24. Jahat Yang Penting Bahagia

2.2K 124 8
                                        

Gapapa jahat, yang penting gue bahagia.

-A-

***

Malam ini Roni tidak pulang lagi, membuat Ayna sedikit bersyukur.

Ayna berjalan menuju rumah Nayna. Sebelumnya ia telah mengunci pagar rumah. Malam ini Ayna akan menjalankan rencananya.

Tanpa permisi Ayna langsung memasuki perkarangan rumah lalu menuju pintu. "Hei!" Ayna menyembulkan kepalanya di pintu secara tiba-tiba yang menyebabkan Nayna terkejut setengah mati.

"Astaga, Ayna. Kamu itu kerjaannya kalo gak numpang makan pasti ngejutin orang," repet Nayna.

Ayna nyengir. "Kek gak tau aku aja Tante."

"Ngapain lagi kamu kesini?"

"Biasalah, Tan. Jengukin si Anka."

"Mana pernah kamu jengukin Anka sebelumnya."

"Eceknya gitu loh, Tan."

"Mana bisa pakek eceknya."

"Bisa dong, kalau Ayna mah mana ada yang gak bisa."

"Banyakan ngayal kamu," Nayna kembali melanjutkan kegiatannya, yaitu memotong buah.

"Eh, Tante jangan salah loh ya. Ngayal itu baik untuk kesehatan."

"Baik darimananya coba?"

Ayna mengambil beberapa potongan buah yang telah dikupas oleh Nayna lalu memakannya. "Baiklah. Pikiran itu jadi aman, tentram dan damai."

"Gak nyambong bego," potong Anka yang entah datang dari lubang mana sambil ikut mengambil buah yang telah dipotong.

"Wess nongol juga adek ipar gue nih."

"Bibir lo dikasih pelumas apa? Licin banget kalo ngomong," sindir Anka.

"Elah, bilang aja kalo bibir gue sekseh kan?"

"Najis."

Ayna tertawa keras. "Hayo ngaku lo. Pasti belakangan ini lo merhatiiin bibir gue kan? Secara bibir gue kan cetarnya ngalahin princess syahrini."

"Unpaedah banget gue liatin bibir lo. Bibir lo yang dower itu, bisa-bisa malah nambah dower kalo lo kebanyakan bacotan mulu," ejek Anka sambil memasukkan buah pir ke dalam mulutnya.

"Heleh, sirik bilang lo, bibir si Nolla kan gak se-sekseh gue."

"Mau bibir lo se-sekseh apapun, kalo udah dower ya dower aja."

"Kurang dikasih pelumas apa bibir lo!" Ayna memandang Anka tak suka.

"Mau bibir gue dikasih pelumas atau enggak, yang penting itu bukan urusan lo."

Nayna yang mulai kembali pusing memutar bola matanya malas. "Kalian itu kerjaan asik berantem mulu dari kecil. Gak pernah akur, heran Mama."

"Dia tuh, Tan, yang mulai duluan. Masa dia bilang bibirku dower. Kan dah mereng otaknya," Ayna mengadu dengan mulut dan tangan yang berlepotan dengan air buah, membuat Nayna dan Anka menahan tawa.

"Udahlah, Na. Katanya tadi kamu kesini mau jenguk si Anka. Kok malah debat sih?"

"Aku mikir debat presiden, Tan," Ayna membulatkan bibirnya.

"Ish, yaudah deh terserah kamu. Sampe bapaknya biskuit khonghuan jumpa juga kamu gak bisa dilawan."

"Dia yang kayak upil gini, Ma," Anka menatap Ayna jijik.

My Enemy Ayna Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang