Cassy POV:
"Tubuh yang indah cassy, tapi kalau kamu melepas bagian lain lagi...
Aku tak yakin bisa menahan diri lagi"
Mendengar perkataan itu jantung ku seketika berdegup kencang
Panik dan takut menguasai diriku. Aku ingin lari tapi tubuhku serasa membeku tak dapat melakukan apapun.
Hening
Aku mulai meragukan kalau itu hanyalah halusinasiku.
Kuberanikan diri memutar kebelakang dan seketika sepasang mata biru yang hampir kulupakan itu kembali menatapku.
Namun kali ini dengan tatapan yang lebih tajam.
Pantulan cahaya dari jendela membuatku dapat melihat wajahnya.
Tak berapa lama sebuah senyuman sinis terlukis diwajahnya.
Aura berbahayanya yang membuat bulu kudukku berdiri dapat kembali kurasakan.
Ia sedang duduk menyilang kaki panjangnya dengan pakaian serba hitam seperti malam itu.
"siii aa apaa anda?"
Aku bertanya dengan suara kecil, suara yang hampir seperti bisikan.
"sudah melupakanku?",
tanyanya kembali padaku dengan senyuman sinis dan penuh percaya diri.
"aaa ku tidak ingat",jawabku pura pura melupakannya.
Mungkin dengan begitu ia akan melepaskan ku lagi.
Seketika senyumnya memudar, ia bangkit dari kursi ku dan berjalan mendekat kearahku.
Melihat langkah majunya aku perlahan berjalan mundur.
Semakin dekat langkahnya, semakin kencang jantung ku berdegub.
Langkahnya perlahan dan tak bersuara namun pasti layaknya predator yang sedang mendekati targetnya.
Langkah mundurku terhenti saat punggung ku menabrak dinding dan tanpa sadar ia telah berada tepat didepanku.
Sangat dekat hingga aku menatap kebawah menghindarinya.
"si siiiapaa kau?!!"
tanyaku lagi kali ini aku berusaha melihat sekeliling, berusaha mencari alat yang dapat kugunakan sebagai senjata untuk melindungi diriku.
"kita bertemu diclub sebulan yang lalu, kau bahkan menguping pembicaraan bisnisku" ,
katanya mendekatkan wajahnya hingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya.
"bagaimana kau bisa masuk?!" ,
tanya ku berusaha mengulur waktu sampai aku melihat album fotoku yang tergantung didinding.
"Apa kau lupa malam itu aku yang membawamu kembali?",
Ucapnya menarik daguku untuk menatapnya langsung
Dengan jarak sedekat ini, aku dapat melihat jelas betapa tampan wajahnya.
Rahanyanya tajam dan hidungnya yang tinggi.
Bibirnya yang merah menghembuskan angin kecil pada wajahku.
"aaapa mau mu?" tanya ku menatapnya.
"Kau",
Aku tak dapat melihat senyuman kecil lagi diwajahnya.
Hanya tatapan serius dan berbahaya yang dapat kutemui
Mataku membesar terkejut mendengar perkataannya. .
Apa maksudnya?!
Apa ia mau menjual ku?!
Mengambil organku?!
Pikiranku memikirkan segala kemungkinan yang semakin membuatku panik.
Seperti firasatku malam itu, naluriku memberitahuku untuk segera melarikan diri.
Dengan gerakan cepat aku mengambil album foto itu lalu menghantam kepala pria didepanku dengan keras.
Ia mengerang kesakitan dan refleks melangkah mundur selangkah.
Melihat kesempatan ini tentukannya aku memanfaatkannya untuk melarikan diri,
Kakiku berlari dengan kencang melewatinya berjalan kearah pintu.namun saat akan mengapai gagang pintu sepasang tangan dengan kasar membungkam ku dengan sapu tangan.
Walau aku memberontak dan menjerit namun akhirnya usahaku sia sia.
Perlawananku dengan cepat berakhir karena seketika semua menjadi gelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Ruthless Mafia
RomanceDexter Maston , 28 Bos mafia di Itali yang terkenal akan kebrutalannya, tapi penampilan dan wajah nya tidak sesuai dengan image mengerikan yang selalu orang bayangkan. Ia sangat menawan dengan ciri khas jas serba hitam. Mata biru bagai lautan yang...
