Interrogation

2.4K 105 1
                                        

Soeun tengah mengamati Junho yang tengah merapikan dasi kodoknya di depan cermin besar di kamar hotel yang mereka tempati. Hari ini adalah hari terakhir mereka tinggal di hotel, karena setelah itu Junho berencana membawa Soeun ke rumah pribadi mereka yang telah selesai direnovasi untuk beberapa bagian rumah.

Di mata Soeun, suaminya itu nampak mempesona dan penuh wibawa terutama dengan tampilan rambut yang ditata ke atas sehingga menampkkan dahi bidangnya.

Tampan, penuh karisma, dan aura intimidasinya sangat kental.

Soeun pun tersenyum ketika mengingat hampir dua minggu lamanya mereka selalu bersama. Hanya mereka berdua. Hanya Seoun dan Nuneonya.

Aku benar-benar bahagia belakangan ini. Nuneo benar-benar bersikap lembut dan sangat romantis. Aku jatuh cinta padanya lagi dan lagi. Ya Tuhan….. Terima kasih telah mempertemukan kami. Aku ingin selalu bersamanya hingga akhir hidupku’ doa Soeun dalam hati.

Wanita itu masih saja menatap penuh kagum pada Junho tanpa menyadari Junho yang menyadari tatapan Soeun padanya dari cermin.

“Apakah aku sangat tampan hingga kau tak berhenti memandangiku, my beautiful wife?” goda Junho sembari membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Soeun yang tengah duduk di atas tempat tidur.

Soeun mengedipkan matanya berulang kali. Tak lama semburat merah menghiasai wajah mulusnya. Ia merasa malu tertangkap basah menatap intens pada suaminya itu. Namun, ego Soeun membuat wanita itu tak mau mengakui bahwa ia tertangkap basah. Soeun pun memasang wajah datarnya. Berusaha bersikap seakan tidak tertangkap basah mengamati suaminya sedari tadi.

“Hmmm,… mengapa kau sangat percaya diri bahwa aku tengah memandangimu?” tantang Soeun dengan memasang ekspresi polos.

Sudut bibir Junho terangkat. Pria itu tahu bahwa istrinya berusaha menutupi rasa malu tertangkap basah dengan kepolosan.

“Aku bisa merasakan tatapan matamu padaku. Tubuhku terasa panas. Hanya satu orang yang bisa membuat tubuhku terasa panas dengan tatapannya. Berhenti mengelak, my love……”

Junho lalu berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di samping Soeun. Perlahan Junho mengambil tangan Soeun lalu membawa tangan mulus itu ke dekat mulutnya kemudian mencium lembut punggung tangan istrinya itu.

“……akui saja bahwa kau terpesona padaku” lanjut Junho sembari memberikan tatapan nakalnya pada Soeun.

Soeun bersiap untuk membantah.

Namun ekspresi Junho yang seakan menantangnya untuk membantah perkataan pria itu membuat Soeun mengurungkan niatnya. Soeun tahu betul, Junho akan semakin menggodanya jika ia menyangkalnya. Jadi, Soeun lebih memilih untuk memberi kejujuran pada suaminya itu.

“Ya… kau sangat tampan. Sampai-sampai aku merasa cemas mengenai kehadiranmu di pesta nanti”

Junho tersenyum sumringah. Jelas pengakuan Soeun melambungkan egonya. Pria itu lalu mendekatkan wajah mereka lalu menempelkan dahinya pada dahi Soeun. Kemudian pria itu menutup matanya.

“Apa yang kau cemaskan? Kau tahu bahwa hanya kau wanita yang aku cintai. Bagiku hanya dirimu seorang, aku tak tertarik melirik wanita lain bahkan sejak pertama kali kita bertemu, meski awalnya aku bersikeras menyangkalnya. Kau lah yang memenuhi benakku” aku Junho.

Lalu pria itu menjauhkan dahi mereka kemudian menatap dalam ke manik hitam Soeun.

“My eyes only on you” ucap Junho penuh dengan keseriusan.

Soeun tersenyum lembut.

“Bukan itu yang aku cemaskan…..”

Junho menaikkan satu alisnya mendengar ucapan Soeun.

You're not My First ChoiceStories to obsess over. Discover now