Teh Pagi Hari

142 4 0
                                        

Kubuka mataku seiring mentari membuka hari,
kusuguh hangat teh sehangat pagi.
Setiap aromanya, setiap adukannya,
melemparkan diri dalam detik yang sampai kini tak kunjung usai.
Kusesap sembari mengingat relung dalam hati,
"Bahagiakah kau, wahai penjarah hati?"

Ah, coba saja aku berpikir seolah esok akan mati.
Mungkin saja, takkan kusesatkan diri pada sosok pengubah nadi.
Coba ingat-ingat lagi,
berapa kali kautelan duri?

Sudah, secangkir tehku kian dingin terkena angin.
Atau, hatimukah itu?

Musafir: Kumpulan Puisi dan Prosa [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang