Rasa ini masih sama
Sama seperti dulu
Tak berubah bukan?
Kamu tau kenapa alasannya?
Alasannya cuma satu.
'Kamu'
~~~
Di bawah pohon rindang dengan rerumputan hijau di bawahnya, Mika menyandarkan tubuhnya pada pohon sambil memeluk kedua lututnya, wajahnya tertunduk, perasaanya resah.
Beberapa novel tergeletak tak jauh dari tubuhnya, dengan sebuah buku diary bergambar keroppi kesukaanya, dan pena diatas diary tersebut.
Biasanya, disaat seperti ini dia habiskan waktu untuk membaca novel atau setidaknya dia akan menulis apa kata hatinya dalam diary tersebut. Sekarang lenyap sudah minatnya untuk kembali melanjutkan membaca. Bahkan, setelah beberapa kalimat yang tadi sudah dia tulis di diary-nya, Mika menyerah. Dia hanya butuh berdiam diri.
"Kata Mama, sendirian di bawah pohon itu bahaya, apalagi sambil sembunyiin wajah. Bisa dikira hantu sama orang-orang, hehe."
Mika menoleh saat mendengar suara kekehan. Dia menatap sang pemilik bola mata itu, tak asing.
"Ecan tahu Kakak pasti sedih ngga ada yang ajak main ya?" Bocah itu kembali tersenyum menampilkan deretan gigi depan yang ompong.
Mika masih terpaku dengan kedatangan Ecan yang tiba-tiba. Bagaimana bisa Ecan ada di halaman rumahnya? Sedang apa bocah itu. Beberapa pertanyaan masih berkecamuk di benak Mika.
"Kak Mika kenapa?" Kembali. Mika tersentak dengan pertanyaan bocah itu, Ecan. Kini ia duduk di samping Mika yang sedari tadi masih menatap kosong.
Mika tersenyum, "Kenapa apanya?" Mika balik bertanya sambil memandang gemas wajah Ecan.
"Ihh, kok kakak malah balik nanya?" Sambil menggerutu, Ecan memajukan bibirnya kesal. Mika hanya terkekeh.
"Gemeshhh amat sih!" Mika mencubit kedua pipi Ecan sambil tertawa.
"Ecan senang kalo liat kakak ketawa," Mika mengerjap, dia menyukai bocah kecil ini, sudah Mika anggap seperti adiknya sendiri malah.
"Di dalam ada Mama, tadinya Ecan mau ikut masuk, tapi pas liat kakak di sini, aku gak jadi masuk. Mau temenin kakak di sini, boleh?" Bocah itu kembali menatap Mika sambil tersenyum. Astaga, dia merindukan seseorang yang memiliki iris mata yang sama dengan bocah itu, hitam pekat. Bahkan sampai sekarang, dirinya masih sangat hafal warna iris mata cowok itu, yang kini menurun pada sang adik, Ecan.
"Mau masuk ke dalam?" Ecan mengangguk dengan cepat. Mika berdiri untuk membersihkan debu yang menempel pada celananya. Ecan ikut berdiri sambil menggandeng tangan Mika. Gemas, Mika mengacak rambut Ecan dan membuat sang empunya kembali menggerutu.
***
"Saya tidak tahu harus memulainya dari mana." setelah memberikan puding cokelat yang tadi dia bawa kepada Dewi~Mama Mika. Aisyah dipersilahkan duduk di kursi tempat makan, kebetulan mereka berbincang di dapur saat ini.
Aisyah terlihat gelisah saat ini. "Ada apa Mba?" Dewi tetap tersenyum walau melihat raut resah yang diperlihatkan oleh Aisyah. Setelah Dewi menyimpan puding cokelat itu di lemari pendingin, dia menggeser kursi yang ada di hadapan Aisyah, lalu mendudukinya.
Dalam satu tarikan nafas, Aisyah berucap, "Evan akan kembali." Dewi yang mendengar itu langsung melebarkan senyum. Akhirnya, putrinya akan kembali bertemu dengan seseorang yang paling dia tunggu kehadirannya setelah beberapa tahun terpisah.
Namun, setelah Aisyah kembali melanjutkan ucapannya, Dewi mengernyitkan dahinya, senyuman itu perlahan memudar. "Setelah sekian tahun mereka terpisah, saya rasa akan ada banyak hal yang berbeda." Bingung, Dewi kembali mengernyitkan dahi, masih belum mengerti atas ucapan Aisyah.
"Maksudnya, mereka akan seperti pertama bertemu, saya yakin sifatnya berbeda,tidak seperti dulu," sebelum Aisyah melanjutkan ucapannya, suara Mika yang tertawa bersama Ecan terdengar, Aisyah menoleh ke arah mereka, yang kini berjalan menghampiri Aisyah dan Dewi.
Dewi masih bergeming, mencerna maksud ucapan Aisyah. Namun, dirinya paham sekarang. Akan ada banyak perbedaan antara mereka, bukan hanya fisik yang jelas berbeda. Terakhir mereka bertemu saat mereka kecil, ini pasti sikap dan sifat yang berbeda. Nyatanya, Evan bukan lagi periang seperti dulu yang selalu mengumbar senyum pada Mika, kali ini Evan tak lagi seperti itu, dan Dewi yakin tentang pemikirannya ini.
***
Jangan lupa tinggalkan vote dan koment kalian yaaaa, karena vomment dari kalian ini berarti buat saya hehe.
Salam,
KAMU SEDANG MEMBACA
MIKA
Teen FictionUntuk kamu yang dulu pernah ada dalam cerita yang akhirnya aku tutup rapat. Bagaimana? Sudah mendapatkan cerita yang lebih indah dariku? Aku tak menyesal melepasmu, sebab aku tahu menggenggammu lebih lama bukan pilihan terbaik. Kamu memaksa tak ingi...
