Memories
Sometimes you will never know
The value of a moment
Until it becomes a memory
S e n a
"Eh, Dan," ujar gue memecah keheningan yang sejak tadi terbentuk. Jhordan yang sedang membaca buku—atau mungkin sedang tertidur—menoleh hanya sepersekian detik sebelum akhirnya kembali menopang dagunya malas. "Hm."
"Lo pernah gak benci sebenci-bencinya sama orang?"
Jhordan menegakkan duduknya, kemudian menyipitkan matanya kepada gue. Tatapannya berubah menjadi tatapan tajam, dan di detik selanjutnya dia tertawa terbahak-bahak. "Hahaha. Gue tahu nih arah pembicaraan lo ke mana! Heran, deh, biasanya lo gak pernah ngurusin orang-orang yang gak penting di dalam hidup lo?"
"Ya sekarang menjadi penting," jawab gue ragu. "Demi masa depan gue."
"Ceilaaa udah ngomongin masa depan aja bocah," tau-tau Bang Ijul sudah duduk di samping Jhordan dengan headphone yang terpasang. Kemudian dia hanya manggut-manggut mengikuti irama yang keluar dari sana.
"Lo mau lomba, Bang?" Tanya Jhordan sambil melirik kertas yang sedari tadi dipegang oleh Bang Ijul—dipegang doang, gak dibaca. Kemudian Bang Ijul menghela napas dan mengangkat bahunya, "Ini naskah drama."
Jhordan membulatkan mulutnya dan manggut-manggut. Kemudian, tatapannya beralih kepada gue yang masih menunggu jawabannya. Eh tau-tau si Jhordan ini malah nyengir dan menggaruk kepalanya yang gue yakin gak gatal sih—kecuali kalau dia belum keramas berminggu-minggu, "Cieeee nungguin, ya." Matanya mengedip-ngedip membuat gue pengen nampol.
Kayaknya si Jhordan ini makin menggila ketika tadi siang Hana—gebetannya sekaligus temannya Bening—menerima tawaran makan siangnya. Gue yakin sebenarnya Hana kepaksa sih, soalnya mukanya udah kayak orang mules dan makannya lamaaaa banget sampai gue dan Bening menghabiskan kerupuk permicinan dunia yang disimpan di kotak-kotak kecil di atas meja warteg.
Tau gak kerupuk permicinan dunia? Itu kerupuk terenak yang pernah gue makan—kerupuk mie yang di atasnya ditaburin bumbu-bumbu yang sembilan puluh persennya adalah micin. Harganya sangat terjangkau dan bisa menemani di kala bosan melanda.
Kejadian itu pun diiringi oleh drama-drama di tengah plaza Fakultas Teknik Geologi yang cuma bisa membuat gue bengong dan pada awalnya gak mau melerai mereka berdua. Gue sangat-sangat heran, padahal Jhordan ngajak makan Hana, tapi kenapa Bening yang ribut?
"Heh ngapain lo ngajak-ngajak Hana makan? Oh, jangan-jangan lo mau naruh racun ya di makanan Hana?" Tanya Bening dengan berapi-api, kemudian baru saja Jhordan membuka mulutnya beberapa sentimeter, Bening sudah menyahut kembali. "Atau jangan-jangan lo naruh pelet ya? Iya? Biar Hana mau jalan bareng lo?"
"Heh apaan sih lo ikut campur hidup gue?! Ya suka-suka gue lah, mau ngajak siapa buat makan, kenapa lo yang ribut?" Sahut Jhordan—sama-sama berapi-api. "Kalau lo yang gue ajak makan, baru gue bakal naruh racun! Sekalian aja gue taruh bom di makanan lo biar lo gak bacot terus!"
"Denger ya, kalau lo mau ngajak makan Hana, gue harus ikut!!"
"Idih! Lo siapa? Ngapain ikut-ikut? Bilang aja lo mau gue traktir," ujar Jhordan lagi. "Dengerin ya nih pantat panci! Gue gak bakal apa-apain temen lo. Otak lo itu isinya apa, sih? Bisanya suudzhon muluuu sama gue. Makanya jangan kebanyakan main tiktok."
"Siapa yang main tiktok? Elu tuh, Kak, yang suka liatin istri sahnya Iqbaal sambil nyanyi-nyanyi lagunya!!" Bening menyahut.
Pertempuran itu belum selesai sampai di sana. Setelah sekitar sepuluh menit kemudian—ketika gue sudah memasang tampang cengo selama itu juga—gue mulai gak tahan. Apalagi gue lihat Hana berusaha membuka mulutnya untuk melerai tetapi selalu ditampis oleh Bening. "HEH UDAH KENAPA SIH?! Lo berdua kayak anak kecil aja!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Rêver
General FictionYou're invited to: Maison de rêve, rumah mimpi. Tujuh orang pemuda dengan tujuh mimpi yang berbeda datang ke sebuah rumah sederhana berwarna biru milik seorang laki-laki paruh baya. Rumah itu kosong dan sepi, tapi akhirnya menjadi rumah penuh warna...