Silence
It took me a while
To realize
That everything can be said
In a silence
Y o g a
Sinar matahari sudah masuk menyelusup melalui celah-celah gorden yang terbuka. Menyadari ini sudah cukup siang, gue terlonjak. Parah nih, telat shalat subuh. Sementara gue mengerjap-ngerjapkan mata untuk mengembalikan kesadaran, gue menyadari bahwa Julian sudah tidak ada lagi di tempat tidur.
Semalaman gue menemani Julian di kamarnya, udah so sweet belum? Habis kalau gue tinggalin, gue takut dia bakal teriak-teriak lagi kayak orang kesurupan dan mukanya itu jelas-jelas menampilkan ekspresi yang takut setakut-takutnya. Gue gak tahu dia bertemu apa dalam mimpinya, tetapi, mengetahui itu bagian dari masa lalu dia, kemungkinan besar itu bukan hantu.
Julian mungkin sering cekcok dengan ayahnya soal masa depan, tapi cekcok mereka hanya cekcok kecil sebatas sindir-sindiran, dan ayahnya pun hanya meminta Julian untuk membuktikan pilihan hidupnya saat ini tanpa menjatuhkan. Ibu Julian juga sangat mendukung dengan apa yang Julian pilih saat ini, jadi gue rasa masalahnya bukan datang dari keluarga. I guess.
Secepat kilat, gue menuju kamar mandi dan segera melaksanakan shalat subuh yang telat—mungkin udah masuk waktu dhuha. Parah banget gue, untung aja sekarang hari Sabtu dan kuliah libur. Tapi melewati bagian kosan tadi, gue rasa maison de rêve sangat sepi? Masa sih belum pada bangun? Oke, Jhordan adalah pengecualian. Tapi biasanya, si Brian udah ngasih makan di kolam kecil depan kosan, atau Sena yang sedang olahraga—entah joget—di ruang tengah.
"Hello my sunshine!"
Gue tercekat melihat pemandangan langka di depan gue saat menuju dapur. Sosok perempuan berambut panjang dengan celemek mencolok mata tengah tersenyum dan melambaikan tangannya pada gue.
A—apa tadi dia bilang?
My sunshine?
Sejak kapan...
Walaupun kata itu gak pernah dia ucapkan semenjak dia berpacaran dengan gue, tapi kata itu sempat menimbulkan rona merah di pipi gue dalam beberapa detik. Hingga akhirnya gue tersadar, gue gak boleh begini.
Pandangan gue beralih pada Julian yang ternyata sudah berada di sana—mungkin sejak tadi—dengan tatapan kok-dia-bisa-ada-di-sini? Alis gue mengangkat meminta penjelasan, tapi Julian hanya mengangkat bahunya, yang mungkin dapat diartikan sebagai mana-aing-tahu? Kemudian ia lanjut memotong-motong bumbu di atas talenan.
"Ada apa, Ditas?" Tanya gue, menarik salah satu kursi makan dan duduk di sebelah Julian. Tanpa menunggu jawabannya gue bertanya pada Julian, "Lo udah baikan?"
"I'm ok," jawab Julian sambil terkekeh. Kemudian, setengah berbisik, dia mendekatkan wajahnya ke telinga gue. "Gue gak tahu siapa yang izinin dia masuk ke sini. Tau-tau pas gue mau masak, dia ada di belakang gue,"
"Tapi sejak kapan dia berinisiatif datang ke sini..."
Ditas tiba-tiba berbalik dan menaruh sepanci besar sup. "Kalian kok ngomongin guenya sambil bisik-bisik?" Kemudian dia tertawa. Gue menggaruk kepala gue yang tidak gatal. Ini...dia habis kesambet petir kali ya, kemarin? Kemarin kan hujan gede banget.
Semenjak insiden percakapan gue dan Ditas lewat handphone Cakka, gue hampir gak pernah berhubungan sama sekali dengan Ditas. Bahkan, jika gue biasanya menemukan dia di sudut koridor atau di depan masjid, kemarin-kemarin gue justru gak bisa menemukan dia.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rêver
General FictionYou're invited to: Maison de rêve, rumah mimpi. Tujuh orang pemuda dengan tujuh mimpi yang berbeda datang ke sebuah rumah sederhana berwarna biru milik seorang laki-laki paruh baya. Rumah itu kosong dan sepi, tapi akhirnya menjadi rumah penuh warna...