Happy Reading!!
Jangan Lupa Bahagia...
***
Aku tahu sedalam apapun aku menyimpan rahasia pasti akan terkuak juga.
- Arinda Alfatih -
***
Dinda POV
Seperti biasa setiap pagi di hari sekolah aku berangkat bersama Bang Cakra. Kali ini suasana hati Bang Cakra jauh lebih baik karena Nabila kini resmi menjadi pacarnya. Tidak sia-sia aku menjadi mak comblang mereka walau ada sedikit masalah waktu itu.
Nabila bercerita kepadaku lewat telepon. Katanya Bang Cakra nekad ke rumahnya karena masih menolak Bang Cakra saat pulang sekolah. Akhirnya dia membawa Bang Cakra ke sebuah cafe tidak jauh dari rumahnya.
Nabila punya 2 saudara perempuan. Takutnya jika Bang Cakra ke rumahnya dan bertemu dengan saudari-saudarinya, keduanya akan menyukai Bang Cakra. Nanti ribet, kata Nabila waktu itu.
Proses jadiannya mungkin agak lucu menurutku karena aku tertawa saat Nabila menceritakannya. Membayangkan Bang Cakra memohon-mohon untuk diterima menjadi pacar membuatku teringat saat ia memohon kepada Daddy saat ingin meminjam uang untuk menambah uang pembeli mobilnya yang kurang.
Kalian harus tahu kalau mobil mahal yang dipakai Bang Cakra adalah hasil hutang, sebagian. Saat itu uang Bang Cakra belum cukup. Apalagi saat itu Bang Cakra masih boros-borosnya. Alhasil, dia memohon kepada Daddy untuk dipinjamkan uang. Awalnya Daddy menolak, tapi karena wajah memelasnya membuat Daddy luluh. Tapi sekarang udah lunas, kok. Mobil Bang Cakra ini resmi jadi miliknya.
Jadi kalau mau membayangkannya, aku akan tertawa. Karena wajah memelas Bang Cakra itu lucu banget. Nabila saja yang melihatnya langsung tertawa terbahak-bahak, apalagi aku yang hanya membayangkannya. Bang Cakra itu something, deh.
Awalnya Nabila ingin menolak lagi. Masih ragu dengan Bang Cakra, tapi Nabila juga tidak bisa memungkiri bahwa sekarang adalah saatnya memiliki Bang Cakra yang tidak tersentuh. Pasti Nabila sangat terkejut. Bang Cakra yang di sekolah selalu cool tiba-tiba memohon dengan wajah super memelas di depannya. Astaga, aku tertawa lagi.
"Apa yang lucu?" tanya Bang Cakra tiba-tiba.
"Bang Cakra," jawabku.
"Kok, Abang? Padahal Abang diem aja. Kan, lagi nyetir, nggak lagi ngelawak," tukasnya.
"Cuman ngebayangin aja Bang Cakra berubah jadi Bang Cakra yang sesungguhnya di hadapan Salsha kemarin," ucapku terkekeh.
"Yeeee, ngeledek. Demi cinta itu."
"Awalnya nolak. Cih."
"Ya, kadang rasa penasaran itu menarik kita ke arah yang lain."
"Seperti Abang," tembakku langsung.
"Ya." Bang Cakra terkekeh. "Abang penasaran banget sama dia. Tiba-tiba berubah dan kayak ngehindar. Akhirnya karena rasa kepo, Bang Cakra jadi sering merhatiin dia. Dia ternyata cantik banget, pintar lagi," lanjutnya dengan senyum malu-malu dan pipi yang merona. Uncle aku yang satu ini ternyata benar-benar jatuh cinta.
"Aku seneng. Aku seneng kalau Abang seneng. Semoga ke depannya ada kabar yang lebih baik dari ini," doaku.
"Aamiin." balas Bang Cakra. "Doaian Abang Cakra kesayangan kamu ini. Abang akan ngasih kamu Aunty yang cantik dan adik-adik yang lucu."
Aku hanya terkekeh. Bang Cakra persis ABG yang baru jatuh cinta, katanya. Aku tidak tahu bagaimana rasanya. Padahal aku juga masih ABG. Rasa suka pasti ada, tapi merasa lebih sekedar suka aku belum yakin aku memiliki rasa itu. Selama ini aku hanya sekedar suka kepada satu orang yang tidak ingin kusebut namanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Best Daddy
Ficção GeralArjuna Rifid Alfatih (Juna) adalah seorang duda beranak satu. Ia menikah muda dengan sahabatnya kecilnya. Sayangnya, istrinya meninggal saat melahirkan putri mereka, Arinda Magdalena Alfatih (Dinda). Dinda sendiri tumbuh menjadi gadis cantik yang sa...
