2

8.1K 657 13
                                        

Baltimore, Maryland US

07.00 a.m waktu setempat

Rose tidak pernah dan ingin menunjukkan dirinya. Menjauh, dan menghilang mungkin lebih baik.

       "Ini kan orangnya?"

       "Tidak tahu, tidak pernah bertemu secara langsung."

Dua orang wanita sedang terlibat pembicaraan bersuara pelan di sela-sela pekerjaan mereka.

      "Siapa yang tidak bertemu langsung, noona?"

Keduanya mendelik, kepada pemilik suara yang tiba-tiba muncul begitu saja. Suka sekali membuat kaget.

      "Jimin, astaga. Kenapa kau disini? Kembali kesana bergabung dengan anggota lainnya." Tubuh Jimin terhuyung, karena dorongan dari belakang tubuhnya yang kuat.

       "Ada apa sih, kalian sedang bermain rahasia ya. Wah...hei aku bisa jalan sendiri, noona." Jimin mencegah dengan caranya dan tidak membuahkan hasil. Saat tubuhnya sudah berada di antara sekelompok para pria yang menatap heran ke arahnya. Kenapa harus di dorong-dorong untuk kemari.

      "Diam disini wahai anak muda, agar syuting kalian cepat selesai." Salah satu penata rias kembali menekankan peringatan kepada pria itu yang jika tersenyum kedua garis matanya hilang.

       Namjoon, Seokjin, Yoongi, Hoseok, Taehyung, dan Jungkook bingung melihat ekspresi Jimin. Tentu mereka jadi penasaran.

       "Tidak ada apa-apa, tenang saja." Jimin merespon di sela tawa yang kembali ia perlihatkan dari mimik wajahnya.

      Dari kejauhan, seorang wanita yang rambutnya diikat menjadi seperti ekor kuda sedang sibuk dengan langkah teratur yang ia buat—harus memperlambat langkahnya, dengan lokasinya. Salah satu tangannya segera melepaskan wireless sport headphones yang ia gunakan agar tidak merasa sunyi sepanjang jalan saat berlari, cepat sekali perubahan ini terjadi. Ketika berangkat masih sunyi. Sekarang sangat ramai dengan manusia dan peralatan-peralatan bawaan mereka ditambah penjagaan juga ketat dengan petugas keamanan bertubuh seperti Yuma.

Wow, ada apa ini

Kedua telapak tangan miliknya berubah, berkacak pinggang sambil menetralisir nafas yang tersengal. Tidak mungkin jalanan bisa di lalui jika begini kondisinya. Sedangkan kediamannya berada tepat di belakang keramaian.

Langkah yang terhenti sementara, kembali ia lanjutkan, semakin mendekat pada lokasi keramaian, semua pasang mata mulai mengarah pada sosok nya yang jelas terlalu signifikan disini.

      "Maaf nona, Anda tidak bisa melintasi area ini, kami sedang melakukan syuting." Pria yang mengenakan seragam hitam mengangkat kedua telapak tangan di depan dadanya mencegah Rose.

Kegiatan itu membuat kerutan pada dahinya, ia terus menatap rumahnya ada di belakang sana dari tempatnya berdiri. Bangunan megah itu bisa dilihat dari sini.

      "Kalian bisa menoleh ke belakang sana sebentar." Wanita ini mengarahkan jari telunjuknya pada sebuah mansion besar di belakang pada sisi sebelah kiri.

Petugas itu, mengikuti titah, dan berbalik mencoba mencari maksud arah telunjuk yang berasal dari wanita di depannya.

       "Sepertinya kegiatan kalian disini, membuat saya tidak bisa kembali ke rumah."

       Kebenaran yang sudah di katakan, tidak membuat petugas itu lantas percaya begitu saja, jaman sekarang banyak penguntit yang mengaku-ngaku dan berbohong demi bisa masuk ke dalam area syuting. Ia  menatap wanita ini dari ujung kepala hingga sepatu yang Roseanne gunakan.

Beberapa staf mencoba mencari tahu ada apa. Ia menghampiri Rose.

Ucapan mereka sama, memberitahukan jika larangan melintas di berlakukan disini.

Ketujuh pemuda yang sibuk melakukan pembicaraan, mengubah atensi mereka pada wanita yang sekarang menjadi pusat perhatian.

     "Siapa itu. Ada apa?"

      "Tidak tahu."

Semuanya mencari tau melalui sorot mata saja. Bagaimana bisa menemukan jawaban jika tidak bertanya langsung. Bisik-bisik beberapa orang semakin jelas terdengar.

       "Saya sudah menjelaskan kenapa saya ada disini." Wanita ini tersenyum simpul, berbicara dengan tenang. Menutupi kekesalannya. Tubuh lelah sehabis berolahraga. Lalu di larang melintas untuk pulang ke rumah. Siapa yang tidak kesal. Kegiatan ini tentu akan menghabiskan bahak waktu yang Rose perkirakan hampir setengah hari.

      Perdebatan ini tidak akan berakhir jika tidak segera mengambil keputusan. Masalahnya ia menjadi korban, ia yang harus melakukan sesuatu. Lalu, meraih ponsel yang berada di armband nya.

Semuanya tidak mengusir paksa, masih menunggu Rose selesai berbicara dengan seseorang menggunakan ponselnya.

    "Jangan sampai lima menit, aku kehabisan oksigen disini." Pesannya sebelum telepon dimatikan.

Membuatnya menunggu...

Setelahnya ia melakukan peregangan ringan pada otot tubuhnya, sorot matanya menatap area sekitar. Ia tidak perduli, menjadi bahan pembicaraan dan tontonan bagi banyak orang.


Kedua iris matanya, menangkap objek pandang yang tepat.

'Sepertinya mereka yang di maksud ada disini.'


Yuma berlari cepat menerobos blokade manusia di depannya.

      "Iya miss,"

       "Jelaskan segera, mereka tidak mempercayai ucapan ku."

        "Baik miss."

Yuma mengambil alih, berbicara dengan wajah yang kaku dan serius.

Satu menit

Dua menit

Cukup

Pembicaraan Yuma selesai.

      "Baiklah, maaf mengganggu kegiatan Anda. Kami––melakukan proses syuting tertutup disini. Jadi kami menghindari kondisi tidak kondusif nantinya." Pria yang menghampiri dirinya saat pertama kali menjelaskan dengan rinci.

      "Anda bisa melintas, nona Roseanne."

Rose menurunkan tubuhnya beberapa derajat, tersenyum sebagai bentuk sopan santun, "terima kasih."

Ia meneruskan langkah, di ikuti oleh Yuma yang di belakang tubuhnya.

     "Unnie, kemarilah."

      "Ada apa?"

       "Bukan kah itu wanita yang ada di ponsel mu."

Keduanya menatap dengan seksama.

Salah seorang meyakini kebenarannya.

       "Ah, iya. Aku rasa kau benar."

'Ternyata rumor tentang wanita itu benar.'

Rozellezwart [Tae x Rosé] [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang