"Cause you're the reason."
-A
***
Pagi ini Ayna sudah bertekad untuk tidak menyontek lagi. Kemarin Pak Supri memberitahu kesalahannya saat dia sudah menyelesaikan hukuman. Dan saat itu Ayna sempat berpikir bahwa apa yang dia lakukan adalah tindakan yang tidak mulia. Jadi, Ayna sudah mempunyai tekad kuat untuk merubah dirinya.
"Ternyata gue bisa mikir juga. Hebat banget gue cielah," Ayna membanggakan dirinya sendiri saat mengingat betapa kerennya dia semalam saat merenungkan diri.
Ayna mengemasi barang-barangnya lalu berjalan cepat menuju kantin kesayangan.
"MAFIA KU SAYANGGG!!!!!!!!" teriak Ayna sangat kuat.
"Aku tuh udah nyariin kamu kesana kemari tau, say! Tapi gak jumpa-jumpa. Ternyata disini kamu ya enak-enakan makan bakso," omel Ayna yang membuat Nafia bergidik ngeri.
"Jijik banget gue denger bahasa lo," Nafia menepis tangan Ayna.
"Aw! Sakit akutuh. Mafia jahat ih," balas Ayna sok imut.
"Nama gue Nafia! Jangan diganti-ganti dong. Emak gue udah ngasih nama gue bagus-bagus itu."
"Emang kamu punya emak?"
"Awas, njir! Pertanyaan lo bego banget, jijik gue."
"Elah slow sikit kek lo! Permainan itu gak bakal seru kalo timenya cuma satu inning doang," ucap Ayna kembali ngawur.
"Makanya mulut lo itu di permak sikit kek, biar cantik. Jangan cuman banyakan gaul sama Pak Jhonson doang, begini kan jadinya."
"Iya dong. Pak Jhonson kan suka gaul sama Kak Refyal, jadi gue harus gaul juga lah sama Pak Jhonson. Biar serasi gitu."
Nafia melirik ke arah Ayna sambil meminum minumannya. "Gini ya. Gue saranin untuk lo, kalo emang lo suka sama Kak Refyal, ya di perjuangin sikit kek."
Ayna mengerutkan dahinya bingung lalu menjambak rambut Nafia pelan. "Lo kira sekarang gue lagi ngapain hah?! Bahkan tiap detik gue selalu mikirin cara manjur apa yang bisa buat gue deket sama Kak Refyal."
"Maksud gue, cara lo itu gak usah dicampur pakek rasa alay. Tinggal jumpain Kak Refyal aja, bilang kalo lo suka sama dia. Lagian kalo dipikir-pikir sih, Kak Refyal bukan orang yang nolak secara kasar. Palingan dia nolak lo dengan cara halus nantinya," balas Nafia dengan tidak tahu malunya.
Ayna terdiam sejenak, mencoba berpikir. "Naf! Lo tau ini apa?" tunjuk Ayna pada benda tersebut.
"Hm? Itu garpu. Kenapa emang, Na?"
"Tau kan lo kalo ini garpu. Garpu itu bahaya gak?"
"Ya bahaya lah, gila lo ya. Kalau gue kena cucuk kan bisa berdarah."
Ayna tersenyum puas. "Nah. Itu lo tau. Jaga ucapan lo mulai sekarang. SEBELUM GUE BENERAN NYUCUK LO!"
***
Bel pulang telah berbunyi. Anka dan Rudi sudah keluar kelas sebelum Bu Melati keluar. Anka sudah terlalu bosan mendengar segala ceramah yang disampaikan Bu Melati.
"Bu Melati itu baik banget. Tapi mulutnya kayak mercon di tahun baru, njir."
Anka melirik Rudi yang terus menyerocos mengenai sikap dan kebiasaan Bu Melati. "Jadi lo pikir mulut lo gimana? Bisanya mengkritik aja, intropeksi diri dulu sana!"
Rudi menatap Anka kesal. Kalau dia jawab, sudah pasti dirinya akan kalah dengan Anka dalam rangka
adu mulut, mau bagaimana pun dibuat juga akan tetap sama. Anka si cowok bermulut pedas. Persis dengan salah satu tokoh kartun kesukaan Ayna, si Squidward.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Enemy Ayna
Ficção Adolescente[COMPLETED] "Kalau gue cinta karena obsesi, lo mau apa?" ^^ Aynaya Reskia, cewek sinting yang hanya dilanda rasa jatuh cinta pada seniornya. Segala cara telah ia lakukan agar seniornya itu mau memandangnya walau hanya sedetik. Naas, tak ada hal lai...
