Enjoying My Pregnancy

8.1K 460 5
                                    

"Ve, kau makan siang dulu saja." Ujar Clara selaku pengatur pegawai bagian kitchen sambil menepuk bahuku.

Aku segera menganggukkan kepalaku dan melepas kedua sarung tangan dan celemek yang semula kugunakan.

Di bagian kitchen ini aku bekerja bersama 3 orang lainnya, dan salah satunya adalah wanita berusia 25 tahun bernama Clara itu.

Aku kini melangkahkan kakiku keluar dari kitchen dan hendak menengok Roxy yang ternyata masih sibuk dengan pekerjaannya di counter barista. Ya, sajian dari counter barista memang lebih laris terpesan daripada sajian kitchen karena kebanyakan dari mereka datang ke cafe ini hanya untuk nongkrong semata.

Aku bisa melihat kini meja nomor 16 sedang kosong.

Sudah 2 minggu semenjak aku bertengkar dengan Julian dan Ia mengatakan bahwa Ia tahu aku sedang hamil waktu itu, dan semenjak saat itu juga Ia sudah tak pernah kulihat lagi. Kurasa Ia telah memutuskan untuk pergi karena aku telah mengusirnya dengan kasar.

Biarkan saja. Dia memang harus tahu diri dan berhenti mengikutiku.

Kehamilanku akan memasukki 2 bulan beberapa belas hari lagi, dan morning sickness yang menyerangku semakin hari semakin parah. Tapi aku menghadapinya dengan sabar, karena yang mengalami ini bukan hanya aku, kan? Semua wanita yang tengah hamil muda juga pasti merasakannya, jadi seharusnya aku bisa kuat menghadapi ini. Lagipula dokter mengatakan bahwa saat-saat tidak enak ini hanya berlangsung parah pada trimester pertama saja.

Aku melangkahkan kakiku menyusuri trotoar di pinggir jalan besar untuk membeli makan siangku di sebuah rumah makan yang menyediakan hidangan rumahan.

Aku memutuskan untuk memesan semangkuk bubur karena sedang tak selera mencicipi makanan macam-macam.

"Ronna? Veronna!"

Aku mengangkat wajahku yang semula menunduk dan dari tempatku duduk, aku melihat kearah seseorang yang saat ini tengah menunjukku.

"Raymond?" Gumamku mengernyit.

Pria itu langsung berlari kecil kearahku dan mendudukkan dirinya di bangku yang ada dihadapanku.

"Kau ini kemana saja sih?!" Tukasnya membuatku semakin heran dengan tingkah anehnya yang tiba-tiba.

"Kenapa kau menyentakku seperti ini, huh?" Tanyaku tanpa menggubris pertanyaannya.

Raymond menatapku intens sebelum kembali membuka mulutnya. "Haduh, aku sebulan lebih mencarimu ke cafe tapi kau selalu saja tak disana. Sebenarnya kau kemana? Kenapa menghilang tiba-tiba?" Ujarnya dengan kerutan di dahinya.

Aku berdecak mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya. Sebenarnya pria ini menginginkan apa sih dariku? Ia tiba-tiba datang dan terus saja menemuiku.

"Memangnya aku harus memberitahumu setiap saat dimana aku berada, hm?"

Raymond menggaruk tengkuknya karena melihatku yang kini tengah memutar bola mataku malas. "Ya, tapi aku jadi sulit bertemu denganmu Ve, habisnya kau suka sekali menghilang begini."

Aku kembali berdecak, "Memang kau siapa? Dan untuk apa kau terus ingin menemuiku? Kita kan tidak punya urusan penting, Ray."

Raymond tampak menghela nafas kesal mendengar ucapanku. "Kau itu memang tidak peka, ya." Ujarnya membuatku menautkan pangkal alisku.

"Duh, tolong ya. Jangan sering-sering menemuiku, Ray. Aku sudah ada yang punya."

Aku berbohong pada Raymond karena sudah merasa terganggu oleh dirinya yang terus saja menemuiku tanpa maksud dan tujuan. Kurasa aku memang harus menghindari pria berbahaya ini.

"A-apa? Secepat itukah? Bukankah terakhir kita bertemu, kau bilang kau sedang tak dekat dengan siapa-siapa?"

Aku menganggukkan kepalaku. "Ya, waktu itu aku berbohong padamu, sebenarnya aku ini memiliki kekasih."

Kini aku menatap raut wajah Raymond yang berubah drastis. Aku tak tahu apa maksud ekspresinya, tapi yang pasti Ia tampak tak senang.

Author's Point of View

Julian melepas sunglassesnya sebelum akhirnya membantingnya kasar ke arah dashboard mobilnya. Ia tengah menyaksikan pria yang telah menjadi saingannya sejak lama bersama Veronna saat ini.

Raymond tampak terus mengekori Veronna, sementara wanita itu terlihat seperti tidak terlalu menghiraukan Raymond. Meski Julian merasa yakin Ronna tidak memperhatikan Raymond, Ia tetap merasa geram. Untuk apa pria itu dekat-dekat dengan wanitanya?

Ini sudah tepat hari ke-14 dimana Ia tak menemui Veronna lagi setelah wanita itu mencaci makinya. Tidak, bukan karena Julian merasa sakit hati karena ucapan pedas wanita itu. Memang, tentu Julian merasa sedih mendengar hinaan dari wanita yang paling Ia cintai itu, tapi itu tetap takkan membuat Julian mundur.

Julian memutuskan untuk mengalah dan berhenti menemui Veronna, karena Ia takut Veronna bisa mengalami stres jika Ia terus menekannya. Hingga saat ini, yang dapat Julian lakukan hanyalah memantau Veronna dari kejauhan setiap detiknya. Maka dari itu, Julian sudah tak pernah lagi datang ke cafe. Ia benar-benar mendedikasikan semua waktu yang Ia miliki untuk mengawasi Veronna, Ia bahkan sering melihat Veronna yang tampak kesakitan, namun Ia belum berani mendekat untuk menolongnya.

Meski kadang Ia disibukkan dengan urusan bisnis maupun pribadinya, Ia tetap bisa memantau Veronna karena Ia memiliki anak buah kepercayaannya yang bisa terus melaporkan apa saja yang Ronna lakukan setiap hari.

Julian betul-betul berharap bahwa Veronna menjaga diri dan kandungannya dengan baik. Ia sering kali merasa seperti pria tak berguna karena tak bisa menjaga wanita kesayangannya itu secara langsung.

Jika kalian mengingat saat Julian pernah tak datang ke cafe 3 hari sebelum kejadian Ia meniduri Veronna, saat itu sebenarnya Ia bertengkar dengan ibunya yang akhirnya mengetahui bahwa Julian diam-diam masih sering menemui Veronna di cafe tempatnya bekerja. Dan pertengkaran itu akhirnya membawa Julian untuk kabur dari rumah dan tinggal di sebuah rumah kecil, rumah dimana Ia tidur bersama Veronna malam itu.

Julian masih bisa bernafas lega karena ibunya tak berbuat nekat padanya, Ia awalnya sudah waspada akan terjadi sesuatu yang buruk menimpanya karena Ia nekat pergi dari rumah, tapi ternyata hingga saat ini, semuanya aman terkendali.

Julian kembali menghela nafas kasar melihat tingkah Raymond yang nampak seperti sedang berusaha untuk mendekati Veronna kembali. Dan bukan hanya Raymond, Ia yakin bahwa Ia memiliki 1 saingan berat lain yaitu Jeremy.

Boss Veronna itu akhir-akhir ini sering mengantar wanitanya pulang ke rumah. Tentu saja setiap hari Julian melihat adegan dimana Veronna dan Jeremy berjalan kaki menyusuri jalan yang biasanya Ia lewati saat mengekori Veronna ke rumahnya.

Memang sialan. Padahal Ia sudah membuat Veronna mengandung anaknya, tapi pria-pria itu masih tetap saja mendekati Veronna. Sepertinya pesona Veronna memang begitu kuat sehingga mampu menghipnotis semua pria termasuk dirinya.

***

14 April 2018.

My Mysterious CustomerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang