Cassy POV :
Berjalan keluar dari kamar mandi aku mengira akan melihat Dexter yang sedang duduk menungguku dikamar. Namun aku tak dapat melihatnya, walau telah menyusuri sudut-sudut kamar sambil memanggilnya.
Jantungku mulai berdegub kencang saat tak kunjung menemukannya.
Apa ada hal darurat hingga ia tak memberitahuku terlebih dahulu sebelum pergi?
"Dexter?!"
Aku memasuki ruangan-ruangan yang luas yang tadinya bahkan tak kusadari ada.
"Dexter??"
Aku terus menerus memanggilnya namun.... tak kunjung mendapat balasan.
Seolah ada yang sedang mengawasi, perasaanku mulai panik. Aku tahu tak mungkin ada yang bisa masuk kedalam suite kami, dan tingkat keamanan pasti sudah jauh lebih ketat sekarang. Aku tahu keadaanku sedang tidak stabil dan reaksiku sekarang berlebihan.
Namun wajah dan suara pria yang tertembak itu terus menerus muncul dalam benakku, dan setiap kali aku menutup mata bayangannya akan langsung terlihat jelas dan sekujur tubuhku akan berkeringat dingin.
"Cassy?"
Suara yang kutunggu-tunggu akhirnya menyahutku dari belakang..
Dexter!
Ketakutan dan kepanikan yang tadi menyelimutiku langsung hilang begitu aku berbalik dan melihat wajahnya.
"k.. Kau kemana?", suaraku sedikit serak dan bergetar
"Aku tadi menerima panggilan David dibalkon kamar", matanya mengarah pada balkon yang berada dibalik pintu kaca.
"Akk... kau tak menjawab walau kupanggil terus dan kukira kau...."
"Dont worry. I won't leave"
Seakan dapat membaca pikiranku, Dexter berjalan mendekat dan mendekapku erat dalam pelukannya. Tangannya yang besar mengelus halus rambutku.
Aku tak pernah mengira Dexter memiliki sisi lain selain sikap arogan dan kejamnya. Keraguan apakah ini adalah mimpi atau bukan berkali kali muncul dalam hatiku. Jika ini hanyalah sebuah mimpi, maka mimpi ini sungguh mengerikan dan aku yang tak ingin bangun dari mimpi ini untuk terus berada dalam dekapan Dexter bahkan lebih mengerikan lagi.
"Apa yang kalian bicarakan?"
walau bertanya, tapi tak kusangka ia akan benar benar menjawabku.
"Ia menanyai keadaanmu..."
Dexter melepaskan pelukannya, kedua tangannya menyentuh pundakku.
"Dan?"
"Ia juga bertanya apakah perlu datang kesini untuk menemani dan memeriksamu keadaanmu"
Mata birunya tak berkedip sekalipun seolah sedang menunggu jawaban.
"Lalu apa jawabanmu?", tanyaku
"Apa kau ingin ia datang?" , ia bertanya dengan wajah yang sungguh serius dan kurasa aku tahu alasannya.
"Jika iya..., Apakah kau akan membiarkannya datang dan menemaniku?", jawabku dengan kalimat memprovokasi
Ia tak terlihat terkejut dengan jawabanku dan terdiam sejenak.
David adalah pria yang sangat perhatian dan baik, berada disekitarnya juga terasa tanpa beban dan tak membuatku takut untuk melakukan apapun, sungguh berlawanan dengan saat berada disisi Dexter yang selalu diatur oleh sifat posesif dan bipolarnya.
"Untuk apa menanyakan pendapatku jika kau bahkan takkan mempertimbangkannya?",
Ia tak memberi jawaban dan hanya diam, aku sungguh ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Ruthless Mafia
RomanceDexter Maston , 28 Bos mafia di Itali yang terkenal akan kebrutalannya, tapi penampilan dan wajah nya tidak sesuai dengan image mengerikan yang selalu orang bayangkan. Ia sangat menawan dengan ciri khas jas serba hitam. Mata biru bagai lautan yang...
