Setelah sehari mengajukan izin tidak masuk kerja untuk menemani Helfa dan Ghaima. Hari ini aku kembali masuk kerja seperti biasa. Keadaan Helfa sudah lebih baik dan bisa menunggu Ghaima sembari pemulihan dirinya.
Gameo pun sama sepertiku, ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya yang padahal sebenarnya sudah lewat dari tanggal yg ditentukan. Ia harus segera mengatur jadwal untuk bertemu dengan kliennya hari ini.
Tapi kupastikan untuk selalu menyempatkan diri menjenguk mereka berdua sebisa mungkin. Bukan karena iba, melainkan Ghaima sudah kuanggap seperti keponakanku sendiri walaupun baru sekali bertemu. Sedangkan perasaan Gameo bagaimana, ya aku tak tahu, yang jelas dia sudah berlaku sangat baik pada banyak orang dan aku bangga padanya.
Hari ini rasanya badanku sedikit pegal, mungkin karena beberapa hari belakangan aku kurang istirahat. Ditambah lagi aku memang hobinya leyeh-leyeh jika hari libur, sehingga badanku terasa kurang fit.
Jam makan siang, aku tak berniat pergi kemana-mana hanya menitip sate padang kepada salah seorang office boy kantor. Aku hanya ingin menikmati makan siangku sembari duduk dan beristirahat di pantry. Memang selelah itu rasanya.
Ketika sedang menikmati menu sate padang yang tadi kupesan, ponselku bergetar di atas meja. Lantas aku mengangkat panggilan masuk tersebut tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menghubungiku saat ini. Tanganku refleks menggeser tombol berwarna hijau, kemudian menempelkan benda pipih itu di telinga kiriku.
"Ya, halo?"
"Udah makan siang, Kei?" tanya seseorang di ujung sana.
"Nih lagi makan. Ini siapa?"
"Oh yaudah bagus kalau begitu, makan yang banyak ya," lalu sambungan telepon tersebut terputus.
Ih gak jelas banget itu orang, siapa coba nelpon cuma nanya udah makan atau belum. Basi banget, bodo ah.
Setelah sambungan tersebut terputus, aku baru sadar kalau yang menelponku merupakan nomer yang tidak kukenal, tidak ada di kontak ponselku. Bukannya menelpon balik untuk mencaritahu, aku justru bersikap acuh seperti tak ada yang perlu dihiraukan. Ya memang setidak penting itu sih bagiku.
Lama-lama makananku habis juga, walaupun sejak tadi aku tidak begitu nafsu memakannya. Sungguh aku merasa tidak fit, sehingga nafsu makanku juga berkurang.
Setelah selesai makan, aku melaksanakan sholat Dzuhur di mushola kantor. Kemudian aku kembali lagi ke meja kerjaku, tanpa banyak berkomunikasi dengan pegawai lainnya. Karena aku memang tidak terlalu sering berbincang dengan mereka semua, hanya seperlunya saja. Ditambah pula mereka sedang sibuk masing-masing, ada yang sedang menonton youtube maupun bergosip di ujung sana.
***
"Jadi lo lagi kebetulan deket sini makanya sekalian jemput g... Hatciimm..." ucapku saat berada di kursi samping pengemudi.
"Iiiiih lo pilek ya?" ledek si pengemudi yang tidak lain merupakan si cacing kremi, Gameo.
"Enggak tau nih, gak enak badan emang dari pagi."
"Yah anget ini bocah, yaudahlah langsung pulang aja ya gak usah ke RS dulu malam ini. Helfa juga pasti ngerti kok," ucap Gameo setelah memegang keningku.
"Gakpapa sebentar dulu kesana, jengukin Helfa sama Ghaima," pintaku.
"Ngeyel banget ih. Nanti lo sakit malahan kalo makin kecapekan."

KAMU SEDANG MEMBACA
Maghi & Pelangi
RomanceTentang semu yang selalu menjelma bagaikan debu. Penuh rasa namun tak pernah teraba oleh asa. Bahkan terhisap habis oleh udara. Ketika berdiriku tak lagi kokoh, tolong ingatkan aku pada secercah harap agar ku dapat bangkit dari segala cemooh. Sendi...