[22]

635 77 1
                                        

"Kau kurusan deh, Mar," Sasanti menegurku sembari menyipitkan matanya. "Kau diet atau stres?"

Diet ya? Aku bahkan kepikiran untuk melakukan hal tersebut, mengingat aku harus menjaga porsi tubuhku sebelum hari pernikahan tiba. Namun sepertinya percuma saja, banyaknya aktivitas mengurus perintilan pernikahan sudah dapat menguras energi perhari, yang menyebabkan lemak-lemak di tubuhku sedikit menipis.

"Nggak diet aku, makin stres kayaknya kalau harus diet mah," keluhku sembari menghela napas.

"Refreshing, nah. Nggak mau ambil libur kerja?"

"Aku udah ngerapel libur, Mbak, jatahku buat libur udah nggak ada lagi bulan ini," kataku dengan lemas. Aku sengaja merapel jatah libur bulan ini untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahanku. Karena jujur saja, aku kesulitan menemukan waktu libur yang berbarengan dengan Radika.

Sasanti menepuk-nepuk pundakku dengan pelan. "Sabar ya say. Dibawa santai aja. Ya walaupun sebenarnya aku pun tak tahu gimana perintilan perkawinan itu. Tapi kurasa, kalau sudah sah pun, kalian juga udah bisa ena-ena. 'Kan di situ enaknya."

"Hush!"

Sasanti langsung tertawa. Untung saja di sini hanya ada aku dan dirinya. Kalau ada Sam--perawat laki-laki yang nama panggilannya persis denganku, pasti langsung heboh.

"Eh, tadi pagi aku visit salah satu kamar inap, ada laki-laki tampannya bukan main, Mar."

"Siapa, Mbak?" tanyaku antusias. Namun, kepalaku langsung ditempeleng olehnya.

"Ingat calon suami kau!"

"Aduh! 'Kan masih calon, Mbak, belum jadi suami," kekehku pelan.

Sasanti menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan macam-macam kau ya sama pasienku satu ini."

"Idiiiih. Pasienku satu ini," cibirku sembari membeo. "Palingan masih gantengan Mamasku," kataku dengan membela Radika. Paling-paling sekarang telinganya sedang gatal gara-gara kugibahin.

"Jauh, Mar. Ibaratnya nih, ya, daging steak sama sate. Nah, si itu pasien macam steak, calonmu mah di level sate."

"Enak aja!"

Sasanti malah terkekeh. Ya ... mau bagaimana pun sebenarnya aku sudah pernah bilang, kalau Radika memang nggak cakep-cakep amat. Tapi, agamanya lebih penting kok daripada urusan paras. Betul, nggak? Percuma kalau wajah rupawan tapi nggak bisa membimbing ke jalan yang lebih baik.

"Kamarnya nomor berapa sih, Mbak?"

Ya walaupun ujung-ujungnya aku penasaran juga. Hahaha. Siapa tahu ternyata pasien itu 11-12 sama Song Jongki atau pun Park Bogum.

Sasanti mencibir. "Kamar paling ujung, terakhir."

Aku melihat board yang terpajang di dinding, menampakkan identitas pasien beserta tanggal masuknya ke kamar inap. Dan ...

"Kau ke kamarnya, ya. Aku mau ke toilet, sudah diujung. Ini obat-obatnya yang harus diminum."

"Eh, Mbak!" Aku langsung menarik tangan Sasanti. "Mbak ajalah yang ngasih, tiba-tiba aku jadi ingat calon suamiku, takut khilaf."

"Halah," Sasanti langsung menepis. "Cepatlah kau kasih ini obat, aku sudah tak sanggup ini!"

Akhirnya Sasanti meninggalkanku dengan nampan obat beserta minumannya. Aku menghela napas. Kenapa sejak tadi aku tidak menyadari, sih?

Dengan langkah berat, aku membawa nampan tersebut dan berjalan di lorong menuju kamar yang berada di ujung, tepatnya bernomor 20. Aku memang menjaga kamar VIP, jadi satu kamar hanya berisi satu orang saja.

UNEXPECTED [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang