Chapter 32 - Confession

4.8K 238 20
                                        

Cassy POV :

Source : Google

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Source : Google

Cassy POV :

Memandangi kota London saat dini hari dari kapal sungguh berbeda dari daratan. Lampu lampu yang masih menerangi bangunan-bangunan karna langit belum sepenuhnya terang memberi perasaan nyaman dan tentram. Seakan kejadian semalam hanyalah mimpi buruk karna tidak mungkin hal mengerikan seperti itu dapat terjadi di kota nan indah ini.

Dexter menyuruhku untuk berkeliling menjelejahi isi kapal sendiri selagi ia sibuk membereskan pekerjaannya yang telah bertumpuk. Walau aku tak mengerti apa yang dikerjakannya karna sedari tadi ia hanya berbicara ditelepon dengan raut wajah yang sangat serius. Aku juga tak dapat mendengar isi percakapannya karna ia akan selalu menjauh saat melihatku mendekat.

Ini adalah kali pertamanya aku menaikki kapal pesiar pribadi, dan seluruh isi nya takkan pernah berhenti membuatku terpukau. Seluruh isi kapal juga kosong tanpa kehadiran satupun pelayan, namun anehnya semua hidangan lezat telah disajikan dimeja.

Tiba-tiba ponselku berdering dan nama Jack muncul. Awalnya aku ragu untuk menerima panggilannya karna kalau sampai Dexter tahu, ia pasti akan marah lagi.

Namun sepertinya ia takkan berhenti karna ponselku terus menerus berdering

"Halo?", akhirnya aku pun memutuskan untuk menerima panggilannya.

"Cassy?!!" Kau baik-baik saja?!, suaranya terdengar khawatir sekaligus lega.

"Akk.aku? Ya..yah aku baik baik saja. Ada apa Jack?"

"Bisakah kau memberitahuku keberadaanmu sekarang?"

"Apa maksudmu? Kenapa kau sepertinya panik sekali?",

"Aku..... ", ia berhenti sebentar

"Hanya khawatir karna sudah lama tidak melihatmu lalu tiba-tiba mendapat kabar bahwa kau telah mengajukan cuti semetara dari kuliah", lanjutnya

"Cuti katamu?", aku mengulangi perkataannya

"Benar, apa kau sedang dalam masalah? Jika iya, katakan saya aku akan membantumu, apapun itu." ,

aku tak dapat menjawab pertanyaan Jack karna masih terkejut dengan cuti kuliah yang tak pernah kuajukan.

"Kau tak usah khawatir, aku baik-baik saja.. Maaf tapi aku harus pergi sekarang",

aku langsung mematikan ponselku saat melihat Dexter.

"Siapa yang menelponmu?", Dexter berjalan mendekatiku

Damn! Here we go again...

"Aku takkan mentoleransi kebohongan" , seakan dapat membaca pikiranku ia memperingati sebelum aku berbohong karna memang itulah yang akan ku lakukan.

The Ruthless Mafia Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang