Hujan Bulan Desember

161 8 4
                                        

Setiap insan memiliki kenangan saat hujan.
Pun diriku, yang terduduk di pelataran bangku Alfamart saat hujan mulai menetes.
Bapak-bapak dengan jaket kebasahannya mulai menepi.
Pemuda-pemudi yang bercakap seiring dedaunan berdendang menari diterpa hujan merintik.
Dengan earphone dan lagu yang cukup menguras airmataku kala itu,
cukup membuatku terhempas seperti yang orang-orang katakan,
"Hujan Desember yang penuh sembilu"

Aku menari, tertawa, terdiam.
Embusan angin tatkala hujan mengenai leherku.
Aku yang teriring luka dan terhujam sembilu,
menangis mengurai setiap borokku.
"Menjelma asap, kaubutuh api"
"Menjelma temu, kaubutuh rindu"
Begitu kata kawan karibku.
Tapi aku tak butuh apapun, tak perlu menjelma jadi apapun.
Aku hanya ingin ia merengkuhku dengan api dalam matanya.
Tanpa asap, tanpa rindu.

Kalaulah demikian, hidup butuh dan membutuhkan.
Aku butuh air.
Aku butuh menjelma.
Snack yang kumakan sedari jam 7 kian alot.
Baik, akan kuselesaikan permainan dalam pikiranku.

Aku ingin menjelma pelangi, aku butuh hujan.
Air, angin, halilintar, awan gelap menggelayut.
Hujan nan menjelma badai.
Hujan nan menjelma banjir.
Masa bodoh, aku ingin menjelma pelangi.
Peduli apa kau tentang pelangi yang urung 10 menit lalu lenyap?

Hujan sudah reda.
Aku lepas earphone yang memekakkan telinga.

Persetan dengan pelangi.

Musafir: Kumpulan Puisi dan Prosa [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang