30. Ketahuan Bolos

2K 115 0
                                        

Bukannya nggak mau, hanya aja lo terlalu istimewa buat gue.

-A-

***

"ANJIR! BABI BESAR JATOH WOII!!!"

Anka meringis pelan, ia melirik ke arah Ayna. Ingin rasanya Anka mengumpat sekarang tetapi ia tahan. Kini Ayna tengah terbahak sampai terpingkal-pingkal, membuat Anka kesal setengah mati.

"Ya ampun, Anka. Kok bisa jatuh coba?" Nayna dengan cepat menghampiri Anka dan membantunya bangun.

Suara tawa Ayna bertambah besar ketika melihat Anka yang berusaha untuk berdiri tetapi malah jatuh lagi.

"Ih awas, Ka. Masih licin ini," saran Nayna.

Anka mengabaikannya dan berusaha untuk kembali berdiri. Akhirnya berhasil, Anka yang mengusap bokongnya dengan wajah masam.

"NGAKAK ONLEN GUE SUMPAH!" Ayna menepuk-nepuk pahanya tidak tahan melihat ekspresi Anka yang saat ini mencoba kembali datar.

"Diem lo!" sarkas Anka lalu berusaha berjalan dengan cepat menuju kamarnya.

Saat akan menaiki tangga, ia memberhentikan langkahnya. "Lain kali kalo lo buat kue jangan asal buang. Apalagi buangnya di rumah gue," sindir Anka.

"Oke bos!" Ayna sengaja menguatkan volume suaranya agar Anka bertambah malu.

Sekarang Ayna merasa bahwa poin dia dengan Anka sama-sama satu. Lihat saja, Ayna akan lebih berusaha membuat Anka lebih malu dari ini.

Sementara Nayna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anak Tante itu, Na. Jahat banget kamu."

"Justru karna itu anak Tante makanya aku jahatin."

***

Pagi ini Refyal terlambat bangun, semalam Lanfi mengajak dirinya untuk nongkrong. Dan sekarang Refyal harus dengan segera melajukan motornya.

Ini sudah jam delapan, banyak kendaraan yang sudah berlalu-lalang sehingga menyebabkan jalan raya sedikit sempit.

Refyal selalu menyempilkan motornya di salah satu celah kosong. Dan itu menyebabkan pengendara lain mengumpat marah ketika melihat motor Refyal hampir saja menyerempet mobilnya.

"Hati-hati dong lo!" umpat salah seorang pengendara mobil, ia juga mengenakan seragam sekolah. Aneh, sudah tau terlambat tetapi malah memakai mobil sebagai transportasinya.

"Sorry," Refyal hanya bisa mengatakan hal itu lalu kembali melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Sekarang orang-orang malah mengira bahwa Refyal adalah pelajar ugal-ugalan yang suka balapan.

Sesampai di depan gerbang, Refyal membuka helm full facenya. Sudah ia duga, pagarnya telah terkunci rapat sekarang. Satpam sekolahnya juga tidak ada, upacara pasti sudah dimulai sedari tadi.

Refyal menghela nafas, ia bukan murid yang kalau terlambat pasti akan memanjat tembok belakang.

Refyal melihat sekelilingnya, di depan sekolahnya ada warung. Mungkin Refyal bisa mencari solusi disitu.

Ia berjalan menuju warung tersebut, sebelumnya ia telah menepikan motornya.

Refyal mengerutkan dahinya bingung ketika melihat orang yang serasa ia kenal. "Loh, ngapain lo, Na?"

Ayna yang sedang mencomot bakwan dengan posisi yang terbilang tidak elit malah mematung. Ekor matanya memastikan bahwa itu bukanlah pujaan hatinya.

"Kenapa lo bisa disini juga?" tanya Refyal lagi, ia pun ikut duduk di samping Ayna.

Ayna menelan bakwannya dengan hambar, ternyata dia memang pujaan hatinya.

My Enemy Ayna Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang