Tears Streaming

5.1K 207 41
                                    

"Aku akan mengantarmu."

Veronna mengernyit mendengar Julian berujar di belakang tubuhnya. "Hm? Untuk apa? Aku bisa pergi sendiri?"

"Tak apa. Biarkan aku menemanimu sampai kau bertemu Jeremy."

Veronna memutar balik tubuhnya dan kini melangkah ke arah Julian sambil tersenyum, membantu Julian mengancingi kemejanya satu persatu sementara pria itu sibuk melingkarkan jam tangan di pergelangannya.

"Tidak perlu, Ju. Kau kan mau berangkat kerja. Aku bisa pergi sendiri, mengerti?"

Julian menangkup wajah Veronna gemas, "Aku berangkat bekerja setelah mengantarmu. Okay?"

Veronna hanya bisa memutar bola matanya atas sifat keras kepala tunangannya itu. Dirinya yakin, Julian bersikukuh untuk mengantarnya pasti karena pria itu agak cemburu karena hari ini Ia benar-benar ingin menemui Jeremy sesuai janjinya kemarin.

"Ayo." Ujar Veronna menarik jari kelingking Julian yang kini telah siap dengan pakaian rapinya.

Pria itu hanya bisa mengikuti langkah wanita di depannya dalam diam, dan ketika mereka sampai di ambang pintu rumah, tiba-tiba Julian menarik pergelangan Veronna hingga wanita itu memutar balik tubuhnya.

"Ju?" Tanyanya ketika tubuhnya mendarat di dalam pelukan hangat Julian, namun pria itu tetap membungkam.

"Kau kenapa, sayang?" Tanya Veronna sekali lagi.

Julian kini hanya menghela nafas kasar. "Tidak, aku hanya merasa berat melepasmu. Hampir seminggu aku berada bersamamu 24 jam, dan sekarang aku harus kembali meninggalkanmu seharian."

Ucapan Julian direspon dengan suara tawa kecil dari wanitanya. "Ju, jangan katakan kau bersikap seperti ini karena aku akan bertemu dengan Jeremy."

Julian kini kembali terdiam. Pria itu benar-benar terlihat lesu dan tak semangat pagi ini.

"Oh ayolah!" Tukas Veronna melepas pelukannya dan menatap wajah Julian yang terlihat muram.

"Juuuu!"

Wanita itu kini mencubit perut Julian hingga pria itu meringis. "Aku tak tahu kenapa kau harus cemburu padanya. Jeremy pria yang baik, tahu?"

Julian memutar bola matanya tampak kesal. "Bukannya meyakinkanku, kau malah membuatku semakin tak rela membiarkanmu menemuinya."

Ya, sepertinya Veronna salah berucap. Ia malah memuji Jeremy membuat Julian semakin ingin mengepalkan tangannya. Tapi sebenarnya maksud Veronna adalah, Jeremy adalah pria yang baik hati dan sangat pantas untuk dianggap menjadi sosok kakak untuknya.

"Sudahlah." Veronna kini melingkarkan lengannya di tubuh Julian dan menatap pria itu manja. "Kau tak perlu khawatir. Aku ini hanya milikmu. Dan aku tak mungkin menyukai Jeremy. Kau lebih baik menganggap dirinya sebagai kakak iparmu."

Julian kini tersenyum menatap wanitanya. Ia berusaha untuk percaya pada tunangannya walaupun berat dan sebenarnya senyum yang Ia tampilkan adalah sebuah kepalsuan.

Sepertinya hari ini Julian akan pergi bekerja dengan perasaan tak tenang. Entahlah apa yang membuat dirinya menjadi muram dan merasa berat membiarkan Veronna bertemu dengan 'sobat'nya itu.

Setelah sampai di samping cafe milik Jeremy, Veronna melepas tautan tangannya dengan milik Julian, dan kini mengintip di jendela dekat counter barista. Posisi jendela itu tak jauh dari meja kasir yang biasa dijaga oleh Jeremy, maka dari itu tak butuh waktu lama untuk Veronna kini menangkap perhatian mantan bossnya itu.

Julian kini hanya bisa menghela nafas kasar melihat wanitanya terlihat sangat antusias menemui pria lain. Sudahlah, Ju. Kau harus percaya pada Veronna. Bisiknya dalam benak.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 04, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Mysterious CustomerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang