"Tinggal saja hyung,"
"Hmmm, baiklah. Kau hubungi saja jika sudah selesai."
Namjoon memberikan jempolnya sambil tersenyum. Ia melangkah keluar dari mobil. Penampilannya seperti penguin: tertutup dari ujung kepala hingga kaki. Hanya menyisakan kedua matanya untuk melihat.
Sebelumnya, pria ini meminta manajer hyung untuk tidak berhenti di depan toko, karena akan membuatnya di kenali. Gerakan langkah kakinya juga semakin dipercepat agar segera sampai ke dalam toko.
Arloji yang berada di antara pergelangan tangan kembali menjadi titik fokus pria ini.
"Aman, sudah hampir pukul sebelas malam. Tidak akan banyak pengunjung yang kesana."
Toko buku ini buka dua puluh empat jam. Letaknya di pinggir jalan utama. Tidak begitu besar. Dinding kaca itu yang terang benderang sangat kontras di malam hari.
Keceriaan yang ia rasakan saat memasuki tempat tersebut, hatinya tenang ketika menemuka bermacam-macam pilihan buku.
Dugaannya benar, hanya ada sekitar enam pengunjung di dalam toko.
'Haha, setidaknya sekarang hatiku sudah benar-benar tenang.'
Namjoon mulai berpetualang menjelajah setiap rak, dan judul-judul buku.
There no reality except the one contained within us, that's why so many people live an unreal life. They take images outside them for reality and never allow the world within them to assert itself.
(Hermann Hesse)
Detik jarum jam sudah menunjukkan tiga puluh menit sejak kedatangannya. Ia tidak menyadari ternyata menjadi sasaran kecurigaan, beberapa pasang mata di luar toko.
"Pria itu seperti Namjoon oppa, aku yakin." Bisik wanita pertama pada wanita kedua.
"Bukan, wajahnya tidak jelas." Sahut wanita kedua.
"Mendekat sana, kau pasti percaya ucapanku." Tantang wanita pertama.
Hal tak diduga, ada lima orang gadis yang baru saja masuk ke dalam toko buku, suara mereka lirih. Tapi cukup signifikan jika berada di dalam tempat ini. Salah satunya benar-benar mendekat pada Namjoon, seperti tidak menginginkan sesuatu, agar pria itu tidak pergi begitu saja dari sana karena tindakannya.
'Astaga.' Gadis ini menoleh pada rekan-rekannya, mengucapkan aba-aba dari kejauhan. Jika ini benar 'Namjoon oppa.'
Hasilnya membuat suasana menjadi tidak kondusif dan aman, mereka semua para gadis-gadis itu menghampiri Namjoon dengan girang.
Jelas membuat Namjoon tersentak sangat terkejut, ia segera mengembalikan buku yang belum selesai dibaca ke tempat semula. Ketenangannya mulai terganggu. Ia tidak nyaman. Bagaimana kabur dari sini. Namjoon panik. Segala arah sudah dikepung.
"Permisi, mohon maaf tolong hargai privasi artis kami."
Seseorang tiba-tiba muncul, wajahnya tidak begitu jelas, karena ia mengenakan topi dengan pakaian serba hitam. Orang itu salah satu pengunjung yang sudah ada disini sebelum Namjoon tiba.
"Anda siapa." Salah satu gadis tidak ingin terusik.
Orang itu tidak menjawab pertanyaan yang di tujukan padanya, tetapi memberikan pertanyaan melalui kedua iris matanya kepada pria yang bersamanya. Apakah Namjoon ingin mengabulkan permintaan gadis-gadis ini, atau tidak...
Untungnya Namjoon cepat tanggap—hanya memberikan tanda tangan saja. Setelahnya orang asing ini membawanya pergi keluar dari toko. Sebelum menarik lebih banyak perhatian banyak orang yang melintas di depan toko dan sekitarnya. Pria ini tidak menolak, karena sebagian dirinya masih panik dan tidak sadar, jika sudah berada di dalam mobil seseorang yang tidak ia kenal.
"Katakan saja pergi kemana. Aku akan mengantarmu."
"Kau tahu aku seorang publik figur...Tidak, tidak. Aku menunggu manajer hyung saja." Namjoon melanjutkan ucapannya.
"Penampilanmu sudah menjelaskan pekerjaanmu. Baiklah jika kau tidak mengatakan. Aku akan membawamu ke tempatku. Jika kau disini, bukan hanya dirimu, tapi diriku juga dalam keadaan tidak aman."
Orang asing ini mulai menyalakan mesin mobil miliknya.
"Hah, sebentar...baiklah antar aku ke Hannam the Hill."
Orang asing ini tersenyum singkat, jika tidak dengan cara seperti ini. Segala sesuatu akan semakin lama. Selama perjalanan tidak ada yang membuka pembicaraan. Keduanya hanya diam. Hingga laju mesin berhenti pada alamat yang dituju.
Dering ponsel Namjoon terdengar, seseorang menghubungi.
"Hei, kau dimana?"
"Aku sudah arah pulang hyung."
"Apa? Jangan bercanda. Aku sudah di depan toko."
"Maaf, sebagian orang mengenaliku. Jadi aku pergi dari sana."
"Astaga. Baiklah, aku susul ke dorm."
Sambungan terputus.....
Kemudian mengembalikan atensinya pada seseorang yang berada di balik setir kemudi. Lalu orang itu melepaskan topi yang tidak hanya menutup kepalanya, menggerai rambutnya. Namjoon lagi-lagi dibuat semakin kaget. Sepertinya wajah ini tidak asing untuknya.
"Cepat masuk ke dalam. Sebelum timbul masalah baru."
Namjoon mengangguk dan pergi. "Nde—Terima kasih."
Mobil itu pergi.
'Ah, ternyata dia. Sekarnag aku ingat.'
KAMU SEDANG MEMBACA
Rozellezwart [Tae x Rosé] [END]
Fanfic[C O M P L E T E D] Perfect in imperfections. Women, like one word that is usually called side by side with Man. Women symbol of beauty, as well as symbols of weakness. But, helping others doesn't require whether you should be a woman or a man. Bec...
![Rozellezwart [Tae x Rosé] [END]](https://img.wattpad.com/cover/149635756-64-k491000.jpg)