Setelah melewati beberapa bulan yang sangat sibuk dan melelahkan, akhirnya secara mengejutkan, aku resmi menjadi istri seorang Dave Narendra Darwito.
Meski Rendra itu termasuk dalam daftar anak pengusaha kaya yang ada di Indonesia, namun pernikahan kami tidak se-wah pernikahan Raffi-Gigi atau Baim-Paula. Pernikahan kami sederhana namun bermakna. Dana yang keluar hanya sebesar 100 juta. Oke, aku tidak akan pamer.
Sebenarnya, aku yang meminta pernikahan kami tidak terlalu mewah, aku hanya ingin orang-orang terdekat saja yang datang, aku tidak ingin semua kenalan Rendra diundang ke acara pernikahan kami.
Dari rencana awal, seharusnya hanya ada 100-an orang tamu undangan, namun setelah melewati beberapa pembicaraan, jadilah 300-an orang tamu yang diundang. Sumpah sebegitu banyaknya itu hanya sedikit yang aku kenal. Karena kerabat dekat dan teman-temanku tidak mencapai 50 orang yang aku undang.
Gila ya ternyata aku? Bisa-bisanya aku menikahi seorang direktur utama yang bergelimang harta. Padahal aku ini hanyalah seorang tatto artist. Mudahnya, aku ini cuma pembuat tato.
Kok ya Rendra mau sih sama aku? Dia lagi frustasi apa bagaimana sih?
Sehari setelah pernikahan, Rendra masih tidur di rumah orang tuaku. Itu Mama aku yang minta, karena Mama ingin menghabiskan waktunya bersama aku meski cuma sehari.
Mama tuh berlebihan, kan aku cuma nikah, bukan mau mati. Kalau kangen kan tinggal dateng aja ke rumah Rendra. Duh.
"Yang, ada yang mau aku omongin."
Malam ini, setelah selesai membersihkan diri, aku berbaring di ranjang. Rendra yang juga baru selesai dari kamar mandi, menghampiriku ikut berbaring disamping kananku. Rasanya sangat aneh tidur satu ranjang dengan Rendra. Jadi ini adalah malam pertamaku?
"Apa? Ngomong aja."
Terdengar helaan nafas Rendra yang sangat berat, aku tidak tahu apa yang hendak dia sampaikan.
Apakah Rendra ingin mengakui kalau dia itu sebenarnya gay? Dan dia terpaksa menikahi aku karena menghindari cemoohan?
Kalau iya, berarti dia sama seperti aku!
Aku mau menikahi Rendra juga karena tuntutan orang tua, tuntutan lingkungan, dan juga tuntutan sosial. Sampai sekarang aku masih tidak berani mengakui jati diriku yang sebenarnya ke orang tuaku, karena selain tidak siap, aku tidak bisa menerima apapun respon dari orang tuaku. Aku hanya tidak mau membuat mereka kecewa, terlebih membuat Mama kecewa.
Maka dari itu, aku terpaksa menerima Rendra untuk menutupi jati diriku dan untuk menghilangkan ke-tidak-normal-an-ku. Bahkan, aku sampai rela diputusin sama Abigail, pacarku. Padahal aku masih mencintai wanita itu. Hmmh.
"Tapi janji padaku, kamu tidak akan marah jika aku mengatakan hal ini?"
Kepalaku menoleh, menatap Rendra. Saat ini laki-laki disampingku itu sedang menatap langit-langit kamar.
"Sure. Go ahead."
Rendra kembali menghela nafas berat, terlihat dia mulai bersiap untuk mengungkapkan apa yang ingin dia utarakan.
Semoga saja dia bilang kalau dia gay. Amin.
"Sebenarnya aku--"
"Kamu kenapa?"
Tolong katakan kalau kamu gay. Please, please, please.
"Aku-- Ah, janji ya jangan marah kalau aku bilang ini?"
Aku menghela nafas, kenapa lelaki ini drama banget sih?
"Iya, iya, janji."
Kembali, Rendra menghela nafas, "sebenarnya, aku--"
"Kenapa?"
"Jangan dipotong dong, dengerin aku dulu."
"Iya, iya."
"Jadi, sebenarnya aku-- Duh, gimana ya ngomongnya, aku takut menyakiti hati kamu."
Kini aku benar-benar kesal. Jangan-jangan dia beneran gay!
"Enggak bakal, ceritakan saja. Sebenarnya kamu kenapa? Kamu mau bilang kalau kamu tidak mencintaiku karena kamu gay?"
Mendengar hal itu terlontar dari mulutku, Rendra bangkit dari berbaringnya. Dia duduk bersandar, menatapku.
Laki-laki disampingku itu terlihat terkejut.
Duh, dia beneran gay?!!!
"Nauzubillah min dzalik! Jangan nuduh yang enggak-enggak deh!"
Aku menghela nafas, kecewa. Yah, ternyata Rendra bukan seorang penganut bendera pelangi.
"Terus kalau bukan itu, kamu mau bilang apa?"
Dengan penuh keyakinan Rendra menatapku, dia menarik nafas dalam, lalu mulai berbicara. Aku harap dia benar-benar menyelesaikan kalimatnya kali ini agar aku tahu dia kenapa.
"Sebenarnya--"
"Iya?"
"Aku--"
"Iya, kenapa?"
"Sebenarnya--"
"Iya, kenapa? Hhhh!"
"Aku--"
"Ih cepetan dong, daritadi cuma sebenarnya aku, sebenarnya aku. Iya sebenarnya kamu kenapa?! Kamu hamil?"
"Jangan ngaco, Nadine. Mana mungkin laki-laki hamil!"
"Ya makanya cepetan kamu bilang kamu kenapa. Jangan bikin penasaran dong! Hih!"
"Oke, oke."
"CEPET!"
Rendra menatapku, dia menarik nafas dalam, lalu mengatakan apa yang ingin dia katakan dalam satu tarikan nafas dengan cepat.
"Sebenarnya aku sudah menikah. Kamu itu istri keduaku."
DEG!
"WHAT?!!!"
Rendra sudah menikah?!!!
$$$$$
KAMU SEDANG MEMBACA
Soulemetry
RomanceNadine tidak pernah berpikir kalau akan menjadi istri kedua. Menikah dengan laki-laki saja tidak pernah terpikirkan olehnya, apalagi memikirkan tentang menjadi istri kedua. Nadine tidak pernah bersungguh-sungguh mencintai suaminya, karena dia menik...
