8. Trial

7.5K 812 60
                                        

-Nadine Sudut Pandang-

Pagi itu, aku terpaksa membuka mata karena merasakan hawa dingin yang merasuki tulang-tulangku. Mataku mengerjap, melihat ke sekeliling kamar. Oh, ini bukan kamarku.

Meski sudah satu minggu aku tinggal disini tetapi aku masih saja suka lupa. Setiap pagi aku selalu berharap bangun di kamar apartemenku yang berantakan itu. Ah, aku merindukan kamarku.

Hah, aku masih tidak percaya akan tinggal satu rumah dengan Rendra, dan juga istri pertamanya.

Ohiya, sampai lupa ... dengan anak perempuan mereka juga.

Hmmmh. Ternyata begini rasanya tertipu dua kali.

Bila dijabarkan: pertama, aku tertipu tentang status Rendra. Aku pikir om-om yang satu itu benar-benar lajang. Ternyata sudah punya istri.

Kedua, aku tertipu tentang anak Rendra. Pria itu pernah bilang kalau istri pertamanya tidak bisa memberikan momongan, tapi dua hari yang lalu, jelas-jelas aku melihat anak perempuan Rendra.

Rasanya aku sangat ingin mengugat cerai Rendra. Tapi aku baru menikah selama satu minggu, masa sudah minta cerai? Apa yang akan dikatakan oleh Mama dan Papa? Terlebih Papa dan Mama sudah mengijinkan Rendra membawa aku kembali ke kediaman suamiku.

Hhhh, boleh tidak sih kalau aku menginginkan waktu ini diputar kembali ke awal pertemuanku dengan direktur utama yang terlihat lajang namun sesungguhnya sudah tidak lajang itu?

Boleh tidak sih kalau aku menikahi perempuan saja? Atau kalau tidak bisa menikah, paling tidak aku bisa hidup dengan aman dan nyaman bersama dengan pasanganku. Daripada aku harus hidup bersama dengan keluarga kecil Rendra.

Kenapa sih aku harus hidup ditengah-tengah masyarakat yang tidak bisa menerima ke-tidak-normal-an-ku?

Huh, sungguh merepotkan!

$$

Selesai mencuci muka dan gosok gigi, aku turun ke bawah karena merasa lapar. Aku hanya berharap--saat ini--di meja makan sudah penuh dengan makanan.

Pagi ini rumah terlihat sepi. Sepertinya semua orang sudah menjalani aktifitasnya masing-masing seperti biasa.

Duh, sepertinya hanya aku yang bangunnya tidak pernah pagi. Yaiyalah, aku bangun selalu jam delapan. Itu sih masih mending. Biasanya dulu waktu di apartemen atau di rumah orang tuaku, aku bangun diatas jam sembilan pagi. Tidak pernah jam delapan pagi ataupun jam delapan kurang.

Aku memang bukan si morning person, sih. Aku tidak suka bangun pagi, tidak suka olahraga pagi, dan juga tidak suka mandi pagi--mandi pagi kalau kepepet saja. Sst, jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia.

Makanya sewaktu aku pamit dengan Mama untuk tinggal dengan Rendra, Mama memberikan wejangannya agar aku lebih bisa bangun pagi dan lebih rajin lagi, karena aku sudah menjadi istri orang.

Tapi sepertinya wejangan dari Mama itu hanya masuk ke telinga kanan dan keluar dengan rapi lewat telinga kiri.

Ketika aku ke ruang makan, aku mendapati anak perempuan Rendra yang sedang duduk dengan mata yang terfokus ke layar Macbook-nya. Sepertinya dia sedang mengerjakan tugas atau hanya sekedar browsing-browsing.

Pagi-pagi begini, perempuan manis berambut lurus berwarna dark brown itu sudah terlihat rapi, berbeda denganku yang masih memakai baju tidur.

Sekilas perempuan manis itu terlihat seperti Pevita Pearce, hanya bedanya, kalau Pevita itu ada rasa 'bule'nya. Sedangkan anak perempuan Rendra lebih terasa 'indonesia'nya. Wajahnya manis, tidak membosankan, dan sangat Indonesia.

Ketika aku berjalan kearah kulkas, secara sekilas perempuan itu melirik kearahku. Setelah mengambil susu dan roti yang ada di dalam kulkas, aku membawanya ke meja makan. Sayangnya, di meja makan tidak ada sarapan. Jadi, terpaksa aku harus membuat sarapanku sendiri.

"Hai, selamat pagi. Ayah dan Bunda kamu sudah pergi?"

Sambil menuangkan susu ke dalam gelas, aku mengajak bicara perempuan berparas manis yang terlihat angkuh. Ekspresinya datar ketika menatapku.

Sebenarnya, aku sudah tahu kalau Rendra dan istri pertamanya sudah pergi, karena tidak terlihat batang hidungnya di rumah ini. Hanya saja aku ingin berbasa-basi.

Tapi rupanya, perempuan di hadapanku ini tidak berminat untuk menanggapi pertanyaanku. Dia kembali sibuk dengan pekerjaannya. Aku hanya bisa mengangguk-anggukan kepala, dan melanjutkan aktifitasku mengoleskan selai kacang ke atas selembar roti gandum.

Padahal niatku baik, aku hanya ingin bersikap bersahabat. Tapi rupanya perempuan muda ini tidak tertarik bersahabat denganku.

"Ngomong-ngomong, umur kamu berapa sih?"

Sembari memakan roti, aku kembali mencoba bersikap baik. Dari kemarin aku memang penasaran dengan usia anak perempuan Rendra yang satu ini. Aku tahu kalau menanyakan umur itu tidak sopan, tapi sungguh, aku penasaran.

Lagi-lagi, perempuan itu hanya melirikku sekilas, dia kembali mengabaikan aku, seperti tidak menganggap aku ini ada di hadapannya. Dia tetap sibuk dengan Macbook-nya.

Cantik sih cantik, tapi sombong.

Manis sih manis, tapi sombong.

"Oke, kalau kamu tidak ingin berbicara denganku."

Mungkin risih dengan kehadiranku, setelah menghabiskan minuman paginya, perempuan itu beranjak dari duduknya. Dia mendekati wastafel, menaruh gelasnya di sana, lalu kembali ke meja makan untuk mengambil Macbook-nya.

Setelah itu dia pergi begitu saja dari hadapanku, tanpa ada sedikitpun niatan untuk pamit atau melirik kearahku.

Dasar sombong!

Melihat sikapnya, aku hanya bisa menyalurkan kekesalanku pada roti yang aku kunyah. Yasudah sih kalau tidak mau berteman denganku. Aku juga tidak akan memaksa. Dasar anak jaman sekarang. Sombong, dan angkuh.

$$$$$

SoulemetryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang