9. Maghi

22 2 0
                                    

Sosok itu ialah Maghi, seorang pria berbadan tegap, berkulit kuning langsat serta bola mata berwarna coklat teduh. Tatapannya tak berubah, tetap teduh dan hangat. Hanya saja rambutnya sekarang sedikit panjang hingga menyentuh leher.

Seketika tubuhku membatu di tempatku berdiri, begitu pun pria yang berada di hadapanku. Jarak yang terbentang diantara kami hanya sebesar satu langkah kaki. Bahkan degupan jantungnya pun mampu kudengar dengan jelas.

Sedekat inikah aku dengan keabu-abuanku selama ini? Semudah inikah aku merasakan seolah napasku dirampas habis olehnya? Selemah inikah seluruh syaraf tubuhku hingga membatu dan menitikkan air mata?

Entah air mata penantian atau kekecewaan yang mengalir. Aku pun tak mengerti dengan jelas apa yang aku rasa. Ragaku seolah kehilangan nyawa, rasanya kosong tak berdaya. Jangankan berkata-kata, dengan melihatnya saja membuatku mati rasa.

"Kei, ternyata kuncinya ketinggalan nih," suara Gameo memecah atmosfer yang telah aku dan Maghi bangun, ia datang menghampiriku.

"Maaf, Mas siapa ya?" tanya Gameo pada pria di hadapanku ini.

"Ehem, maaf saya tadi tidak sengaja menabrak temannya, Mas. Saya permisi," jawab Maghi singkat lantas meninggalkan aku dan Gameo begitu saja.

Sedangkan aku? Aku masih diam dan menitikan air mata, tanpa gerakan sedikit pun kecuali bernapas. Itupun terasa sangat sesak.

"Lo jatoh, Kei sama tuh orang? Ada yang luka?" tanya Gameo untuk memastikan.

Hanya gelengan kepala yang dapat aku lakukan, sebagai jawaban atas pertanyaan Gameo. Sekali lagi, aku harus kehilangan jejaknya padahal seharusnya aku mampu menggapainya tadi.

Lantas Gameo merangkulku menuju mobil sewaan yang sedang terparkir. Dan kami memasuki mobil tersebut, melesat meninggalkan basement yang menjadi saksi pertemuanku dengan Maghi.

***

"Kei, are you okay?" suara Gameo memecah keheningan. Namun bukan jawaban yang Gameo dapatkan, justru tangisanku yang tumpah seada-adanya.

Gameo lantas meminggirkan mobilnya, mencari lahan parkir yang cukup agar tidak mengganggu pengguna jalan lainnya. Hingga masuklah pada lahan parkir sebuah minimarket pinggir jalan yang cukup luas. Lalu dia memelukku tanpa bertanya apa alasan aku menangis. Hanya menyediakan bahu sebagai tempatku bersandar dan menangis seada-adanya.

"Meeeee, tadi itu Maghi. Dia sosok yang selama ini menghantui pikiran gue. Dia orang yang menghilang gitu aja pas gue lagi sayang-sayangnya. Gak putus, gak jadian, gak ada kejelasan. Dia hilang begitu aja," ungkapku sembari sesenggukan di dalam tangisan.

"Me, apa karena gue jelek ya? Apa karena gue jahat ya? Apa karena gue gak pantes ya menyayangi dan disayang sama dia? Makanya dia pergi gitu aja tanpa kejelasan apapun."

Gameo mempererat pelukannya dan mengelus rambutku, berusaha memberikan ketenangan. "Meee, jawab! Apa gue gak pantes ya disayang sama dia?"

"Kenapa ketika gue mulai menyayanginya, dia justru pergi? Kenapa dia harus meninggalkan gue tanpa kejelasan apapun, hilang begitu aja? Apa hati gue hanya pantas dipermainkan?" aku meracau penuh tanya, walau tak ada jawaban apapun keluar dari mulut Gameo.

"Hampir setiap hari gue kepikiran dia. Apa salah gue sama dia? Apa yang membuat dia pergi gitu aja? Apa yang bikin dia gak meninggalkan pesan atau salam perpisahan sekalipun, jika memang dia ingin pergi? Berbulan-bulan gue terus dihantui perasaan bersalah, berbulan-bulan gue menanti entah apa yg gue nantikan, berbulan-bulan gue kepikiran apakah dia baik-baik aja. Apa gue gak pantes ya Me disayang tulus sama dia?"

Jengah mendengar racauanku dalam tangis, akhirnya Gameo bergumam "Bukan lo yang gak pantes disayang tulus sama dia, tapi dia yang gak pantes mendapatkan kasih sayang tulus lo, Kei."

"Tapi gue sayang dia, Me. Bener-bener sayang sama dia, gue gak main-main dari awal dekat sama dia yang tadinya cuek. Lama-kelamaan gue menyayanginya, Me. Dan gak ada masalah apapun saat dia menghilang begitu aja tanpa jejak. Gue tetap chat dia, mencoba menelponnya, tetap positif thinking bahwa dia lagi sibuk/hapenya mungkin sedang rusak. Sampai akhirnya gue sadar, gue di-block dari seluruh media sosial yang dia punya. Bahkan sampai nomer hape gue pun di-block, Me. Dia benar-benar menghindari gue tanpa kejelasan, semuanya menjadi abu-abu di hari-hari gue."

Gameo melepaskan pelukannya, menakup wajahku dengan kedua tangannya dan menatapku lekat-lekat. "Keira Shevania, apa sih untungnya dia buat lo? Lo tuh cantik, lo tuh sosok perempuan apa adanya, lo sosok penyayang dan satu lagi lo itu terlalu berharga buat nangisin seorang laki-laki yang dengan sengaja melepas lo begitu aja. Masa iya lo tega sama diri lo sendiri, sama mimpi-mimpi lo, sama harapan Mama Papa lo cuma karena seorang siapatuh namanya? Ragi? Tedi? Siapa?"

"Maghi, Me" jawabku singkat.

"Nah itu iya, Maghi, Mantap Ghila. Hahaha becanda-becanda gue."

Candanya berhasil membuatku mengulum senyum di bibir mungilku, hanya sedikit tapi ini murni karena candaan seorang Gameo. Garing, renyah, kress kress kayak kripik tapi berhasil mengganjal kegalauanku.

Seiring berjalannya waktu, tangisku mulai reda bersama candaan Gameo dan perhatiannya yang senantiasa membuatku jauh lebih tenang. Sosoknya yang tak bisa disandingkan sengan siapapun, seolah pelan-pelan membuatku sejenak melupakan pertemuanku dengan Maghi. Dan Gameo kembali melanjutkan perjalanan menuju Pantai Parangtritis.

Kebayang dong bagaimana bahagianya Keira memiliki seorang sahabat bernama Gameo? Siapa coba yang gak pengen punya sahabat seperti Meo?! Gue aja mau tjuy, pake bangetttt.
Btw, jangan kebawa emosi yaaa sama si Maghi. Dia baru hadir, jangan disinisin nanti nyesel guysss! Haha see yaa

Maghi & PelangiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang