Tears and Tragedy

2.1K 118 4
                                        

“Hei…apa yang kau lakukan? Apa kau tidak tahu siapa dia?” Ucap Sohee dengan nada bicara yang tinggi pada Soeun. 

Tamparan di wajah Junho cukup membuat semua yang berada di ruangan vvip itu terkejut. Cukup terkejut hingga Wooyoung melepaskan tangannya yang membengkap mulut Sohee.

Soeun menoleh ke arah Sohee, tepatnya menilai Sohee. Namun, tak satu patah katapun yang terlontar dari mulut Soeun.

Well, dia cantik dan seksi. Glamour dan menawan. Tak heran jika Junho menginginkannya’ ucap Soeun miris dalam hati. 

Hatinya seakan teriris ketika tahu bahwa ada wanita lain bersama Junho yang secara fisik di mata Soeun, jauh lebih cantik dibanding dirinya.

Lalu Soeun menoleh ke arah Junho lagi. 

Apa yang membuatku berpikir bahwa pria seperti Junho mau bersamaku? Wanita itu jelas adalah seleranya. Aku dan Junho benar-benar tidak cocok’ pikir Soeun. 

Pikiran tersebut membuat hati Soeun semakin sakit. Kesedihan semakin bertambah saja. Beberapa kali Soeun mengedipkan matanya, berharap bendungan air mata yang sedari tadi ia tahan di pelupuk matanya tak tumpah. 

“Soeun…” ucap Junho pelan. 

Soeun menutup matanya ketika mendengar namanya terucap dari bibir pria yang dia cintai itu.

Setelah Soeun menyadari bahwa dia jatuh cinta pada Junho, saat pria itu hanya memanggil namanya saja, hal itu jelas sangat berpengaruh padanya. Soeun berharap rasa bahagia yang muncul di hatinya ketika pria yang dia cintai menyebut namanya.

Namun, Soeun akhirnya tersadar bahwa terkadang harapan tak selalu sejalan dengan kenyataan. Rasa sakit dan kesedihan yang muncul di hatinya kala namanya terlontar dari bibir Junho cukup menjadi dasar bagi Soeun untuk tak lagi menaruh harapan besar. Apalagi bermimpi mempunyai akhir kisah cinta yang bahagia seperti yang kebanyakan termuat dalam dongeng romantis pengantar tidur. 

“Katakan apa yang ingin kau katakan, Lee Junho” ucap Soeun pelan masih dengan mata tertutup.

Namun, ada ketegaran di dalamnya. Ketegaran yang berusaha dia munculkan. Ketegaran untuk menyembunyikan kesedihan dan kerapuhannya karena cinta. 

Kedua tangan Soeun mencengkeram pakaiannya yang ada di kedua sisi tubuhnya. Menjadikan cengkeraman itu sebagai jangkar agar dirinya tak melarikan diri dari ruangan ini segera. Soeun bukan tipe wanita yang akan langsung melarikan diri ketika masalah datang padanya. Ia memilih menghadapi masalah itu meskipun hal itu akan menghancurkannya. Pantang bagi Soeun menampakkan kelemahannya, terlebih banyak pasang mata yang bagi Soeun masih asing baginya. 

Dahi Junho mengerut mendengar apa yang Soeun katakan. Bukan karena Soeun seakan memberikan batasan untuknya berbicara. Namun, karena nama yang Soeun gunakan untuknya. 

Lee Junho….?' Pikir Junho. 

Jujur saja, Junho lebih terbiasa jika Soeun memanggilnya dengan nama Nuneo. Ia merasa dirinya dan Soeun lebih dekat ketika Soeun memanggilnya Nuneo. Namun, Junho tak bisa protes, tidak saat ini. Ada hal lain yang perlu Junho sampaikan. Junho pun menghela nafasnya. 

“Tak ada yang perlu aku jelaskan atas apa yang kau saksikan tadi. Karena inilah diriku yang sebenarnya. Pria yang tak akan berkomitmen dengan satu wanita. Kau sudah tahu itu” terang Junho menatap lurus pada Soeun yang masih menutup matanya. 

Aku ingin melihat mata indahmu’ pikir Junho.

“Oppaa…..” sela Suzy. 

Jelas saja, Suzy tak mengerti dengan apa yang kakaknya katakan. Apa yang dikatakan Junho bertolak belakang dengan apa yang dia harapkan akan dikatakan oleh Junho. Sekali lagi, harapan tak selalu sejalan dengan kenyataan. 

You're not My First ChoiceStories to obsess over. Discover now