“Apa?!! Gagal?” Ujar sebuah suara dengan nada membentak pada lawan bicaranya melalui sambungan telepon.
“Maaf, Tuan. Tiba-tiba saja ada pria yang berjalan ke arah ku. Aku tak bisa mendorong wanita itu hingga terjatuh ke eskalator” ucap sebuah suara khas pria dari seberang telepon.
Pria yang memegang telepon itu pun menggeram.
“Ada saksi mata? Dasar bodoh!!! Mencelakai seorang wanita hamil saja kau tak becus!!!” Teriak pria itu pada lawan bicaranya.
Pria itu lalu menutup matanya, mencoba menenangkan dirinya. Masih dengan telinga menempel di iphone, mendengarkan anak buahnya melaporkan semua progress dari tugas yang dia berikan.
“Dan Tuan…., wanita itu jarang terlihat sendirian. Terakhir aku mengikutinya dia bersama seseorang…”
“Aku tak peduli!!” Sela pria itu dengan nada bicara yang kasar.
Pria itu membuka matanya lagi.
“Sendirian atau tidak. Aku ingin wanita itu celaka berikut juga dengan bayi yang dikandungnya. Aku tak ingin menerima berita bahwa kau gagal lagi menjalankan tugasmu” perintah pria itu.
“Baik Tuan”
Pria itu pun menutup sambungan telepon. Lalu berjalan ke arah jendela. Menatap kerlap kerlip jalanan kota Tokyo dari apartemen mewahnya.
“Tunggu saja Lee Junho. Aku akan membalas semua rasa sakitku dan orang-orang yang aku sayangi padamu dan juga orang-orang terdekatmu. Persiapkan dirimu!!!” gumam pria itu.
Perkataan yang disuarakan sarat akan tekad. Ada rasa benci dalam nada bicara nya yang dibalut dengan dendam yang sudah dipendam sejak empat tahun ini. Menunggu kesempatan dan waktu yang tepat untuk dibalaskan. Dan nampaknya dengan informasi yang telah dia kumpulkan, sekarang lah waktu pembalasan tiba.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Apa kau paham Wooyoung-ah?” Terdengar suara Tuan Lee dari seberang telepon.
“Ya. Paman. Aku paham” jawab Wooyoung.
Pria itu pun menoleh ke arah pintu ruangan rapat yang terbuka. Wooyoung segera bangkit dari sofa di dekat pintu ruangan rapat.
“Ah, paman. Rapatnya sudah selesai. Junho akan segera keluar…”
“Baiklah, Wooyoung-ah. Paman tunggu kabar darimu” ujar Tuan Lee sembari mengakhiri sambungan telepon.
Wooyoung segera memasukkan iphone nya ke sakunya lalu menghampiri Junho yang baru saja keluar dari ruangan rapat diikuti oleh Taecyeon dan Minjun. Well, jika ada yang bertanya mengapa dari tiga orang pembesar The Dragons yang merupakan orang kepercayaan Bos The Dragons (Taecyeon, Minjun, Wooyoung) hanya Wooyoung yang menunggu di luar ruangan? Ya. Wooyoung tidak ikut rapat internal The Dragons untuk kali ini, karena ada pekerjaan lain yang harus dia tangani beberapa saat lalu.
Junho beserta Taecyeon, Minjun dan Wooyoung pun berjalan menuju ruangan kerja Junho yang merupakan ruangan terbesar dalam base camp The Dragons di Tokyo. Ruangan yang bernuansa hitam putih menambah aura misterius pemilik ruangan itu. Sesuai dengan image bos mafia : misterius.
“Bagaimana rapat tadi?” Tanya Wooyoung dengan nada penasaran setelah dirinya beserta kedua pria lainnya duduk di sofa empuk yang ditata dengan elegan di tengah ruangan.
Sementara Junho memilih duduk di kursi kerjanya dengan penuh wibawa. Khas seorang bos mafia.
Jelas saja Wooyoung adalah tipe yang sangat serius dalam hal pekerjaan. Tidak mengikuti rapat internal merasa dirinya ketinggalan informasi. Itulah mengapa pertanyaan bagaimana jalannya rapat adalah hal pertama yang dia ajukan.
YOU ARE READING
You're not My First Choice
Romance"Broken heart girl bounds by bump with cold heart Mafia Leader" ******** --Kim Soeun-- Perawat yang cantik dan berhati baik. Dicampakkan oleh kekasihnya setelah menjalin hubungan selama 4 tahun membuat Soeun patah hati. Gadis cantik dibalik penampil...
