Mentari bersinar cerah. Sedikit banyak cerahnya hari ini mempengaruhi mood Soeun. Wanita itu tengah menikmati cheese cake dan satu gelas espresso di sebuah cafe sejak 10 menit yang lalu. Tapi, hidangan yang dia pesan tetap saja tak berhasil mengurangi rasa gugup yang sedang dia rasakan.
Ya. Soeun tiba 15 menit lebih awal dari waktu yang disepakatinya dengan Nuneo. Soeun memang sengaja datang lebih awal, berharap bisa menenangkan dirinya sebelum memberikan kabar besar pada ayah dari calon anak yang dikandungnya saat ini.
Lima menit kemudian pintu cafe terbuka, masuklah sosok pria yang Soeun tunggu. Kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku dan beberapa kancing atas yang sengaja dibiarkan terbuka dipadukan dengan celana jeans hitam membuat ketampanan pria itu tak berkurang.
Pria itu menoleh ke penjuru cafe sebelum kemudian matanya menemukan tempat Soeun yang tengah duduk menunggunya. Pria itu menghampiri Soeun lalu duduk di bangku yang berada di hadapan Soeun.
"Kau datang lebih awal" ucap Nuneo sambil tersenyum pada Soeun.
'Dia masih setampan seperti terakhir kali bertemu' komentar Soeun dalam hati.
'Dan senyumannya. Oh ya ampun. Berhenti bersikap bodoh Kim Soeun. Bukan saatnya untuk mengagumi ketampanannya" rutuk Soeun pada dirinya sendiri ketika mendapati dirinya tengah memandang takjub pada ketampanan pria yang duduk di hadapannya itu.
Soeun pun tersadar bahwa ia belum menyapa pria itu sama sekali.
"Ah.. ya. Aku tidak terlalu sibuk hari ini. Uhmmm... apa kau ingin memesan sesuatu?" tanya Soeun berusaha bersikap ramah sebelum memulai pembicaraan ke topik yang menjadi alasan ia menghubungi Nuneo lagi.
Nuneo menatap Soeun.
"Aku tidak ingin bersikap lancang. Tapi aku masih ada urusan lain, bisakah kita langsung ke hal yang ingin kau sampaikan?" ujar Nuneo.
Senyuman simpul masih terukir di wajah Soeun mendengar perkataan Nuneo namun di dalam hati wanita itu semakin gugup.
'Baiklah. Soeun sekarang waktunya' ujar Soeun.
Soeun lalu menatap pria yang masih tersenyum padanya.
"Aku hamil" ucap Soeun pelan.
Senyuman di wajah Nuneo perlahan memudar hingga hilang tak berbekas.
"Excuse me?"
Soeun merasakan telapak tangannya mulai berkeringat. Salah satu hal yang terjadi ketika dirinya sangat gugup. Senyuman yang menghilang di wajah Nuneo menandakan apa yang baru dikatakan oleh Soeun bukanlah hal yang menggembirakan bagi pria itu. Atau setidaknya bukan hal yang terlintas di benak Nuneo ketika pria itu menyanggupi bertemu Soeun lagi.
"Aku tengah mengandung saat ini. Tepatnya sudah 12 minggu lebih. Perutku sudah tak lagi datar" ucap Soeun seraya memperlihatkan perutnya yang memang terlihat berbeda.
Namun tak terlihat oleh Nuneo saat memasuki cafe tadi karena sebelumnya perut Soeun tertutupi mantel yang dia kenakan.
Manik hitam Junho menatap ke arah perut Soeun namun pria itu masih diam seakan otaknya tengah memproses apa yang sedang terjadi.
Nuneo mengembalikan tatapannya ke wajah Soeun, menatap wanita itu dengan sangat serius. Berusaha mencari kemungkinan jika Soeun sedang bercanda dengannya. Namun, sungguh sial apa yang dicari Nuneo tak dia temukan. Nuneo mengela nafas.
"Tapi kita bersama hanya satu malam"
Soeun mengelap keringat di telapak tangannya ke pakaian yang dia kenakan.
YOU ARE READING
You're not My First Choice
Romantiek"Broken heart girl bounds by bump with cold heart Mafia Leader" ******** --Kim Soeun-- Perawat yang cantik dan berhati baik. Dicampakkan oleh kekasihnya setelah menjalin hubungan selama 4 tahun membuat Soeun patah hati. Gadis cantik dibalik penampil...
