Dua Ẃulu A'Walu

46.5K 4.3K 180
                                        

•••

Mia meninggalkanku untuk cuci tangan di wastafel yang ada di toilet ujung kantin. Gak kok, Mia cuma bercanda. Dia sering banget ngomong kayak gitu kalau udah kesal sampai ubun-ubun, tandanya aku udah kebangetan.

Ternyata akun IG yang berkomentar tentang kabar di IG Pak Restu, yang punya adalah ibu-ibu yang sudah berumur sekitar 40 tahun keatas, mungkin teman ibunya Pak Restu. Pantesan kelakuannya begitu kalau main Instagram, apa aja di komentarin di kolom komentar. Belum lagi tadi aku lihat isi feed-nya makanan hasil karyanya semua.

"Gua kenyang mau balik. Lo juga mau ketemu Pak Restu kan?" kata Mia selesai membayar pesanan nasi sotonya pada ibu kantin.

"Nanti dulu. Gue mau tanya dulu." Aku menarik tangan Mia supaya dia kembali duduk di kursi.

"Apaan? Tentang Pak Restu lagi?"

"Lo ngomong jangan kencang-kencang bisa?"

Mia si mulut bawel. Kalau ada tombol volume di mulutnya si Mia, pingin aku kecilin suaranya. Walaupun keadaan kampus sepi kan kita gak tau di mana agen-agen lambe kampus berada. Apalagi nama Restu yang disebut, beuh!

"Apaan sih? Apaan?"

"Gue harus ngomong apa ke Pak Restu, Mi?"

"Yeh. Nanya gue. Tanya tuh sama hati lo, yang tahu perasaan lo kan cuma diri lo sendiri. Tapi jangan sampai kata hati lo gak sinkron sama logika."

"Tua lo, Mi. Kalau udah masalah ginian." Aku menepuk-nepuk pipi Mia.

Tapi, gimana kalau nanti Pak Restu beneran marah, dan tadi ketawanya cuma kamuflase?, "terus, maksud dia upload foto gue di close friends IG apaan?"

"Ya, tanya. Sayangku, Rereku."

"Emang dulu dia kerja kantoran? Itu kolom komentar isinya bilang gitu semua?"

"Tanya, Rere. Tanya." Mia bediri dan meremas kemasan botol air mineral di tangannya sambil memandang ke arahku hingga menimbulkan bunyi yang mengganggu telinga.

"Oke, oke Mi. Taruh ya, botolnya. Hehe." kataku dan mengambil botol plastik yang diremas Mia sampai tak berbentuk. Mia makin kesal, tandanya.

"Lo bisa gak si, Re? Kalau hal kayak gini ikut pinter gitu, kayak lo lagi ngerjain tugas?" Mia mendengus dan duduk kembali di kursi seberangku.

"Lo mah." Aku melemparkan botol plastik tak berbentuk tadi ke arah Mia, dan ditangkap olehnya, "bukan gue yang gak jelas, si Restu ibu yang gak jelas."

"Ya udah. Lo berdua kagak jelas. Gue balik. Pusying kepala gue." Mia mencepol rambutnya yang hitam tinggi-tinggi. Kami berdua punya kebiasaan yang sama, kegerahan setelah makan.

"Pak Bimo tadi namanya. Gak tahu dia dosen apa, kayaknya asdos juga. Makhluk sejenis Pak Restu, yang gak jelas." terangku sebelum Mia beranjak untuk pulang.

"Renata, lo emang yang terbaik. Gue mau cari username IG-nya nanti. Thank you, baby."

Belingsatan kan kalau udah tau nama cogan. Penyakit lama Mia yang udah kronis. Mia memeluk erat diriku yang posisinya masih duduk, lalu cipika-cipiki seperti biasa. Untung aku gak jatuh ke belakang dari kursi kantin gara-gara ulahnya.

"Bye, My Renata." Lalu, Mia berjalan dengan cepat sambil memainkan ponselnya, beneran deh dia pasti nge-stalk IG Pak Restu buat cari username IG Pak Bimo. Semoga Pak Bimo kagak aneh-aneh.

Aku menyelesaikan seporsi siomay di piring yang hanya tersisa parenya. Si hijau pahit, tapi kalau masaknya benar gak akan terlalu pahit kok. Sambil mengunyah, aku kepikiran sama foto yang Pak Restu upload di IG, kok seneng ya? Padahal yang foto sebelumya belum Pak Restu hapus. Harusnya kan kesal.

IMPOSSIBLETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang