Happy Reading!!
Jangan Lupa Bahagia...
***
Siapa pun kamu jika kau menyakiti putriku kau tidak akan selamat.
- Arjuna Alfatih -
***
Arjuna POV
"Kamu mau kemana?" tanya Mbak Eyrla saat melihatku berlari keluar dari kantor Pak Halim. Kami bertemu di lobi.
"Dinda hilang, Mbak." jawabku.
"Kok, bisa?" tanyanya terkejut.
"Saya nggak tahu. Tapi adik ipar saya menelepon kalau Dinda hilang di rumah sakit. Semalam dia demam tinggi dan dibawa ke rumah sakit, tapi siang tadi Dinda nggak ada di ruang rawatnya," jawabku tergesa-gesa.
"Ya sudah. Kamu sebaiknya kembali ke Jakarta. Pekerjaan ini biar saya yang handle. Kamu harus nemuin anak kamu."
"Iya, Mbak. Makasih. Maaf karena ngerepotin, Mbak."
"Nggak. Hati-hati di jalan. Nanti saya telepon El juga."
"Makasih, Mbak."
Aku segera berlari ke mobilku. Yang sekarang lebih penting adalah putriku. Jantungku rasanya hampir copot. Aku tidak bisa mengatur debaran jantungku. Bahkan rasanya aku ingin menangis. Aku tidak siap kehilangan Dinda.
"Sayang, kamu jangan bikin Daddy takut," bisikku pelan.
Badanku gemetaran karena ketakutan. Bagaimana kalau putriku tidak bisa ditemukan? Astaga, apa yang harus kukatakan kepada Rachel? Aku tidak bisa menjaga putri kami.
Aku terus menghubungi orang rumah. Berharap Dinda pulang. Tapi Phaton, Cakra, bahkan Raja mengatakan bahwa Dinda belum pulang. Aku kesal dan beberapa kali memukul setir mobilku. Aku harus segera di sana.
Hampir magrib aku tiba di rumah. Rumah cukup ramai. Aku masuk dengan tergesa-gesa. Kulihat semua orang yang ada di dalam rumahku, tapi tidak ada tanda-tanda putriku.
"Dinda. Dimana Dinda?" tanyaku dengan keras entah kepada siapa. Ada orang asing di sini, tapi sepertinya itu keluarga Nabila. Mereka terlihat berantakan. Ada apa?
"Cakra dan Raja berserta polisi masih nyari dia," jawab Phaton.
"Kenapa lo nggak bilang kalau Dinda sakit semalam." Aku melangkah ke Phaton dan memegang kerah bajunya dengan kasar membuat Wais yang ada di sana berdiri cepat dan berusaha menahanku.
"Dia ngelarang gua ngasih tahu lo," jawab Phaton lirih.
"Astaga. Dinda." Aku hampir saja rubuh kalau tidak ditahan Wais. "Maafin, Daddy, nak." Kurasakan tubuh Wais menegang di belakangku. Akhirnya dia tahu fakta bahwa Dinda adalah putriku.
"Din-Dinda?" Dia tergagap.
"Dia anak gua, Is. Satu-satunya harta berharga yang Rachel kasih buat gua." Aku menangis. Aku lemah tanpa Rachel. Aku lemah tanpa Dinda.
"A-ah." Dia masih terkejut.
"Tapi ini kenapa?" tanyaku kepada orang-orang yang ada di sana.
"Rumah Nabila kebakaran," jawab Phaton.
"Astagfirullah. Cobaan apa ini? Trus kenapa Cakra pergi?"
"Dia mau nggak mau nyari Dinda," jawab Phaton lagi. Ya, hanya Phaton yang bisa menjawab sekarang. Bunda dan Bulan terlihat tidak bisa berkata-kata. Begitupun keluarga Nabila yang masih terlihat ketakutan.
"Apa ada petunjuk?" tanyaku setelah duduk di sofa dibantu Wais.
"Ada perawat laki-laki yang datang. Dia membawakan Dinda makan siang dan obat. Gua keluar untuk beli makan siang buat gua sama Raja yang waktu itu jagain Dinda. Perawat itu memakai masker dan gua nggak liat mukanya. Tapi setelah dikonfirmasi, perawat itu tidak bekerja di rumah sakit itu," jelas Wais.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Best Daddy
Ficção GeralArjuna Rifid Alfatih (Juna) adalah seorang duda beranak satu. Ia menikah muda dengan sahabatnya kecilnya. Sayangnya, istrinya meninggal saat melahirkan putri mereka, Arinda Magdalena Alfatih (Dinda). Dinda sendiri tumbuh menjadi gadis cantik yang sa...
