Bagian 3

44 2 0
                                        


Raman menghampiri kelas Mika untuk mengajaknya ke kantin. Namun, sebelum Raman bertanya ke salah satu siswa yang sedang berdiri di dekat pintu kelas, Karin muncul membuat Raman sedikit terkejut. Karin langsung tersenyum melihat Raman.

"Pasti nyari Mika ya?" Karin langsung menebak.

Raman hanya mengangguk. "Sayangnya Mika lagi gak ada di kelas."

"Dimana?"

"Coba cari di perpus. Biasanya Mika sering ke situ kalo lagi sendiri hehe," Karin memperlihatkan deretan giginya.

"Oke thanks." Raman melangkahkan kakinya ke tempat yang tadi Karin beritahu.

******

Cowok itu menghela nafasnya saat melihat orang yang ia cari ternyata sedang duduk di bagian paling pojok perpustakaan itu. Tatapannya lurus dan kosong, mungkin?

Raman tahu Mika sedang menangis saat ini. Ia melihat bulir air mata menetes perlahan di pipi gadis itu, perlahan Raman mendekati Mika yang masih belum menyadari ada dirinya di ruangan itu, karena Mika masih terus diam dan melamun.

"Ke kantin yuk!"

Terjengkit kaget Mika hampir saja terjungkal saat mendengar suara seseorang yang sangat familiar di pendengarannya, Mika segera menghapus air matanya sebelum cowok itu melihat. Namun Mika terlambat, Raman sudah mengetahui itu sebelum Mika menyadari kehadiran Raman yang sedari tadi berdiri agak jauh darinya.

Raman mendekat dan berdiri di samping Mika.

Menoleh ke arah Raman yang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dipartikan. "Udah istirahat? Kok aku nggak sadar ya." Mika tersenyum hambar untuk membalas tatapan cowok di sampingnya itu. Rasanya, baru saja dirinya duduk, bahkan dia masih belum membaca buku yang telah di ambil sebelumnya.

Itu artinya selama hampir dua jam dia habiskan hanya untuk duduk dan melamun?

***

"Kenapa?"

"Eh? kenapa apanya?" Mika agak salah tingkah mendengar pertanyaan yang Raman lontarkan, padahal hanya pertanyaan 'kenapa'. Ayolah, itu pertanyaan simple kan? Kenapa Mika harus gugup seperti itu? Ini memang berlebihan. Dan Mika menyerah, dirinya kembali hanyut dalam rasa Rindu itu!

Bukankah Rindu itu obatnya bertemu?
Sekarang, dirinya masih belum menemukan obat itu. Terbukti, sampai sekarang dia masih belum bertemu dengannya kan?

"Gue gak suka diem-dieman kayak gini." Ucap Raman telak.

Mika menatap Raman dengan tatapan..Ahh entahlah!

"Sorry ya, Kak."dirinya kembali menunduk. Raman yang masih menatap Mika terkekeh pelan,melihat Mika yang kini terlihat gugup di hadapannya "Santai aja kali."

"Kenapa sih?"

"Ehh, kenapa apanya?"

"Lo kenapa? Gue perhatiin nih ya dari tadi kayaknya lo diem banget. Aneh tau gak!"

Mika menautkan alisnya tak mengerti."Anehnya?"

"Ya aneh aja sih lo diem begitu,biasanya kan lo banyak ngomong." Mika terkekeh pelan.

"Emang salah ya kalo aku diem terus?" Mika menampilkan wajah jenaka.

"Enggak sih!" Raman mengambil botol minum yang tadi sudah dirinya beli dan meneguknya sedikit."tapi gue gak suka, gue lebih suka lo banyak ngomong dari pada diem." lanjutnya.

Mika hanya menganggukan kepala lalu memalingkan wajah ke arah lain.

"Cerita ke gue kalo lo lagi ada masalah." Mika kembali menatap Raman.

Senyuman terbit di wajah Mika."Mika gak apa kok." setelah mengatakan itu Mika berdiri dari tempatnya yang tadi di duduki."aku ke kelas duluan ya, udah kenyang soalnya."

Kenyang di buat rindu, maksudnya.

Mika pergi, Raman membiarkan nya, bukannya Raman tidak mau mencegah, hanya saja Raman tahu Mika butuh waktu untuk sendiri.

Percayalah,Mika sedang tidak baik-baik saja. Mika pergi hanya untuk menghindari Raman sementara. Entah kenapa ia gugup saat duduk berhadapan dengan Raman.

Mika diam bukan karena sengaja mendiamkan cowok itu. Tidak sama sekali. Sekarang, Mika hanya perlu sendiri untuk memulihkan perasaan yang tiba-tiba berubah seusai dari perpustakaan, yang malah membuat Raman tersinggung karena Mika hanya diam dan tak bicara saat cowok itu mengajaknya makan di kantin.

******

Terik matahari sangat panas siang ini, padahal baru tadi pagi hujan. Cuaca memang sering berubah-ubah,udah kayak mood Mika yang sering berubah-ubah.

Seusai sholat dzuhur, perasaan Mika sudah lebih tenang tak seperti saat istirahat pertama. Kini, kedua bola matanya bergerak menatap kesana kemari, padahal hanya ada dirinya di rooftop ini. Kedua tangannya berada di sisi tubuhnya, kedua kakinya dihentakan dengan pelan, seolah ada sebuah irama dari hentakan sepatunya di lantai rooftop itu. Pikirannya kembali berkelana.

Setelah Mika meninggalkan Raman di kantin, cowok itu tidak menampilkan batang hidungnya sampai sekarang.
Mika merasa bersalah sekarang, Mika takut jika Raman marah kepada dirinya. Saat pikiran Mika berkelana, ponsel miliknya berdering, Mika melirik sekilas,ada chat masuk di aplikasi chat yang biasa Mika gunakan.

Setelah beberapa saat, Mika mengambil ponsel yang tadi di letakan di samping bangku panjang yang sekarang sedang dia duduki.

Mika membuka aplikasi chatnya, ada banyak chat yang belum Mika baca sebelumnya dan kebanyakan berasal dari grup kelasnya, tapi ada satu chat yang berhasil menarik perhatian Mika, nomor tidak di kenal tanpa ada foto si pemilik nomor itu.

Haii,

~E

Degg!
Seketika jantung Mika mencelos. Inisial E? Apakah itu nomor orang yang selama ini Mika tunggu?

Sekali lagi, Mika melihat dengan cermat nomor itu. Mengapa jantungnya berdegup?

Perlahan, jemari lentiknya menari di keyboard ponsel yang Mika pegang. Jemarinya bergetar.

Mika Areta,
E? Evan?

Mika langsung menekan tombol send, dan pesan itu terkirim.
1detik,,
2detik
3detik

Centang satu berganti warna menjadi dua biru, itu artinya pesan yang tadi Mika kirim sudah di baca. Namun belum ada tanda-tanda orang itu akan kembali membalas pesan.

Hingga akhirnya Mika merasa greget sendiri dan kembali Mengetik dan mengirimkan beberapa kali chat. Namun, semuanya tetap sama tak ada balasan.

Mika mendengkus kecewa.

***

Pliss jangan lupa vote dan komen kalo kalian suka dan menghargai cerita ini, karena voment kalian ini berarti buat saya.🙏

Salam,

MIKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang