Chapter 25

5.9K 625 128
                                        

Langit sore berwarna jingga kemerahan. Tampak sangat indah dalam sudut pandang Taehyung yang hanya mampu menatapnya dari balik jendela ruang rawat pribadinya. Setelah pertemuannya dengan Presdir Bang pagi tadi, Taehyung terpaksa kembali ke rumah sakit atas perintah pria tambun itu. Taehyung bukannya tak menolak tapi kemudian, ia sadar bahwa ia tak bisa selamanya bersikap keras kepala. Taehyung sadar lebih dari siapapun tubuhnya memang membutuhkan perawatan. Karena cepat atau lambat ia pasti akan tumbang. Dan jika itu terjadi, pada akhirnya, ia hanya akan merepotkan banyak orang.

Taehyung bergeming dalam posisi cukup lama. Tampak tenang. Tapi, sebenarnya rasa takut dan gelisah tengah menghantui pikirannya. Membuatnya tak dapat mengistirahatkan tubuhnya walau sejenak. Taehyung selalu gagal setiap ia berusaha menutup matanya. Padahal tubuhnya lelah tapi, mimpi benar-benar enggan menjemputnya.

"Semoga kau baik-baik saja, Jim."

Taehyung menghela dan menghembuskan napasnya dengan begitu perlahan. Mengucapkan sepatah kalimat itu dengan demikian lirih. Menyerupai bisikan yang kemudian ikut menghilang bersama matahari yang tenggelam.

-

Langit yang ditatap Jimin telah berubah kelabu. Tak ada lagi warna biru atau warna indah jingga yang sempat menghuni beberapa saat lalu. Hanya terlihat beberapa titik terang yang akan menjelma menjadi bintang paling terang begitu malam sempurna datang.

Pemuda yang baru saja tersadar satu jam lalu itu masih tampak begitu lesu dan pucat. Bahkan tak ada senyum manis yang biasa tersungging dari bibirnya. Tatapannya sayu dan sendu. Semua orang yang berada didalam ruangan yang sama, jelas menyadari raut kesedihan yang ditunjukan pemuda itu.

"Aku permisi dulu." Suga berucap sekaligus bangkit dari sofa yang semula didudukinya. Jungkook yang duduk disamping pemuda itu sempat terlonjak kaget karena pergerakan Suga yang terlalu tiba-tiba.

Tanpa mendengarkan balasan dari teman-temannya, Suga meninggalkan ruangan begitu saja. Mengundang tanya semua orang yang sayangnya tak dapat mereka utarakan.

Semua orang lebih memilih berfokus pada Jimin karena berpikir pemuda itu pasti sangat terpukul dengan kabar yang baru saja didengarnya.

"Jim, jangan terlalu dipikirkan, oke? Kau pasti akan sembuh kembali dan dapat menari lagi. Jadi, jangan pasang wajah seperti itu!" Rapmon tersenyum sangat manis mengakhiri kata-katanya. Senyuman yang menenangkan juga untuk Jimin yang mendengarnya.

Jimin mulai berpaling dari langit kelabu yang semula terus ditatapnya. Ia ganti tatap semua teman-temannya yang tersisa. Semua tampak memasang senyum manis mereka. Seolah memberikan kekuatan padanya.

"Gomapta..."

Semua yang mendengar itu lantas langsung melebarkan senyum mereka. Setidaknya mereka pikir Jimin telah dapat menerima keadaannya untuk saat ini. Cedera kaki untuk seorang penari itu memang nyaris seperti jalan untuk membuat kegagalan datang. Tapi mereka percaya. Jimin dapat melaluinya.

"Ma-maaf," sambung Jimin membuat semua orang sangsi dengan pendengaran masing-masing.

"Maafkan aku." Sambungnya lagi.

Jimin menunduk dalam. Membiarkan poni panjangnya jatuh menutupi wajah yang telah kacau.

"Kau bicara apa, Jimin-ah? Kau tak salah apa-apa."

Rapmon yang berada tepat disisinya lantas mengusap lembut punggung yang lama kelamaan semakin bergetar itu. Seolah tahu Jimin tengah menahan tangisannya. Dan tak lama, isakan Jimin pun keluar. Punggungnya bergetar semakin hebat dan tangan kanannya yang terbebas dari infus telah menjadi sumpalan untuk mulutnya agar tak mengeluarkan isakan lebih keras. Sekuat apapun ia berusaha menahan tangisannya, sekuat itulah rasa sesak didada mengalahkan semuanya. Rasanya terlalu sulit dan menyakitkan.

PLEASETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang