"Cepet sarapannya,, dari tadi Raman udah nunggu kamu loh." ucap Dewi yang masih berkutat di dapur.
Dengan cepat Mika langsung meneguk habis air putih yang tadi sudah di sediakan oleh Dewi.
"Yaudah Mika berangkat ya, Ma." Mika menghampiri Dewi dan mencium kedua pipinya.
****
Mika menghampiri cowok yang sedari tadi sedang menunggu di halaman depan rumah gadis itu untuk berangkat sekolah. Siapa lagi jika bukan Raman?
Cowok jangkung yang selama ini selalu berada di dekat Mika dalam keadaan apapun. Mereka satu sekolah tetapi terpaut satu tahun, Mika berada di kelas 11 IPA 3 Sedangkan Raman di kelas 12 IPA 1. Mika merasa bersyukur mempunyai sahabat seperti Raman, karena dalam kondisi apapun Raman tidak pernah meninggalkan Mika sendiri. Raman selalu siap menjadi senderan saat beban di hatinya tak sanggup lagi untuk ia pendam.
Mereka saling kenal saat Mika baru masuk SMA,entah bagaimana caranya Mika dan Raman bisa dekat sampai sekarang. Bagi Mika, Raman adalah sahabat terbaik sekaligus sosok kakak untuknya.
Banyak hal yang Raman ketahui tentang Mika, termasuk orang yang sangat dicintainya di masa lalu sampai sekarang. Mika memang gadis kaku dan lugu soal percintaan, cenderung memendam masalahnya sendirian. Tapi, saat hatinya tidak bisa lagi menahan semua itu, ia akan menangis dan mulai bercerita pada Raman atau pada Dewi~sang Mama, saat hatinya benar-benar tidak kuat.
Banyak hal yang sangat di sukai Raman saat bersama Mika. Wajahnya yang Babyface dan imut selalu membuat Raman kecanduan untuk selalu melihat wajah Mika. Ada satu hal juga yang sangat Raman suka dari Mika, gadis itu tidak pandai berbohong. Mika memang gadis yang polos, yang terkadang membuat Raman gemas dengan tingkahnya itu.
"Haiiii.. "
Raman terkejut dan langsung menolehkan kepala lalu melihat Mika berdiri di belakang tubuhnya menepuk pundak cowok itu.
"Aelahh.. Jangan ngagetin bisa?! "
"Hehe iya maaf, abisnya kamu gak sadar sih aku ada di belakang kamu." Mika tersenyum
"Nunggu lama ya? Maaf, Kak. " lanjutnya. Raman hanya mengangguk.
"Emang ngapain aja sih di dalam? Gak tau apa gue nunggu udah mau lumutan."
"Lebay!" Mika mencubit lengan Raman, dan cowok itu mengaduh kesakitan seolah cubitannya sangat keras, padahal Mika mencubit dengan sangat pelan.
"Semalam Mika gak bisa tidur, ehh kesiangan deh. Makanya tadi lama hehe."
"Kalo tidur jangan kemalaman Mi, itu gak baik buat kesehatan kamu! " menatap manik mata Raman, ada kekhawatiran terpancar di sana. Cowok itu menatap dengan serius.
"Iya iya! Mika gak bakal tidur kemalaman lagi. " Raman tersenyum mendengar itu.
"Makanya, jangan mikirin doi terus! Dia aman kok di Jerman. Di tinggal sama dia aja, bawaannya galau-galauan terus. Apalagi puisi lo itu yang ada di mana-mana, di buku pelajaran ada,di meja kelas ada, di buku cetak ada, di toilet sekolah juga ada, udah numpuk segede gunung. Sekalian aja lo ikut lomba buat puisi terbanyak. Gue jamin lo pasti menang deh! Hahaha. " panjang lebar bicara, Raman tertawa menggoda.
"Ihh! Apaan sih, kak! Nggak di toilet sekolah juga kali."
Lengan Raman terulur mengacak rambut Mika. Dengan kesal Mika langsung menghentakkan lengan itu, Raman hanya tertawa. Dengan terpaksa, Mika harus merapikan kembali rambutnya agar tidak terlihat acak-acakan.
"Gemess.. " sekali lagi, tangan besar Raman kembali terulur, bukan ke rambutnya, tetapi ke pipi gadis itu yang tembem. Dan pipinya langsung merona.
"Apaan sih, udah ah cepet berangkat!"
******
"Lagi ngapain sih? dari tadi fokus banget main handphone, gak bosen apa?! "
Mika jengah melihat Karin, sahabat sekaligus teman sebangkunya itu terus saja memainkan ponsel dan mengabaikan Mika yang sedari tadi sangat bosan. Kebetulan jam pelajaran saat ini kosong, mendadak guru yang seharusnya mengajar mengikuti rapat secara mendadak.
Fiks, Karin mengabaikan pertanyaannya.
"Rin?!" masih tak ada respon dari gadis itu.
Mika terus saja mendumel sambil sorot matanya masih menatap Karin yang kini cekikikan tidak jelas. Entah apa yang Karin lihat di layar ponsel, sepertinya Karin lebih tertarik ke layar itu dari pada melihat Mika yang berada di sampingnya dengan bibir yang sedari tadi bisa di bilang ngoceh terus.
Mika pasrah lalu memilih untuk keluar kelas, berjalan menyusuri koridor yang sepi karena masih jam pelajaran, kakinya melangkah ke sebuah pintu yang diatasnya bertuliskan "Perpustakaan."
Tempat yang akan Mika kunjungi saat merasa bosan. Sejuk dan tenang, Mika menyukai suasana itu.
Kakinya sudah berada di ambang pintu, sejenak ia menoleh kepada Pak Asep yang selama ini menjadi penjaga perpus di sekolahnya. Pak Asep tersenyum melihat Mika.
"Mau baca, neng? bukannya sekarang masih jam pelajaran ya?"
Mika tersenyum "hehe iya,pak."
Lalu Mika memasuki ruangan itu dan berjalan menuju pojok dekat rak buku yang terdapat meja dan kursi. Mika sangat suka di tempat pojok itu, sepi dan hening karena tempat itu jarang di duduki oleh para siswa karena tempatnya paling pojok dan minim penerangan.
Ia mengambil buku di rak dengan sembarang. Setelah melihat judul yang tadi di ambil, sejenak Mika menghela nafas dan mulai mendudukan bokongnya di kursi itu.
Mika tak langsung membaca buku yang tadi ia ambil, tetapi tatapannya memandang lurus ke depan, ke arah jendela yang langsung terhubung dengan taman.
Tatapannya kosong.
Langit yang mendung tertutup kabut hitam, perlahan menurunkan cairan bening yang turun dari langit. Hujan membasahi kota Cirebon saat ini.
Hujan semakin deras mengguyur di luar sana, beriringan dengan semakin derasnya air mata Mika yang tiba-tiba mengalir di pipinya dengan tatapan kosong melihat ke depan.
Ia tak tau kenapa air matanya luruh.
Tapi, satu hal yang ada di fikirannya saat ini.
Lagi!ia kembali merindukan seseorang yang selama ini menghilang tanpa kabar, sesorang yang selalu memenuhi hatinya dan seseorang yang selalu Mika tunggu-tunggu kepulangannya.
******
Setelah sekian lama gak muncul akhirnya kembali update.
Jangan lupa vote dan komen kalian!😊
Salam,
KAMU SEDANG MEMBACA
MIKA
Teen FictionUntuk kamu yang dulu pernah ada dalam cerita yang akhirnya aku tutup rapat. Bagaimana? Sudah mendapatkan cerita yang lebih indah dariku? Aku tak menyesal melepasmu, sebab aku tahu menggenggammu lebih lama bukan pilihan terbaik. Kamu memaksa tak ingi...
