Note: cerita ini saya tulis saat masih SMP
Kecerobohan menjadi awal perkenalannya dengan seorang laki-laki tampan most wanted di kampus tempatnya menuntut ilmu. Klise memang.
Laki-laki yang nampak sempurna dari luar namun menyimpan ribuan duka yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lo buat gue uring-uringan karna rasa bersalah. -Adam-
--- Adam memandangi gadis itu tanpa berkedip sedikit pun hingga senggolan dari teman di sampingnya menyadarkannya.
“Kak Adam, ada yang mau aku omongin sama kakak. Bisa ikut aku sebentar?” Tanya Zalfa sambil masih tersenyum, kali ini senyum canggung yang ia berikan.
----
Adam berdiri dari duduknya, mengambil tas punggungnya lalu disematkan pada sebelah bahu. Setelah melakukan tos ala anak basket, ia pun berucap pada teman-temannya, “Gue balik duluan ya!”
“Dam, jangan lupa kita ada latihan, dua minggu lagi ada turnamen sama anak kampus sebelah.”
“Sip!” jawab Adam sambil mengacungkan ibu jarinya. Adam kemudian berlalu mengikuti Zalfa yang sudah berjalan terlebih dahulu di hadapanya.
Setelah sampai di taman kampus dan Zalfa sudah membalikkan badannya kearah Adam, saat itu pula senyum Zalfa sirna.
“Mulai sekarang lo udah gak perlu lagi jadi assisten gue, lo udah terbebas. Jadi, mulai sekarang gak ada alasan untuk kita ketemu lagi.” Adam masih betah dengan wajah datar sejak tadi. Mati-matian mempertahankan muka kaku walau ia tak ingin.
Bagai disambar petir disiang bolong, Zalfa berdiri terpaku ditempatnya sambil mencerna kata-kata yang keluar sangat cepat dari mulut laki-laki di hadapannya. Butuh sedikit waktu bagi Zalfa untuk memahami maksud dari sang laki-laki.
“Maksud kakak?” tanya Zalfa dengan hati-hati. Takut-takut ia hanya salah dengar. Matanya sedikit memanas, dengan jantung bertalu cepat. Harapannya tadi pagi sepertinya tidak terwujud. Ia tidak ingin menangis karna ia tidak tahu apa yang harus ia tangisi.
“Lo tahu dengan jelas maksud gue,” jawab Adam sedikit sarkastik. Laki-laki kejam itu kemudian berbalik badan memunggungi Zalfa lalu pergi begitu saja.
Dengan langkah yang terasa sangat berat Adam melangkahkan kakinya juga dengan usaha yang sangat keras agar ia tidak berbalik dan melihat kearah gadis itu. Adam tahu bahwa yang ia lakukan akan melukai gadis itu, namun tetap dilakukannya karna ia tidak ingin gadis itu suatu saat akan terluka lebih parah karna dirinya.
Zalfa terus saja memandangi punggung laki-laki yang terus berjalan menjauhinya. Dalam hati gadis itu sangatlah berharap bahwa laki-laki itu akan menengok sekali saja kearahnya, namun nihil karna nyatanya laki-laki itu terus berjalan tanpa memperdulikan hatinya yang kini serasa sudah jatuh sangat jauh kedasar jurang.
Baru saja tadi malam laki-laki itu membuatnya terbang begitu tinggi karna berfikir bahwa ia adalah gadis yang spesial bagi sang kakak senior. Namun, kenyataan yang ia dapat hari ini membuatnya terjatuh sangat keras.
Tak ia sadari, bahwa air matanya menetes dengan sendirinya, entah apa yang ia tangisi. Zalfa seperti merasakan sesuatu yang asing, perasaan aneh yang tak dapat ia jelaskan menohok hatinya yang paling dalam dan menyakiti hatinya yang rapuh itu.