat kurang tidur karena bekerja sepanjang hari.
"Lihatlah wajahmu, Ju. Mengerikan. Tak bisakah hari ini saja kau meliburkan diri?"
Veronna melemparkan sebuah pertanyaan namun Julian segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ve. Aku ini memiliki peran penting. Pekerjaan bossku takkan berjalan lancar jika aku tiba-tiba membolos."
Ronna memutar bola matanya malas. "Huh, kau terlalu besar kepala."
"Percayalah, aku mengucapkan fakta, bukannya besar kepala, Veronna."
Veronna hanya mendengus kesal mendengar jawaban Julian. Kini Ia menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur ketika Julian mulai berpamitan.
"Sudah ya? Aku berangkat dulu."
Pertanyaan Julian tak mendapat respon dari wanitanya. Veronna saat ini tengah berdiri dengan melipat tangannya di depan dada dan bibirnya mengerucut. Tapi Julian tak menghiraukannya dan tetap melangkah menuju pekarangan rumah.
"Juuu" Panggil Veronna membuat Julian tak juga beranjak dari tempatnya kini berdiri.
"Kau bisa jatuh sakit jika kelelahan. Apa kau tak sadar wajahmu sekarang mulai kurus? Hm? Kantung matamu juga.. Sudah sangat parah."
Veronna mulai merengek manja membuat Julian tersenyum sambil mengacak rambut wanita kesayangannya.
"Aku tak apa-apa, Ronna. Lagipula, apa kau lebih suka aku menjadi pria tak bertanggung jawab yang malas bekerja?"
Ronna terdiam tak ingin menghiraukan pertanyaan Julian. Wanita itu kini memeluk tubuh Julian yang tinggi besar.
"Apa kau tak kasihan padaku? Kau tak pernah menemaniku di rumah. Aku pasti akan kesepian karna mulai sekarang aku takkan pergi kemanapun."
Julian kembali tersenyum, Ia merasa kasihan mendengar rengekan Veronna tapi Ia tak mungkin membolos.
"Sayang, aku berjanji akan segera pulang jika bossku sudah mengijinkan, mengerti? Aku takkan buang-buang waktu, pasti akan langsung pulang ke rumah setelah pekerjaanku selesai."
Julian terpaksa melepas pelukan Veronna membuat wanita itu akhirnya mengangguk pasrah dan menatap Julian yang mulai melangkah menjauh.
"Hati-hati, Ju! Jangan kelelahan. Jangan lupakan jadwal makanmu!" Teriak Veronna yang disambut dengan lambaian tangan dari tunangannya tersebut.
Veronna menghela nafas panjang setelah melihat punggung Julian yang semakin menjauh. Ia kembali masuk ke dalam kamar dan membuka laci lemarinya.
Hari sebelumnya Julian mengatakan, karena kini Ronna sudah tidak bekerja, Ia bisa menggunakan uang dari gaji Julian yang Ia letakkan di laci lemari. Uang Julian sama dengan uang Ronna mulai saat ini. Mereka harus memulai hidup layaknya sepasang suami istri sungguhan.
Betapa terkejutnya Veronna ketika menghitung banyaknya gaji yang telah Julian terima padahal Ia baru bekerja beberapa hari. Nampaknya Julian mendapat gaji harian.
Benar saja, Julian memang bekerja terlalu sibuk, tapi rupanya gaji yang pria itu terima memang sangatlah banyak. Bodohnya Veronna sempat berpikir bahwa Julian takkan mampu menghidupinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Mysterious Customer
Romance9 April 2018 - on going Halo, namaku Veronna Seanee Carl. Aku berusia 21 tahun dan bekerja di sebuah cafe di pinggir kota Dallas. Judul kisahku adalah My Mysterious Customer, tapi jangan kalian pikir bahwa aku memiliki sebuah cafe. Aku hanyalah seor...