Dexter Maston , 28
Bos mafia di Itali yang terkenal akan kebrutalannya, tapi penampilan dan wajah nya tidak sesuai dengan image mengerikan yang selalu orang bayangkan.
Ia sangat menawan dengan ciri khas jas serba hitam. Mata biru bagai lautan yang...
"Kau belum juga selesai?", Dexter bertanya dari balik pintu kamar mandi
"Bisakah kau bersabar? Ini sudah ketiga kalinya kau bertanya..."
Cassy sebenarnya tidak berniat berbicara dengan nada tinggi, tapi ia keceplosan dan nadanya sekarang terdengar seperti sedang membentak boss mafia yang paling ditakuti di Itali.
"Apa?" , Dexter bertanya untuk memastikan apa yang barusan ia dengar, sekaligus menantang untuk mengulangi perkataan itu sekali lagi.
"Mak..maksudku..mohon tunggu sebentar lagi saja", tentu saja kali ini dengan nada lemah lembut
Dexter menghela nafas.
"Kau telah mengatakan hal yang sama 20 menit yang lalu"
Lelaki yang biasanya paling benci menunggu entah sejak kapan telah berubah menjadi orang yang sabar. Yah....walau kesabarannya tidak berlaku pada semua orang.
"Sebenarnya apa yang membuatmu begitu lam......"
Sebelum Dexter dapat menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar mandi terbuka.
DEG!
Jantung Dexter berdegub kencang saat melihat senyuman wanita didepannya. Sebuah perasaan yang tak seharusnya ia rasakan sepertinya telah muncul. Sesuatu yang seharusnya tak boleh ia rasakan.
Didalam kehidupan pria itu, Cassy bagaikan sebuah bulan yang muncul di malam hari, bulan yang memancarkan cahayanya pada malam yang diselimuti oleh kegelapan.
Namun pertanyaannya, bagaimana jika Dexter telah terjatuh terlalu dalam? Karna tak semua kegelapan dapat ditembus oleh cahaya.........
"Aku sudah siap!"
Suara lembut menyadarkannya dari lamunan
"Kita akan kemana?"
Dexter berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, menghiraukan pertanyaan yang barusan dilontarkan padanya.
"Hey! kau belum menjawab pertanyaan ku" , Cassy bertanya sekali lagi sambil mengikuti langkah pria itu.
****************
Saat perjalanan dimobil pun keduanya tidak saling berbicara maupun bertatapan. Dexter yang kini sadar dengan perasaannya memutuskan untuk menghindari Cassy dan tak dapat menatapnya sama sekali.
Matanya hanya menuju keluar jendela dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mengenang masa lalu kelamnya dan apa yang telah ditanamkan ayahnya sejak ia keci. Bahwa perasaan hanyalah emosi konyol yang akan menjadi kelemahan dan membawanya pada kehancuran.
Mobil tiba-tiba berhenti dipelabuhan, membuat Cassy bertanya-tanya
"Kenapa kita berhenti disini?" , Setelah diabaikan berkali kali, kini ia telah memutuskan untuk tak akan turun sebelum tau kemana tujuan mereka.
"Apa kau akan memperdagangkanku lagi?"
Dexter merasa marah mendengar pertanyaan itu. Walau sadar dimata Cassy dirinya hanyalah monster berhati dingin namun entah mengapa hal itu kini membuatnya marah.
"Maksudmu aku menghabisi tua bangka itu lalu melindungimu hanya untuk menjualmu kembali?"
Cassy terdiam sebelum akhirnya bertanya "Kau menghabisi lelaki tua itu?"
Saat tak ada jawaban, ia mengelengkan kepalanya. "Apakah nyawa tak ada artinya bagimu?"
"Lalu dengan cara apa kau kira aku merebutmu kembali?" "Duduk dengan kopi ditangan sambil membahas aku ingin meminta kembali wanitaku?"
Perubahan sikap Dexter kini mengingatkan Cassy kembali seberapa bipolarnya pria ini. Hanya untuk semalam ia bersikap manis dan baik, tapi hari ini sikap dinginnya kembali lagi.
"Dan apa itu salahku?"
Damn! Pertanyaan Cassy seakan sebuah tamparan. Mengingatkan pria itu bahwa apapun yang telah terjadi adalah kesalahannya. Pikiran Dexter kini sedang kacau membuatnya bersikap tidak rasional.
"Eh.. Mm... Bos... Apakah saya perlu turun...dulu?" Supir yang masih didalam mobil bertanya merasa tidak seharusnya ia berada ditengah pertengkaran kedua orang itu.
Dexter hanya menatapnya tajam dari kaca mobil menyuruhnya diam.
Ia lalu menarik nafas lalu berkata "Cassy" "Bisakah kau percaya padaku saja kali ini dan ikut tanpa bertanya? "
Melihat keseriusan dari tatapan pria bermata biru itu, cassy akhirnya mengangguk.
Seluruh pelabuhan dikelilingi oleh pihak keamanan Dexter yang berpakaian serba hitam dengan pistol masing masing digenggaman seakan seluruh tempat merupakan miliknya.
Cassy juga sadar ia sebenarnya tak pernah memiliki pilihan lain selain mengikuti perintah Dexter.
Namun kenyataan bahwa pria ini kini tak lagi memaksakan keputusannya pada Cassy dan meminta ia untuk percaya padanya membuat Cassy tersadar bahwa Dexter telah berubah perlahan lahan. Walau tentu Dexter sendiri belum menyadari perubahannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Source : Google
Cassy sangat mengagumi kapal pesiar mewah yang ia lihat. Tak pernah ia bayangkan kalau suatu saat akan menaikki kapal nan mewah ini bersama dengan seorang bos mafia.
Langit yang masih belum terang karna dini pagi malahan membuat pemandangan dan lampu lampu yang menghiasi kapal semakin indah.
Walau Cassy memiliki beribu pertanyaan, namun ia memutuskan untuk menepati janjinya dan tak bertanya sama sekali.
Btw gais.... Aku tahu kalian merindukan scene *ehem* *ehem* Sabar ya.... Next chapter akan terjadi........ ...... Pokoknya like, vote dan pantengin chapter slnjtnya ya!