“Kau yakin tak akan ikut bersama kami shopping?” Tanya Boah lagi untuk kesekian kalinya.
Berharap Soeun akan berubah pikiran. Namun, harapan Boah hanyalah harapan saja. Ya. Saat ini Soeun tengah berada di ruang tamu rumahnya, sembari mengobrol dengan Boah via telepon. Mata Soeun menatap ke layar televisi di depannya, namun sesungguhnya Soeun tak mengikuti acara reality show yang sedang tayang itu.
“Yup” jawab Soeun dengan yakin.
Terdengar helaan nafas di seberang telepon.
“Baiklah. Bye, Soeun mommy” ucap Boah dengan nada kurang bersemangat.
‘Maaf Boah’ ucap Soeun dalam hati ketika menyadari lagi dan lagi dirinya menolak ajakan Boah.
“Have fun” ujar Soeun dengan nada yang dibuat seceria mungkin, mengakhiri sambungan telepon antara dirinya dengan Boah.
Sore ini, Boah dan Chansung berencana mengajak Soeun berbelanja bersama mereka, menghabiskan waktu luang di akhir pekan. Namun, sungguh sayang Soeun tak berminat. Soeun sedang tidak mood. Soeun menyadari bahwa dirinya tidak bersemangat beberapa hari belakangan ini. Dirinya bahkan sudah beberapa kali menolak ajakan Boah untuk hang out. Tak hanya itu. Tak jarang dirinya tiba-tiba menangis di tengah malam atau saat bangun tidur.
“Ada apa denganku?” Gumam Soeun.
Soeun tahu bahwa dirinya pada normalnya bukan tipe yang moody. Tapi semuanya mulai berubah sejak kehamilan. Soeun kembali menghela nafas. Lalu bangkit dari sofa di ruang tamu dan berjalan menuju kamarnya. Setelah sebelumnya mematikan televisi terlebih dahulu. Ya. Meskipun suasana hatimu sedang tidak bagus, bukan berarti kau bisa membuang energi dengan percuma kan?
Soeun terus menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana. Soeun lalu menatap ke langit-langit kamarnya, memikirkan apa yang telah terjadi beberapa belakangan ini. Ketika tiba-tiba potret wajah melintas kembali di benaknya, Soeun merasa hatinya sangat sedih.
“Ughhh…. apakah aku akan menangis lagi? Mengapa aku menjadi crybaby?” Ujar Soeun pelan.
Benar saja, tak lama air mata mengalir di kedua pipinya. Ketika gambaran wajah itu masih saja berada di benaknya, tangis Soeun semakin menjadi.
“Nuneo….” gumam Soeun di tengah tangisnya.
Ya. Sudah sepuluh hari sejak Soeun terakhir kali dirinya bertemu dengan Junho. Pria itu langsung bertolak ke Tokyo setelah sebelumnya mengantarkan Soeun kembali ke kediaman Tuan Kim. Soeun teringat kembali perpisahannya dengan Junho di depan pintu rumahnya.
Yup. Setelah dari rumah pantai, Junho mengantarkan Soeun pulang hingga depan pintu rumah Soeun. Pria itu tak mengucapkan ‘sampai jumpa’ atau ‘jaga dirimu’. Tapi, bos mafia itu hanya menatap Soeun intens lalu mencium lembut kening Soeun cukup lama. Meski, tak ada kata-kata yang terucap, namun sikap Junho cukup sukses membuat berbagai emosi membuncah di dada Soeun.
Air mata Soeun pun semakin berurai deras ketika ingatan tentang hari itu membanjiri ingatannya.
“Kenapa dia tak mengabariku apapun? Bukankah dia mengatakan hanya pergi selama seminggu?” Gumam Soeun di sela tangisnya.
“Bukankah dia yang mengatakan aku miliknya, namun mengapa aku tak mendengar apapun darinya?…..” Ucap Soeun dengan nada frustasi.
“…. apa dia tak tahu jika aku tak bisa berhenti memikirkannya….? Aku merindukannya…. aku…. ” kata-kata Soeun terhenti.
Matanya yang sembab membulat. Sesuatu nampak klik di otaknya. Soeun pun menyadari sesuatu. Alasan mengapa dirinya menjadi tak bersemangat beberapa hari belakangan ini. Alasan mengapa iaa sering menangis, terutama ketika teringat bos The Dragons itu. Alasan mengapa ia merasa sedih.
YOU ARE READING
You're not My First Choice
Romansa"Broken heart girl bounds by bump with cold heart Mafia Leader" ******** --Kim Soeun-- Perawat yang cantik dan berhati baik. Dicampakkan oleh kekasihnya setelah menjalin hubungan selama 4 tahun membuat Soeun patah hati. Gadis cantik dibalik penampil...
