Pergilah, hilangkan semua cerita yang pernah terjadi diantara kita. ~Ify
Acara pertunangan antara Shilla dan Rio tinggal menghitung hari lagi, kedua keluarga inipun tengah sibuk untuk mempersiapkan semuanya bahkan undangan pertunangan sudah di sebarluaskan. Disini, dibalkon kamarnya Alvin menatap sendu langit malam dengan sesekali ia menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia terdiam menatap undangan yang ia pengang, gadis yang dicintainya selama ini bukanlah untuknya. Ia mencintai namun takut untuk mengungkapkannya, dan sekarang ia harus siap hatinya kembali terluka.
Tiba-tiba ia teringat akan adiknya yang kini berada di Jerman, Ify memilih pergi untuk mengobati luka hatinya. Sesakit itukah? Sangat sakit bahkan. Alvin tersenyum getir.
Flashback
Alvin dengan malas mengikuti kemauan Rio yang memaksanya untuk bertemu. Sebenarnya Alvin sudah enggan untuk bertemu dengan laki-laki yang sudah menyakiti hati adiknya, namun Rio mengatakan bahwa dia ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting menyangkut dengan Shilla. Dan mau tak mau Alvin menuruti perkataan Rio. Sesampai nya Alvin di Cafe Melankois Rio sudah menunggu dirinya dengan ditemani secangkir kopi.
"Gak usah basa basi, ada apa." Tanya Alvin sesampainya. Dilihatnya Rio menunduk dalam dan mengambil sesuatu di dalam totebag yang dibawanya.
"Apa ini?." Tanya Alvin bingung.
"Baca aja." Jawab Rio pelan. Dengan pelan Alvin membuka sebuah surat yang diberikan Rio.
Pertunangan
Ario dan Shilla.
Itulah yang Alvin baca, dadanya tiba-tiba sakit membacanya.
"Secepat itu lo lupain adik gue?." Tanya Alvin tak terima.
"Gak gitu kak." Kilah Rio.
"Lo hebat io. Lo bisa hancurin hati adek gue dan secepat itu lo bisa dapetin cewek yang gue cinta. Makasih io." Kata Alvin.
"Gue duluan." Lanjut Alvin.
Rio tertunduk dalam ketika Alvin telah berlalu. Bukannya ia melupakan cinta sebenernya namun ia berada di satu situasi yang sulit, situasi sulit yang dibangunnya sendiri. Shilla tak pantas disalahkan, namun yang pantas di salahkan adalah dirinya sendiri.
"Maaf." Hanya kata maaf yang bisa ia katakan.
Flashback off.
Shilla menelungkupkan kepalanya diatas meja belajarnya, kepalanya terasa sangat pusing akan masalah itu. Pertunangannya tinggal beberapa hari lagi namun bagaimana ia menyambutnya dengan bahagia? Toh Shilla saja sudah tidak mencintai lagi laki-laki itu. Jika dulu mungkin ia akan merasa sangat bahagia namun kini sudah tidak lagi, cinta nya kini sudah beralih pada Alvin, laki-laki yang mampu membuatnya melupakan cinta pada Rio.
"Shill." Panggil sang mama. Namun Shilla tidak bergeming.
"Ayo sini kita coba gaun untuk malam pertunangan kamu." Ajak sang mama. Shilla muak mendengarnya, sungguh.
"Shill. Ayo dong acaranya tinggal beberapa hari ini aja, tinggal kamu loh yang belum coba gaunnya." Kata mama nya lagi.
"Shilla gak mau. Shilla gak akan pernah mau mah." Jawab Shilla.
"Shilla, kamu sama Rio sudah cukup lama saling mengenal. Rio laki-laki yang baik, lagipula kalian sahabatan kan udah lama. Pasti diantara kalian ada rasa saling suka. Gak usah egois Shilla." Kata sang mamah.
"Mah, Aku emang suka sama Rio tapi itu dulu, sekarang gak lagi. Rio itu masih cinta sama Ify, cuma Ify mah bukan Shilla." Kesal Shilla.
"Untuk apa Rio nerima pertunangan ini kalau dia gak cinta sama kamu. Rio tuh cinta sama kamu, dia mau menjaga kamu. Buka dong Shill mata kamu."
"Mamah. Rio itu gak akan bisa lupain Ify. Lagipula untuk apa mah ada nya pertunangan tapi kita gak saling cinta? Untuk apaaa."
"Shilla mohon. Mamah sama papah bilang sama tante dan om untuk batalin semuanya mah. Shilla punya mimpi sendiri, shilla cinta sama laki-laki lain dan laki-laki itu bukan Rio." Lirih Shilla.
"Gak bisa Shill. Kita gak bisa seenaknya memutuskan. Lagipula cinta bisa tumbuh karna terbiasa." Keukeh sang mamah.
"Gak mah, Shilla gak mau. Shilla bisa aja bahagia sama Rio tapi ada hati lain yang terluka mah." Dengan segala usahanya Shilla tetap membujuk sang mamah untuk membatalkan semuanya. Shilla tahu itu bukanlah hal yang mudah namun Shilla tetap teguh dalam pendiriannya.
"Mamah gak bisa mutusin gitu aja shill. Papah kamu harus tau." Ucap sang mama yang kemudian meninggalkan kamar anaknya. Shilla menghembuskan napasnya kecewa.
"Kenapa semuanya jadi rumit kayak gini?." Lirih Shilla.
Shilla merindukan Rio yang dulu, Shilla merindukan persahabatannya yang konyol yang memang dari persahabatan itulah yang membuat dirinya jatuh cinta pada Rio namun sekarang semuanya berubah. Hatinya bukan lagi milik Rio, Shilla sudah melabuhkan hatinya pada Alvin, laki-laki yang mampu menghapus nama Rio dihatinya.
Rio tidak akan pernah bisa mencintai dirinya, yang Rio cinta hanyalah Ify. Walaupun kini, Ify pergi meninggalkan Rio namun ia yakin, Rio hanya mencintai Ify. Shilla tidak mengerti bagaimana tiba-tiba Rio menerima pertunangan itu dan membuat dirinya dalam masalah besar sekarang.
*****
Disini, didalam kamarnya Rio terdiam menatap undangan pertunangannya dengan Shilla. Harusnya yang tertera di dalam undangan itu adalah nama Ify bukan Shilla. Sekeras apapun ia mencoba melupakan namun sekeras itu juga ia tetap mengingat gadis itu. Gadis yang hatinya sudah berulang kali ia sakiti, mangapa ia baru sadar jika ia tetap malanjutkan pertunangan ini maka akan ada hati yang semakin terluka.
Rio kalut ketika ia mendengar perjodohan antara dirinya dan Shilla. Rio kira jika dirinya menerima perjodohan itu, ia akan membuat Shilla bahagia namun nyatanya tidak. Shilla sudah mencintai Alvin bukan lagi dirinya. Ia kira, Shilla masih mencintainya, namun nyata nya tidak. Dalam hatinya ia ingin sekali membatalkan semuanya, ia salah mengambil langkah. Ia menatap sendu foto Ify yang masih terpajang rapih di meja nya.
"Pasti kamu tau kan berita ini? Cakka pasti cerita banyak sama kamu, Fy." Gumamnya. Ia baru sadar, bahwa ia telah jauh sekali menyakiti hati gadis itu.
"Aku terlalu bodoh mengambil keputusan." Setitik air mata jatuh membasahi sudut matanya.
"Aku cinta sama kamu tapi cinta ku malah menyakiti kamu." Isak Rio.
"Semakin aku coba lupain kamu, tapi tetep gak bisa."
"Kenapa kamu harus pergi ke Jerman? Harusnya kita sama-sama bertahan Fy." Lanjutnya.
"Aku tetep cinta sama kamu Fy." Tiba-tiba benaknya berkata bahwa pertunangan harus di batalkan. Rio melihat jam dinding di kamarnya, dan kemudian berjalan kearah ruang tamu menunggu orangtuanya. Ia bertekad akan mengatakan hal itu kepada orangtuanya.
Bersambung....
KAMU SEDANG MEMBACA
L O V E ❤ (ENDING)
Teen FictionSebuah kisah yang rumit antara dua sejoli yang saling jatuh cinta dan harus berpisah karna sebuah insiden. Akankah kedunya bisa bersatu? . . . #746 in teenfiction (30 - 09 - 2017)
