Note: cerita ini saya tulis saat masih SMP
Kecerobohan menjadi awal perkenalannya dengan seorang laki-laki tampan most wanted di kampus tempatnya menuntut ilmu. Klise memang.
Laki-laki yang nampak sempurna dari luar namun menyimpan ribuan duka yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Maaf jika setelahnya gue akan menjauh. -Adam-
----
*Flashback*
Dengan langkah berat yang ia paksakan, seorang remaja yang saat itu baru duduk di bangku kelas 10 sekolah menengah atas itu terus menyeret kakinya kelantai paling atas gedung tempatnya menuntut ilmu selama 6 bulan belakangan ini.
Mata yang memerah cukup untuk membuktikan bahwa ia baru menangis dan terus akan menumpahkan tangisnya untuk saat ini. Pemuda itu terus berlari menuju atap gedung ini. Baginya, kesedihannya kali ini sangatlah menyayat hatinya.
Hari ini, ia kehilangan sosok perempuan yang sangat disayanginya setelah ibunya. Ia kehilangan adik semata wayangnya, satu-satunya gadis yang selalu bisa membuatnya tertawa saat bersedih.
Walau ia tahu tak ada lagi orang yang akan membuatnya tertawa saat ia menangis tapi pemuda itu tetap ingin menumpahkan segala kesedihannya dalam tangisnya kali ini.Tak apa ia dicap sebagai laki-laki yang cengeng seumur hidupnya asalkan sang adik kembali.
Bersedia menukarkan segalanya termasuk nyawanya sendiri hanya agar sang adik dapat kembali bernafas.
Namun keinginannya tentu saja tak terwujud, karna ini sudah lebih dari satu jam sejak sang adik dinyatakan meninggal.
Sekolah. Saat ini hanya tempat ini yang menjadi alternatif pilihan untuknya melarikan diri. Beruntung karna sekarang sudah sore maka murid di sekolah tidak lagi seramai pagi, hanya ada beberapa anggota OSIS yang terlihat berkeliaran dengan banyak barang bawaan ditangan mereka, jadilah ia bebas untuk melakukan apasaja saat ini.
Sekalian, pemuda itu ingin memberitahukan dukanya kepada seorang sahabatnya yang menjabat sebagai wakil ketua OSIS, sosok yang pasti juga akan merasa sangat kehilangan karna sahabatnya itu juga sudah menganggap sang adik seperti adik kandungnya sendiri.
Ia tak rela rasanya jika harus kehilangan sang adik secepat ini, adiknya bahkan belum sempat merasakan bagaimana rasanya memakai seragam putih abu-abu.
Saat ia sudah berada di atap, air matanya kembali tumpah. Rasa sesak kembali membuat nafasnya tercekat hingga ia merasa bahwa pasukan oksigen di paru-parunya sudah sangat menipis.
Ditambah dengan pemandangan menyakitkan yang kini terpampang jelas di hadapannya semakin menambah beban yang di rasakannya.
Dengan matanya sendiri ia melihat dengan jelas bagaimana seorang wanita dan seorang laki-laki kini tengah berpelukan mesra tanpa menyadari kedatangan orang lain disini.
Walau ia tidak dapat melihat wajah sang gadis, tapi ia tahu betul siapa gadis itu. CelineAnastesia, seseorang yang mulai detik ini sudah ia coret dari daftar orang yang dikenalnya.