Hari yang ditunggu tiba. Hari lamaranku dan Mbak Tika.
Mama-Papa dan Mas Nova datang dua hari yang lalu. Lebih dulu Mas Nova sampainya. Mas-ku pagi dan Mama sore. Senang sekali keluargaku ngumpul begini. Kurang satu saja, Mas Darwin yang belum bisa libur. Bahkan Mas Damai juga datang, aku nggak tahu karena izin atau kebetulan ada pekerjaan juga sebab acaranya juga di hari Sabtu. Mas Damai datang pagi tadi, sedang lamarannya dimulai setelah isya'.
Tapi karena kami bukan keluarga ribet jadi semuanya terkesan santai. Acaranya dikemas sederhana macam pertemuan keluarga biasa walaupun pakaian yang dipakai lebih rapi.
Nggak ada hiasan heboh atau gimana. Semua wajar dan secukupnya. Makanan juga masak sendiri. Sebetulnya banyak yang menawarkan bantuan secara Pakde komandan batalyon tapi dengan halus kami tolak. Karena konsepnya betul-betul acara keluarga. Meskipun kenyataannya tetap saja ada yang datang untuk membantu.
Karena akan ada dua yang dilamar, tentunya perasaan dan antusiasme kami beda. Kalau Mbak Tika nggak bisa menyembunyikan kegembiraannya, aku berusaha menyembunyikan kegelisahanku.
"Kamu kenapa nervous banget gitu?" tanya Mas Nova saat masuk ke kamarku.
"Kelihatan ya, Mas?"
Mas Nova mendekatiku yang duduk di kasur dan menarik kursi riasku lalu duduk di depanku sambil menggenggam tanganku.
"Are you okay?"
"I'm not sure," jawabku jujur.
"Why?"
"He doesn't love me. Aku nggak pernah bisa dapat jawaban dari dia. Dia selalu bilang dia akan menjagaku. Dari apa? Perasaanku ke Rashid?" Aku tertawa sumbang. "Semua juga tau kalau kita cuma sahabat. He just refuses to believe it."
"Dia sudah mengambil keputusan dan kamu sudah mengambil keputusan. Jalani aja dulu. And make him love you then. If you love him because of Allah, everything will be alright. Allah nggak pernah ingkar janji kan, Dek?"
"Insya Allah." Aku mengangguk dan kegelisahanku berkurang drastis karena ucapan Mas Nova. Aku langsung memeluknya. "Je t'aime, Mas. (Aku menyayangimu)"
"Je t'aime aussi, Ma soeur. (Aku juga menyayangimu juga, Dek)" Mas Nova balik memelukku.
Kami pun melepas pelukan kami.
"Mas lihatat dia cowok yang tanggung jawab, bukan karena dia tentara lho ya. Hangat. Pribadi yang menyenangkan."
"Aku juga ngerasa gitu. Dia dingin kalau sama orang baru kenal. Nggak terlalu kelihatan sih mungkin karena tentara yang biasa jaga emosi dan ramah sama semua orang. Aslinya sih dingin. Tapi kalau udah kenal, dia hangat. Walaupun pedulinya dia sama aku selama ini karena ada sebab."
"As I said, make him love you."
Mendengar itu aku langsung nyengir sambil tersipu.
Akhirnya setelah beberapa lama, rombongan Rashid dan Rashad tiba.
Walaupun acaranya dibuat sesederhana mungkin, karena calon pengantin prianya kembar, kami buat kesepakatan tentang dresscode. Kami beli kain batik untuk dijahitkan model sarimbit atau couple-an kata anak sekarang.
Walau sama-sama aparat tapi beda instansi, jadi kami pilih warna sesuai seragam kebanggaan. Aku dan Rashad hijau, Mbak Tika dan Rashid cokelat. Bajuku sama mbak Tika juga modelnya kembaran. Sama-sama maxidress.
Dari pihak kami yang datang hanya sesepuh. Sahabatku cuma Putri dan sahabat Mbak Tika cuma Hana. Dari pihak Rashid ada Galih dan Rashad ada Serda Agus ditambah Pakde-Bude yang merawat Rashad dan beberapa sesepuh mereka.

KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA & PENGABDIAN "Cerita Frannie"
General FictionCredit all pics to www.google.com Kisah Cinta segi empat patah sisi antara dua sepupu Francesca - Kartika dan saudara kembar Lettu Rashad dan IPTU. Rashid. "Heh? Karena jalan sama Rashid? Ditembak ya?" Oke, nyawaku mulai terkumpul. Bisa dipakai goda...