Chapter 29 - Dream

12K 563 57
                                        

CASSY POV :

*1 jam sebelumnya*

Seorang pelayan pria datang meletakkan sebuah minuman
"Apa anda nona Cassy?", ia bertanya.

"Iya.. kenapa?"

Tangannya langsung mengeluarkan pistol dan mengarahkannya padaku.

DOR! DOR!

Sebuah peluru ditembakkan tepat menembus kepala nya dari belakang.
Peluru lain dari samping ikut ditembakkan lagi dan kali ini menembus lehernya.
Muncratan darah mengenai wajahku.

Pistol yang tadinya diarahkan padaku ikut jatuh bersamaan dengan tubuh pelayan tadi ke lantai tepat dihadapanku.

Nafasku berhenti, kedua mataku terpaku melihat kedepan berusaha memproses apa yang barusan terjadi.
Pada saat ini, aku seakan tak lagi dapat merasakan tubuhku.

Apa yang terjadi malam itu diclub kembali terulang dibenakku.
Perasaan yang telah kulupakan , rasa takut saat itu, semua perasaan itu kini kembali dapat kurasakan dengan jelas.

Dexter berlari datang, berlutut dihadapanku.
Bibirnya terus bergerak , seperti sedang mengatakan sesuatu namun tak ada satupun kata yang dapat terdengar.
Pandangan ku tak dapat lepas dari karpet putih yang kini berubah menjadi merah oleh genangan darah.

Dua buah tangan hangat menyentuh pipiku.
Pandanganku beralih pada pemilik tangan itu.
"CASSY!!!"

Ia terlihat panik.
"Sadarlah!!!"

Aku membuka mulut, namun tak dapat menemukan suaraku.
Gelas disebelah tanganku tak sengaja tersenggol dan menumpahkan isinya padaku.
Tak tahu harus mengatakan apa saat pandanganku terus tertuju pada genangan darah itu.

"Jangan melihat"
Tangan Dexter menutup kedua mataku.

Ia segera mengendongku dengan tangan lainnya dan berjalan meninggalkan ruangan.
Samar samar aku masih dapat mendengar suara jeritan histeris dan keributan lain disekelilingku.

Saat telah berada diluar ruangan Dexter melepaskan tangannya yang tadi menutupi mataku.
Ia berjalan dengan cepat melewati puluhan pasang mata yang tertuju pada kami.

"DOKTER. SEKARANG!",
Dexter berbicara dengan keras melalui telepon saat kami tiba disuite.
Walau aku tak yakin alasan ia terlihat panik dan tak seperti biasanya.

Dengan tissue, ia membersihkan berkas darah yang menempel pada wajahku.
Air mata ku mengalir membasahi pipiku. Isakan tangis ku memenuhi ruangan.

Aku memeluk Dexter yang berada didepanku dengan erat.

Apa yang barusan terjadi?

*********
Setelah menenangkanku, Dexter membawa masuk seorang dokter dan perawat.

Perawat itu menawarkanku segelas air yang kemudia ku tolak.
Dokter itu mendekat namun saat ia akan melakukan pemeriksaan, tanpa kusadari tanganku menepisnya dan bergerak mundur.

"Aku tak terluka"
Ucapku menunduk

"Apa kau takut nona?"
Dokter itu bertanya namun aku tak menjawabnya.

"Kau tak perlu takut...... Aku adalah dokter, dan takkan melukai mu"

"Aku tahu.... Akk.. Aku hanya...."
Ucapanku terbata bata.

"Aku tidak tahu"
Ia menghela nafas.

"Baiklah.....
"Sepertinya kau masih sangat shock dengan kejadian tadi dan tak nyaman dengan orang asing"
Ia Berdiri menatapku sejenak, sebelum meminta Dexter untuk berbicara di ujung ruangan.

The Ruthless Mafia Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang