Apa karena cinta ku terlalu besar kepadamu, Sehingga membuat hatiku selemah ini?
Reza memandang langit-langit kamarnya. Ia merasa bosan sekali malam ini. Ia ingin sekali bertemu dengan Naila. Tapi ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Naila. Tiba-tiba ia mendengar seperti ada yang mengetuk pintu kamarnya. Ia pun beranjak dari kasurnya dan menuju ke arah pintu kamarnya.
Papa-nya muncul dari balik pintu.
"Eh Pa, kenapa?"
"Boleh papa masuk?" Reza cukup tersentak. Tidak biasanya papa-nya berwajah serius seperti sekarang ini. Reza pun hanya mempersilakan papanya untuk masuk.
"Papa mau ngomong sesuatu hal yang penting sama kamu." Ucap Papanya.
"Ngomong apa?" Tanya Reza.
"Tentang masa depan kamu." Reza menyergitkan dahinya tanda tak mengerti apa yang dikatakan oleh Papa-nya.
"Mama bilang kalau kamu tidak mau untuk dijodohkan dengan Aurel," Kini Papa-nya sudah menatap Reza 2x lebih serius dibandingkan tadi. "Alasan kamu apa?" Ucap Papa-nya lagi.
"Reza gak suka sama Aurel." Jawab Reza.
"Reza, Cinta itu datang karna terbiasa. Kamu hanya perlu membiasakan diri dengan Aurel. Habiskan waktu dengan Aurel Kamu juga perlu untuk mengenal lebih sifat Aurel." Ucap Papa-nya.
"Tapi cinta tidak bisa dipaksakan kan pa?" Elak Reza.
"Kenali Aurel dan kamu akan jatuh cinta kepadanya." Ucap Papanya dengan suara yang mulai meninggi.
"Pa, Reza masih kelas 11. Masih terlalu kecil untuk mikirin urusan perjodohan. Lagipula apa papa gak percaya kalo Reza bisa memilih pendamping yang sesuai sama hati Reza sendiri?" Jawab Reza dengan suara yang juga mulai meninggi.
"Ini demi masa depan kamu." Bentak Papa-nya.
Reza mengepalkan tangannya. Namun ia menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya secara perlahan.
"Reza yang bakal ngejalanin masa depan Reza sendiri jadi biarin Reza yang menentukan sendiri mau seperti apa masa depan Reza." Ucap Reza yang berusaha untuk tetap tenang dan menghormati papa-nya.
"Kamu kenali Aurel atau kamu akan papa pindahkan ke Australia." Ucap Papanya lalu menutup kembali pintu kamar Reza tanda jika papa-nya tak ingin mendengar penolakkan lagi dari Reza.
Reza menjambak rambutnya frustasi. Ia tidak mengerti apa yang harus ia pilih. Ia tidak mungkin meninggalkan Indonesia. Tapi juga tidak mungkin jika ia harus menerima perjodohannya dengan Aurel. Kenapa Papa-nya seperti itu?
✨✨✨
Setengah jam yang lalu Naila baru saja tiba di sekolah. Saat ia ingin pergi ke toilet tadi ia perpasasan dengan seorang guru. Guru itu meminta tolong kepada Naila untuk mengantarkan beberapa buku ke pos satpam yang berada di dekat gerbang sekolah.
Tapi, Tiba-tiba matanya sudah melihat pemandangan yang cukup membuat matanya tak berkedip sama sekali.
Reza membonceng Aurel?
Mereka berangkat sekolah bareng?
Reza jemput Aurel?
Pertanyaan itu berputar-putar dipikiran Naila. Ia merasakan sesak didadanya dan juga matanya mulai perih. Tetapi ia menahan agar air matanya tidak jatuh saat ini juga. Setelah usai mengantarkan buku-buku itu. Naila langsung berlari menuju kelasnya karna ia sudah tak tahan lagi. Air matanya berhasil lolos mengalir dipipinya.
Sesampainya dikelas, Nadine,Rissa dan juga Tasya yang baru datang terheran-heran dengan keadaan Naila sekarang.
"Lo kenapa si Nai." Rissa mengelus rambut Naila.
"Reza boncengin Aurel." Isak Naila.
"Yaelah Nai, Lu kan tau kalo Aurel ngincer Reza dan dia kan emang gitu sifatnya. Gatel, Bisa aja kan Aurel yang bikin seribu alasan supaya bisa dibocengin sama Reza." Jawab Nadine.
Naila mengangkat kepalanya dan menghapus air matanya. Ia berfikir mungkin apa yang Nadine bilang itu ada benarnya juga.
"Lo tenang aja Reza gak mungkin kayak gitu kok." Tambah Tasya yang membantu untuk menenangkan Naila.
Apa mungkin cintanya yang besar kepada Reza membuat hatinya selemah ini?
"Biar lo tenang mending lo tanyain langsung ke Reza-nya." Saran Rissa.
Naila hanya mengangguk mendengar perkataan teman-temannya itu.
Mungkin nanti Naila akan sedikit menyinggung Aurel ketika bertemu dengan Reza.
✨✨✨
Bel istirahat baru berbunyi 5 menit yang lalu. Tetapi Reza dan teman-temannya sudah sejak lama berada di kantin. Tak lama Naila dan teman-temannya juga datang ke kantin dan ikut bergabung dengan Reza dkk.
Tentu saja Naila duduk disebelah Reza. Reza menoleh kearah Naila.
"Mau makan apa?" Tanya Reza.
"Mau Nasi Goreng aja deh." Naila cukup salah tingkah saat ditatap seperti itu oleh Reza. Reza yang menyadari itu pun tertawa kecil kearah Naila.
"Kenapa?" Kini Naila menatap heran kearah Reza.
"Salting kan lo." Goda Reza.
"Pengen banget lo gua saltingin." Elak Naila.
"Jujur aja sayang." Reza berbisik kearah Naila dan cukup membuat Naila tersentak karena Reza menekankan ucapannya saat mengucapkan kalimat 'sayang'.
Reza kembali tertawa dengan tingkah Naila.
"Orang kalo lagi kasmaran emang serasa dunia milik berdua." Ucap Raffa yang membuat Naila dan Reza kembali ke dunia nyatanya.
"Ngiri aja lo." Ucap Dimas lalu melemparkan bungkus kacang yang telah habis kearah Raffa.
"Gua bilangin kepsek lo buang sampah sembarangan." Ucap Raffa.
"Yeu anceman lo gak takut gua." Jawab Dimas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Hurt
Novela Juvenil"Iya aku pernah suka sama sahabat kamu sebelum kamu datang, namun semua rasa untuk dia tergantikan oleh datangnya kamu, tapi kenapa rasa buat dia datang lagi?" -Naila Verinda Arguna "Aku ga papa kamu suka sama sahabat aku, bahagia kamu bahagia aku j...
