18. Adegan Mesra

9.3K 793 106
                                        

Setelah keluar dari ruang seni--ruangan untuk menato pelanggan--aku menghampiri Allen yang sedang duduk di sofa ruang tunggu. Sissy yang juga baru saja melayani pelanggan ikut bergabung dengan kami.

Hari ini sudah ada enam pelanggan yang menato tubuhnya. Dua diantaranya adalah perempuan.

Di tempat ini, aku membebaskan pelanggan untuk memilih sendiri tato artisnya. Jika tidak ingin memilih--sesuai kesepakatan--kami harus berbagi pelanggan. Jika aku dan Sissy sudah melayani dua pelanggan, berarti kalau ada pelanggan yang datang lagi adalah tanggung jawab Allen.

Kebanyakan sih kalau perempuan mereka akan memilih Sissy sebagai tato artis mereka. Karena selain penampilan Sissy yang sangat nyentrik, dia juga memiliki pesona yang sangat kuat. Intinya, perempuan yang pada dasarnya memang menyukai kaumnya sendiri, pasti radar mereka akan menyala dan secara otomatis memilih Sissy.

Kalau perempuan yang 'normal' pasti akan memilih aku atau Allen. Radar gayish-ku mungkin tidak sekuat Sissy. Entahlah.

"Gue perhatiin dari pagi lo senyum-senyum mulu deh. Kenapa sih, Nad?"

"Paling habis dicium sama istri pertama Rendra, Len."

"Ngaco bener kalau ngomong lo, Sis!"

Majalah yang ada di atas meja terpaksa harus aku lempar ketika mendengar perkataan Sissy. Perempuan berkepala plontos itu memang kalau bicara suka seenaknya sendiri.

"Terus kenapa lo seneng?"

"Hari ini Rendra sama istri pertamanya berangkat ke India."

"Lo nggak diajak?"

"Ngapain? Diajakpun gue ogah. Nanti yang ada pulang-pulang gue hamil."

"Loh itu bukannya yang diinginkan Rendra, Nad?"

Hmmh, aku hanya menghela nafas. Kok ya kedua temanku ini tidak sebahagia aku ketika mendengar jika Rendra akan pergi ke India, sih.

"Ya emang. Tapi 'kan itu bukan keinginan gue. Gue masih belum siap punya momongan. Masak aja gue belum jago, apalagi disuruh ganti popok."

Sialnya, kedua temanku malah tertawa mendengar jawabanku. Memang mereka ini suka banget melihat aku menderita.

"Terus usaha lo buat mencintai Rendra gimana?"

Aku hanya bisa menghela nafas, "Sudah lima bulan gue coba buat mencintai Rendra, tapi hasilnya nihil, Len. Nyatanya ke-tidak-normal-an gue masih mendominasi."

"Terus lo mau berhenti? Nggak pengen nyoba lagi?"

Satu-satunya manusia yang masih bisa berpikiran normal hanyalah Allen. Dia selalu mendukung dan memberikan masukannya untuk aku agar bisa mencintai Rendra.

"Gue capek, Len. Gue capek berpura-pura. Pasrah deh gue, biar waktu yang menjawab."

"Yaudah nggakpapa. Kalau lo butuh saran, lo tahu 'kan ada gue yang selalu siap ngasih saran?"

Aku mengangguk. Melihat Allen tersenyum, aku jadi ikut tersenyum.

"Orang dari lahir emang orientasi seksualnya suka sama kaum Hawa kok lo paksain buat suka sama kaum Adam. Mau sampai hujan uangpun, kalau Nadine bukan biseksual ya susah cinta sama Rendra. Orang Nadine dyke lo suruh cinta sama penis. Kocak lo, Len."

Dan sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Pertempuran antara Chef Juna dengan pemeran Jani dalam film Radit & Jani lah yang terjadi.

Aku tidak akan melerai pertikaian mereka, karena aku suka melihat mereka adu mulut. Sissy tidak pernah mau mengalah, apalagi Allen. Karena bagi Allen mengalah dengan Sissy adalah kesalahan besar. Bagi Allen, Sissy itu bukan perempuan melainkan laki-laki.

SoulemetryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang