Dua Ẃulu A'Lima

43.4K 4.2K 223
                                        

•••

Aku dengan terburu-buru menarik tangan Mia, sebelum Pak Restu menyelesaikan urusannya dengan tamu miliknya di sana.

"Mi, ayo."

"Ih, ngapain sih? Gue kan lagi lihatin Pak Restu. Kangen tau."

Aku memutar bola mata dengan malas, teman kampret begini nih.

"Please, Mi." Dengan muka melas dan mulut komat-kamit, aku memohon kepada Mia, tapi Mia kekeuh aja gak mau beranjak buat pindah dari lobby.

"Lo gak kangen apa sama Pak Restu?" tanya Mia dengan suara yang lumayan keras, sampai satpam yang sedang mengantarkan orang, entah tamunya siapa ke mobilnya menoleh.

"Bego." Aku menyeret Mia menjauhi gedung A. Di saat Mia dengan bacotnya yang super teriak-teriak gitu, Pak Restu melihat ke arah kami. Aku gak lihat dengan jelas tampangnya gimana karena sibuk narik-narik tangan Mia, ilfeel-ilfeel deh doi.

Kami duduk di kursi panjang, dekat parkiran mobil. Keringat mengucur dari dahi, siang bolong begini disuruh nyeret-nyeret anak orang. Mia udah kayak anak kecil yang gak dibeliin mainan sama mamahnya, untung dia gak guling-guling di lantai depan lobby.

"Lo malu-maluin dah, Mi." omelku pada Mia, yang diomelin cuma cengengesan gak jelas.

"Kan seger, Mi liatin Pak Restu siang bolong." jawab si Mia, "siapa tahu dia juga pingin lihat lo."

"Ngekhayal mulu ah."

"Tapi, serius, Re. Dia ngelihatin kita tadi." Mia dengan matanya yang berbinar-binar mulai ngekhayal yang enggak-enggak.

"Ya iyalah. Lo gak sadar tadi teriak-teriak nyebut nama dia?" Aku menarik rambutnya yang dicepol bagian belakang. Kesal. Tapi si Mia masih aja bengong sambil senyum-senyum gak jelas.

"Dia naksir lo beneran deh, Re."

"Siapa?" tanyaku.

"Pak Restu." jawabnya, aku mendengus kasar mendengar jawaban dari Mia. Bocah ngekhayal ketinggian.

"Ngimpi lo. Dia kan udah punya cewek, yang suka dia ajak makan itu. Yang suka diomongin anak-anak." Seret ih, tenggorokan kering banget. Udah ketemu si Bimo, terus si Restu ibu ngelihatin gitu banget, ini lagi Mia ikut-ikut ngomongnya gak jelas. Aku mengambil Tupperware kuning dari dalam tas. Berat sekali ujian hidup. Sampai bikin dehidrasi.

"Temen doang kali, Re. Lo mah katanya gak suka tapi diem-diem kayak cemburu."

Kampret. Air minum yang baru sampai mulut menyembur sebagian, women's boyfriend jeans milikku sampai basah, udah kayak ngompol, tersangkanya cuma ketawa ngakak sampai jongkok-jongkok.

"Mia!" teriakku kesal. Lalu meletakkan botol minum di atas kursi panjang tempatku duduk dan mencoba meminimalisir efek ngompol yang terlihat jelas di celana milikku. Sumpah, ini keliatan banget kalo bahan jeans begini kena air.

"Gila, Re. Segitunya." kata Mia masih dalam mode ketawa ngakak sambil jongkok. Anak gadis Tante Ratna gini banget sih.

"Apaan sih, lo! Males ah, bete gue." sungutku. Temen kayak gini enaknya diapain? Dibikin sate goreng pakai sambal taichan, terus dijual enak deh.

Aku mengelap sekitar jilbabku dan mengibaskan celana jeans yang terkena air, susah tau ngibasin begini.

"Kocak lo, Re. Udah, Rere." Mia masih ngos-ngosan selesai ketawa, "celana lo gak bisa dikibasin kayak rok atau kulot biasa punya lo." Mia duduk di kursi panjang, meraih botol minum milikku. Haus kan abis ketawain orang.

IMPOSSIBLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang